Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Scroll to Top

Palontaraq

Bertindak Lokal Berpikir Global

Selamat Datang Ramadan (foto: ist*/palontaraq) Oleh: M. Farid W Makkulau Suatu kesyukuran dapat berjumpa dan menjumpai lagi Bulan Suci Ramadan. Kesyukuran yang harus diaplikasikan, bukan hanya dengan meningkatkan dan mempertebal keimanan serta memperbanyak amaliah kebaikan, tetapi juga dengan kembali merajut tali silaturrahim dengan keluarga, teman, sahabat, dan handai...

Kompleks Makam Arung Matoa Wajo La Mungkace To Uddamang. (foto: ist/palontaraq) Oleh: M. Farid W Makkulau KABUPATEN  Wajo adalah salah satu kabupaten dalam lingkup wilayah Propinsi Sulawesi Selatan. Di sekitar tahun 1450 di daerah ini pernah berdiri sebuah kerajaan yang dinamai Kerajaan Wajo sebagai kelanjutan dari Dinasti Cinnatobi, rajanya disebut Arung Matowa Wajo...

sumber foto: pijarnews   By:  Etta Adil AUTHOR has been to Wajo, several times. Get to know many Wajo people, even worked together and led by Wajo People. Therefore, the authors are familiar with the social and cultural character of To Wajo (peoples of Wajo). Compared to other Bugis ethnic groups in South Sulawesi, To Wajo has its own outstanding characteristics,...

Desa Tompobulu, Desa Pegunungan Balocci di Kaki Bulusaraung. (foto: ist/ettaadil) Laporan:  M. Farid W Makkulau Di Tompobulu, sebuah desa pegunungan Kecamatan Balocci Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan selama 10 terakhir mengeksplorasi kearifan lokal masyarakatnya menjadi sebuah Peraturan Desa (Perdes) yang harus diikuti dan ditaati oleh penduduk setempat. Desa pegunungan...

Ritual Tunu Panroli Suku Kajang. (foto: ammatoa.com) Oleh: M. Farid W Makkulau MASYARAKAT  Kajang adalah masyarakat adat yang terletak sekitar 56 km dari Kota Bulukumba, salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Warga Kajang mudah dikenali dari pakaiannya yang serba hitam hitam. Dalam kesehariannya mereka dipimpin oleh pemimpin komunitas yang dipanggil dengan sebutan...

Nene’ Mallomo. (foto: ettaadil/ist) Oleh:  Etta Adil DALAM Kepustakaan Bugis, untuk terwujudnya permerintahan yang baik, seorang pemimpin dituntut memiliki 4 kualitas pribadi, sebagaimana banyak diungkap dalam Lontaraq Bugis, yaitu Maccai na Malempu; Waraniwi na Magetteng (Cendekia lagi Jujur, Berani lagi Teguh dalam Pendirian.). Ungkapan ini bermakna bahwa kecerdasan...

Nene’ Ciong. (foto: mfaridwm) Laporan:  M. Farid W Makkulau NENE’ Ciong memanglah telah tiada, namun sangat berkesan bagi penulis tentang bahasa dan kearifan lokal yang pernah dituturkannya. Beliau orang yang mengajari penulis pertamakali main kecapi (kacaping). Entah bagaimana awalnya lelaki paruh baya ini dipanggil Nene’ Ciong, penulis tidak tahu....

Ir. Mukhtar Ali dan BKI yang dipimpinnya merujuk kepada kepemimpinan berbasis kearifan lokal. (foto : doc.humasbki) Oleh: Etta Adil DALAM Budaya Bugis, banyak sekali kita dapati anjuran untuk memahami dan mempraktekkan Akkatenningeng, prinsip dasar hidup personal sebagai pegangan sosial (bermasyarakat) termasuk pranata pertahanan diri, Siri’ (malu atau harga diri). Keindahan...