Scroll to Top

Palontaraq

Bertindak Lokal Berpikir Global

Angngaru’. (foto: ist/palontaraq) Oleh: M. Farid W Makkulau Tulisan sebelumnya: Janji dan Sumpah Setia Mengangkat Raja PALONTARAQ.ID – PADA Setiap perayaan hari jadi suatu kabupaten di Sulawesi Selatan (Sulsel), selalu saja “Aru” atau prosesi “Angngaru” ditempatkan sebagai bagian tak terpisahkan dari upacara penyambutan tamu, entah itu...

Kantor Kelurahan Tamalanrea. (foto: ist/palontaraq) Oleh: M. Farid W Makkulau Tulisan sebelumnya:  Lirik dan Arti Lagu Makassar “Naloko Nakku” PALONTARAQ.ID – Banyak sekali tempat atau daerah yang disebut dengan penamaan lokal berdasar Bahasa asli dan kearifan lokal masyarakat setempat. Sebut saja di Kota Makassar, dan kabupaten lain di sekitarnya. Pun...

Penulis menuju Pulau-pulau Liukang Tupabbiring. (foto: ist/palontaraq) Oleh: M. Farid W Makkulau PALONTARAQ.ID – Fenomena kebahasaan masyarakat pulau (Makassar: To Pulo) di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, menarik untuk ditelusuri dan dikaji sebagai salah satu upaya memahami lebih mendalam sejarah pulau, profil, karakter dan kecenderungan masyarakat pada masing-masing...

Sureq Galigo. (foto: ist) Oleh: Ashari Thamrin Tulisan sebelumnya:  Awal Peradaban dan Kerajaan Luwu – Tinjauan Linguistik Diakronik (5) TAMPOTIKKA Satu lagi kerajaan yang menjadi perdebatan panjang dari Epos La Galigo adalah toponim (letak) kerajaan Tompotikka. Sejarawan dan budayawan Internasional, nasional, dan lokal Bugis Makassar lebih sepakat kalau Tompotikka...

Sureq Galigo. (foto: ist/palontaraq) Oleh: Ashari Thamrin Tulisan sebelumnya: Awal Peradaban dan Kerajaan Luwu – Tinjauan Linguistik Diakronik (2) SUKU DAN BAHASA Pelras dalam The Bugis, Catatan Kaki No. 9 di halaman 124 mengatakan: “Sebenarnya, pada mulanya, kerajaanLuwu’ bukan kerajaan Bugis, melainkan kerajaan multi-etnis, yang lama kelamaan, sebagai...

Sureq Galigo. (foto: ist/palontaraq) Oleh: Ashari Thamrin Tulisan sebelumnya: Awal Peradaban dan Kerajaan Luwu – Tinjauan Linguistik Diakronik (4) TERBENTUKNYA KERAJAAN LUWU Kembali ke reuni keluarga. Telah disebutkan bahwa perkawinan Batara Guru (La Toge’Langi’) dengan We Nyili’ Timo dianggap sebagai lambang reunifikasi (penyatuan kembali) dua...

Sureq Galigo. (foto: ist/palontaraq) Oleh: Ashari Thamrin Tulisan sebelumnya: Awal Peradaban dan Kerajaan Luwu – Tinjauan Linguistik Diakronik (3) SEJARAH PENEMUAN BESI Fenomena kebahasaan (Linguistik) di bekas Kerajaan Luwu ini, menguatkan keyakinan bahwa pada masa lalu, sesungguhnya ada dua peradaban besar yang saling bertanding sekaligus bersanding memperebutkan...

Sureq Galigo. (foto: ist/palontaraq) Oleh: Ashari Thamrin Tulisan sebelumnya: Awal Peradaban dan Kerajaan Luwu – Tinjauan Linguistik Diakronik (1) PERIODISASI KERAJAAN Kutipan dari Abidin pada bagian Pendahuluan di atas menempatkan tarikh Kerajaan Luwu berada pada abad ke 10 hingga ke-14Masehi. Sementara keterangan-keterangan dalam Epos I La Galigo yang berceritera...

Ilustrated by: mfaridwm/palontaraq) Oleh: La Oddang Tosessungriu Related Post:  Tentang “Akkape” dan “Akkio Sumanga” PALONTARAQ.ID – Berbincang dengan para Cenrana Luwu, selalu menambah pengetahuan dan memperluas cakrawala pandangan terhadap khazanah kekayaan budaya di Sulawesi Selatan. Antara lain mereka adalah para adinda, yakni: Pong...

Sureq Galigo. (foto: ist/palontaraq) Oleh: Ashari Thamrin Related Post: Falsafah Luwu yang Hilang ABSTRAK Dari sumber sejarah, tinjauan kebahasaan, dan Epos Lagaligo, diketahui bahwa Peradaban Luwu muncul dari Salu Pongko yakni di Wilayah Wotu antara 3.000 hingga 2.000 tahun silam. Diduga, Wotu dahulu kala pernah didiami suku tertua yang bernamaTo Pongko, namun...