Timbang Rasa

-

- Advertisment -

Silakan timbang rasa dengan siapa kita bersama. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Silakan timbang rasa dengan siapa kita bersama, dan tentang siapa yang dicerita? (foto: mfaridwm/palontaraq)

Oleh: La Oddang Tosessungriu

Tulisan sebelumnya: Tau Ugi

PALONTARAQ.ID – “Taissengmuaga riyasengngE assilEwangeng pEnedding, ana’ ?” (tahukah anda yang dimaksud timbang rasa, nak ?”), tanya ayahku ketika itu. “DE’ uwissengngi, Etta Ambo'” (aku tidak tahu, ayahanda).

“Pinra linoE, teppinra assilEwangeng pEneddingngE. TassullE wettuE, tettassullE assilEwangeng pEneddingngE. Naiyya pEneddingngE taniai waju lipa’, naEkia simulajajingnai tauwE”

“Dunia bisa berubah, namun timbang rasa takkan berubah. Waktu dapat berganti, namun timbang rasa takkan terganti. Sesungguhnya perasaan bukannya baju atau sarung, namun ialah yang terlahir bersamaan dengan manusia,” ujarnya.

Orang lain adalah cerminan diri kita. Meski selera dan pandangan dapat saja berbeda, namun dalam hal fitrah azalinya, tetap saja sama. Suka atau tidak suka, seperti itulah adanya.

Dapatkah anda menghargai orang yang merendahkanmu ?. Demikian pula halnya orang lain, takkan mungkin menghargaimu jika anda merendahkannya.

Sebagaimanapun tingginya derajat darah kebangsawanan anda yang sesungguhnya dan orang-pun tahu itu, tapi tiada siapapun yang menghargainya jika anda tak memiliki “timbangan rasa hormat” pada orang lain.

Bisakah anda memaafkan orang lain ?. Jika tidak, jangan pula mengharap dimaafkan orang lain. Jadilah anda sebagai orang yang tak pernah, tak mungkin dan tak boleh salah.

Apakah anda dapat memaklumi orang yang tidak jujur pada anda ?. Berarti pahamlah anda, bahwa manusia adalah ladang khilaf, termasuk anda sendiri. Manusia bukanlah mahluk sempurna, termasuk diri kita, lalu kenapa tidak dapat memaklumi kekurangan orang lain ?. Masalahnya, kita menuntut orang lain untuk jujur, sementara kita-pun tidak selalu jujur. Kejujuran memang keluhuran yang dikagumi, meski kita belum tentu dapat selalu jujur.

Kita mempelajari kebenaran hingga berbab-bab buku philsafat, tapi tidak ada yang benar jika tidak menyangkut kepentingan diri kita.

Orang yang kita ketahui keculasannya, lebih dipercayai asalkan ia bersedia menjilat sepatu kita. Sementara seseorang lainnya anda jauhi karena ia menunjukkan kekhilafanmu, agar anda tak mengulangi kesalahan yang sama.

Seseorang yang santun membungkukkan tubuh seraya mengulurkan tangan kanannya memohon “tabE'” ketika berjalan dihadapan anda. Hatipun senang karena terasa bahwa kita-pun masih dihormati. Tapi kenapa kita “enggan” bersikap santun seperti itu?

Masalahnya karena kita telah merasa “mulia”, sehingga sudah semestinya orang memuliakan kita. Mereka yang bersikap merendahkan diri dihadapan kita, memang adalah “bawahan” kita.

Tak pernah terbersit dalam timbangan rasa kita, bahwa orang yang bersikap “santun” itu adalah “penyantun” yang kaya raya oleh kemuliaan (alebbireng). Ia menyantuni kita dari harta perbendaharaan kehormatannya yang tak terbatas.

Ibarat seorang multi milyuner yang bagi-bagi amplof berisi 1 juta rupiah pada seluruh orang se-pasar sentral, takkan bangkrut. Namun anehnya, kita yang ikut kebagian amplofnya merasa lebih kaya darinya.

Seekor harimau perkasa tersenyum ramah pada seekor kucing. Namun kucing itu membungkukkan punggungnya dengan bulu merinding, seraya menggeram memperlihatkan gigi taringnya yang mungil-mungil itu.

Harimau itu tak peduli lalu melenggang pergi. Kita yang menyaksikannya, kagum pada keberanian kucing, lalu mencibir pada harimau yang dianggap besar tapi pengecut itu.

Padahal, harimau itu “tersenyum” menyapa dengan ramah karena memandang seekor kucing kecil bukanlah ancaman. Haqqul Yaqin, ia paham itu. Lagi pula ia tidak lapar, sehingga berlalu meninggalkan kucing yang sibuk sendiri memasang wajah angker karena terteror oleh rasa cemasnya sendiri.

Sesungguhnya, timbang rasa itu sederhana. Karena timbang rasa inilah sehingga kita disebut “tau” (manusia), pada akhirnya memungkinkan kita “saling memanusiakan” (sipakatau) antar sesama manusia. Timbang rasa ini selalu adil, sekiranya kita cermat menilainya dengan jujur.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you