Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Scroll to Top

Palontaraq

Bertindak Lokal Berpikir Global

Ilustrasi – Monumen Kawali (Besi Luwu) dengan motto, “Toddopuli Temmalara.” (foto: ist/palontaraq) Oleh: La Oddang Tosessungriu PALONTARAQ.ID – “Naiyya bessiE, engka Puengna, engkato parolana, naEkiya ulempulengngE, polEi ri langi’E appongengna, toto madEcEng natiwi”. Artinya: Sesungguhnya besi itu, memiliki pertuanan, serta ada pula pengikutnya,...

Rumah Adat Kedatuan Luwu di Palopo. (foto: ist/palontaraq) Oleh: La Oddang Tosessungriu PALONTARAQ.ID – Salah seorang murid To Ciung To Tongeng MaccaE ri Luwu yang taraf kecendekiaannya hampir menyamai gurunya tersebut adalah La Pagala NEnE Mallomo, negarawan Kerajaan Sidenreng yang hidup dalam paruh pertama abad XVI. NEnE Mallomo yang adalah ahli hukum tata negara...

Istana Kedatuan Luwu. (foto: ist/palontaraq) Oleh: La Oddang Tosessungriu PALONTARAQ.ID – Bahwa kata “To” adalah berarti “orang” bagi segenap suku di Sulawesi Selatan. Jauh diujung selatan, yakni Selayar hingga Tanjung Bira, Ara sampai Kajang, penutur bahasa “konjo” tatkala menyebut “To”, maka itu berarti “orang”. Terkhusus pada keyakinan dan...

Istana Kedatuan Luwu (foto: ist/palontaraq) Oleh: Aswar Hasan, Akademisi UNHAS Saya sungguh terkejut sekaligus terharu mendengar ungkapan yang begitu indah, terlontar dari pidato sambutan Bupati Luwu, Basmin Mattayang pada acara Wisuda Sarjana Universitas Andi Djemma (Unanda) di Gedung Saodenrae, Palopo, Sabtu, 4 Mei 2019. Bupati Basmin Mattayang menyatakan, bahwa orang...

Bissu Show. (foto: mfaridwm/palontaraq) By: M. Farid W Makkulau BEFORE attempting to understand the mysteries of the ‘Bissu Dewatae’ Community, one must have some understanding of who and what they are. Their sphere of influence deals with the spiritual but outside the teachings of Islam. They are preservers of the ‘Old ways’ practiced by the people prior to the...

To Balo, Manusia Belang Di Pedalaman Barru (foto: makassarguide.com) Oleh: M. Farid W Makkulau, Pemerhati Budaya Sulsel SECARA harfiah, Dalam Bahasa Makassar, To Balo berarti “manusia belang”, to artinya orang dan balo artinya belang. Sebutan ini diperuntukkan bagi komunitas tradisional yang bermukim di sekitar pegunungan Bulu Pao yang terbentang luas melintasi...

Sureq Galigo. (foto: ist)   Penulis: La Oddang Tosessungriu, Opu Matoa Cenrana Kedatuan Luwu   INILAH  sekilas geliat hidup mereka, para Anak Bangsa ini yang kupersebutkan baginya, jika sekiranya sebutan “bangsawan” terkesan menjauhkan dirinya dari ridha Tuhannya. Kututurkan dengan santun, baginya yang mencintai Allah SWT, melebihi atas segala atribut duniawi,...

Pangulu Kulu-kulu (foto: dok.pribadi La Oddang Tosessungriu) Oleh: La Oddang Tosessungriu Hari ini Jum’at, 8 Maret 2019, saya menerima telpon dari Junjunganku Opu TopapoataE Datu Luwu XL dari Jakarta. Sejak beberapa lama ini barusan saya bangun pagi dan terberkati dengan sapaan ramah junjunganku, meski tidak bertemu muka. Seketika ini teringat perihal philosofi “kulu-kulu”,...

Sureq Galigo. (foto: ist) Oleh: La Oddang Tosessungriu Bahasa, tatkala melampaui fungsinya sebagai media komunikasi, ia menampakkan wujud manusia pada tataran martabat yang sesungguhnya, yakni: Makhluk berperadaban. Sastra, demikian kita menyebut pencapaian maqom bahasa itu, ibarat tenunan kain bermotif yang memadukan keselarasan aneka warna, jika dibandingkan dengan tenunan...

Penulis di depan pintu gerbang kawasan dat Tana Toa Kajang, Bulukumba. (foto: ist/palontaraq) Laporan:  M. Farid W Makkulau PALONTARAQ.ID, BULUKUMBA – Tertarik ingin traveling atau berwisata ke Tana Toa Kajang? Kawasan Ammatoa merupakan kawasan tradisional yang masih memelihara keaslian adat Etnik Kajang dan lingkungannya, terletak sekitar 58 kilometer dari Tanjung...