Tau Ugi’

Oleh: La Oddang Tosessungriu

Related Post:  Menyoal Nama dalam Budaya Bugis makassar

PALONTARAQ.ID – Anak-anakku para Mahasiswa (i) jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Semester l, Universitas Muhammadiyah Parepare TA 2019-2020.

Hari ini adalah kuliah penutup dari seluruh rangkaian diskusi kita tentang “The Bugis”, sejak Oktober kemarin. Saya bangga dan merasa terberkati bersama kalian.

Saya tak mengajari kalian hal apapun. Bahkan sayapun tak mendidik kalian. Kehadiranku ditengah kalian adalah untuk menunjukkan padamu: Apa dan Siapa Bugis itu?

Jika pertanyaan ini adalah soal final kalian, jawabannya adalah: Bugis adalah KITA dan KITA adalah Bugis, anak-anakku.

Kelak jika engkau tumbuh sebagai pohon besar yang menaungi dan menghijaukan tanah negeri ini, ingatlah: jenismu adalah Bugis, meski engkau tumbuh jauh diseberang Pulau Celebes ini.

Tak peduli engkau berbahasa apa, engkau jua adalah Bugis. Jika bahasamu adalah rumpun Makassar, engkaulah Bugis Makassar. Andai bahasa tuturmu adalah Enrekang, engkaulah Bugis Enrekang.

Bahkan jikalau bahasa ibumu adalah Mandar, engkau Bugis Mandar. Termasuk andai engkau berbahasa Toraja, engkau adalah Bugis Toraja.

I Pajonga Daeng NgallE KaraEng PolongbangkEng menyatakan itu pada Presiden Soekarno. Puang Andi SosE juga mengatakan demikian pada Jend. Gatot Soebroto.

Puang Ibu Agung Andi DEpu juga bilang begitu. Termasuk Puang Andi Lolo menyebut begitu dengan tegas tatkala menjadi BKDH Tana Toraja.

Lalu siapakah masyarakat penghuni TellumpoccoE, Ajatappareng dan sekitarnya. Jikalau ia di Bone, merekalah Bugis Bone. Mereka adalah Bugis Wajo, Bugis Soppeng, Bugis Sidenreng, Bugis Sawitto, Bugis Barru dan lainnya.

Sesungguhnya Bugis ini adalah sebutan “pElo” orang-orang Portugis yang susah menyebut dengan benar : sempugi. Kerajaan-kerajaan besar di Pulau Celebes ini telah kawin mawin satu sama lain, sehingga anak turunan mereka berhubungan kerabat satu sama lain.

Kemudian kawasan luas yang berkerabat itu disebutnya “Tana Assempugireng”, berasal dari kata “Sempugi”, Artinya: satu ari-ari.

Pembauran ini berlangsung pertama kali sejak periode jaman I La Galigo, terekam manuskrip sebagai Kronik Sejarah pada Periode Lontaraq, berkembang pesat pada masa syiar Islam (awal Abad XVII) hingga mencapai puncaknya pada paruh ke-3 Abad XVII pasca Perang Makassar.

Lihatlah, anak-anakku. Politik De Vide Et Empera yang dilancarkan Imperialis Belanda masih mengkungkung kita sampai pada hari ini.

Pax Nederlandica itu menebar hasil penelitian yang amat “meyakinkan” namun menyesatkan, bahwa Zuid Celebes ini dihuni oleh 4 Etnis besar, yaitu ; Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar.

Tak lain tujuannya agar kawasan kekerabatan besar ini terpecah sebagai suku-suku berbeda, agar mudah dikuasai.

Na’asnya, pemecahan ethnic itu “diamini” oleh para Anthropolog bangsa ini, bahkan hingga hari ini sebagai main course.

Jadilah kalian, turunan kekerabatan besar masa lalu, kini menjadi Orang-orang dari suku yang berbeda-beda.

Ketahuilah, anak-anakku. Landasan philosofi peradaban Bugis ini berpijak pada memahami esensi TAU (manusia).

Orang Luwu, Toraja, Mamasa, Mandar, Bone, Soppeng, Wajo, Sidenreng, Gowa, Takalar serta semuanya, menyebut “manusia” sebagai “tau”.

Jadilah mereka dulunya diidentitaskan dari negeri mana mereka berasal, misalnya : To Luwu, To Riaja (Toraja), To EndEkang, To Duri, To BonE, To Wajo, To SoppEng, To Gowa. To SidEnrEng, To Menre’ Balanipa, To Berru, To Takalara, To BantaEng dan lainnya.

Tidak ada “suku”, yang ada adalah “massadda-sadda pau” (dialek). Buktinya, tak satupun bahasa yang sekian banyak disebut di Sulawesi Selatan dan Barat ini yang menyebut “Suku”.

“Apakah bahasa daerahnya “suku”?” – tanya salah seorang kalian. Saya tak tahu, Nak! Memang tak ada konteks “Suku” di Negeri Celebes kita. Ada kemiripan dengan istilah “anang”, tapi itupun lebih merujuk ke pengertian “kaum”.

Bahwa “tau” dipersepsikan sama dari seluruh masyarakat Sulawesi Selatan dan Barat. Meski berbeda dialek.

Semuanya memandang, perbedaan “tau” (manusia) dengan “olokolo'” (hewan), terletak pada sumber nilai bernama SIRI’ (martabat rasa malu).

Semuanya menyebut demikian, dari ujung Tana Luwu, Toraja, EnrEkang, Mandar, Sidenreng, Sawitto, Gowa dan seluruhnya.

Tak satupun yang menyebut lain dan memaknainya persis sama, yaitu : rasa malu yang menjadi simbol ketinggian martabat kemanusiaan.

Anak-anakku. Sungguh tak ada yang kuajarkan pada kalian. Saya hanya menggugahmu untuk mengenali biji dari mana kita berasal. Bahwa Bugis bukanlah suku (tribal), melainkan bangsa (people).

Inilah bangsa yang ramah, sehingga senantiasa memandang siapapun dihadapannya dengan “baik sangka”, sehingga mempersepsikannya sebagai bagian dari dirinya (kita).

Dengarkan dengan seksama, gaya bahasa orang Luwu, Toraja, Mandar, Makassar, Bone, Soppeng, Wajo dan semuanya, ketika “berbahasa Indonesia”, gaya bahasanya PERSIS SAMA dan lucunya sama.

Semuanya menyebut “kita” sebagai pengganti “kamu, kalian, kami dan saya”. Pertanda keberagaman tanda bunyi dan sebutan bagi semuanya tak lain adalah dialek berbeda dari satu rumpun keluarga besar bernama BUGIS atau apapun yang hendak dipersebutkan baginya, tak menjadi masalah..

Tumbuhlah menjadi pohon yang besar, tinggi, rimbun dengan akar yang terpancang kuat pada tanah negeri ini, untuk menjaga budaya dan tanah air pusaka kita.

Jangan biarkan jati diri bangsa yang agung ini dipecah sebagai pohon kecil yang menyerupai semak perdu belaka.

Salama’ki Tapada Salamaq'(*)

 

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT