Saromase

-

- Advertisment -

Menanti kedatangan Rombongan Pengantin dalam Prosesi Perkawinan Adat Bugis (foto: mfaridwm/palontaraq)
Menanti kedatangan Rombongan Pengantin dalam Prosesi Perkawinan Adat Bugis-Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Oleh: La Oddang Tosessungriu

Tulisan sebelumnya: Timbang Rasa

PALONTARAQ.ID – Tulisan ini merupakan goresan Hikmah Jum’at berkah kepada anak-anakku.

“Engkatu bokong temmawari riyaseng saromasE, Ana'” (ada bekal yang takkan pernah menjadi basi, yakni budi, Ananda), ujar orang tua terdahulu.

Budi itu meliputi segala santunan dari seseorang ke orang lainnya, baik itu berwujud materi, tenaga, pikiran, sikap ramah dan bahkan niat baik yang belum sempat dicetuskan, semuanya terhitung sebagai “saromasE” dimata seorang Bugis.

“Mauni wai keccE’ sikacana pattoana saromasEdE, rEkkuwa purani diyinung, tempeddingni riwale’ jaa’ sipuppureng sunge'”

Artinya:

Meski hanyalah segelas air dingin yang dihidangkan seorang berbudi, jika telah diminum, pantang dibalas keburukan sepanjang hidup.

Bahwa tak diukur dari harga materi “saromasE” itu, melainkan diukur dari niat ikhlas pemberinya. Andaikan itu bahkan cuma segelas air putih, jika dibalas dengan keburukan, segelas air putih itu akan menjadi “kutukan”, sebagai racun yang menggerogoti kesehatan jasmani pada Orang-orang yang tak berbudi.

Keagungan seorang bangsawan dan raja pada masa lalu, tidak diukur dari seberapa besar kewenangan dan seluas apa wilayah pemerintahannya.

Mereka juga tidak diukur dari seberapa murni darah kebangsawanannya, terhitung dari trah “To Manurung” yang menjadi puncak silsilahnya.

Mereka pula tidak dipandang seberapa hebat dan gagah beraninya. Melainkan seberapa besar orang yang menerima curahan “saromasE” darinya.

Para bangsawan di Tana Toraja dari masa ke masa, tatkala wafatnya diadakan perhelatan pesta dengan ratusan ekor kerbau. Daging kerbau yang banyak itu bukannya dimasukkan ke liang batu bersama jazad yang dipestakan itu. Melainkan dimasak dan dimakan bersama seluruh keluarga besar yang ditinggalkan bersama segenap masyarakat sekitarnya.

Semakin tinggi derajat kebangsawanan orang yang meninggal itu, semakin tinggi taraf pesta kematian yang diselenggarakan baginya, semakin banyak kerbau yang dipotong untuk itu, semakin banyak pula orang yang memakannya.

Maknanya, semakin tinggi derajat seseorang, semakin BESAR manfaat “saromasE” yang ditimbulkannya, semakin banyak orang yang menerima manfaatnya.

Seakan roh para “puang” itu berkata : “aku telah meninggalkan kalian untuk selamanya, maka terimalah suguhan terakhirku”. Bahkan “kematian” seorang Raja dan Bangsawan menimbulkan “saromasE” bagi kehidupan yang terus berlangsung.

“Masuli’ mEmengtu abbatireng arungngE”

“Keturunan bangsawan itu memang mahal”, kata Ibunda kami suatu ketika.

Seorang bangsawan ketika dikandung, membayar persembahan “makkatenni sanro” (aqad dukun beranak) lebih mahal berkali lipat dari Orang-orang pada umumnya.

Ketika ia dilahirkan lalu di aqiqah, acara dan “isi amplof” yang disediakan untuk para guru juga lebih banyak. Hingga kemudian ketika dikhitan, lagi-lagi perhelatannya lebih besar dan memotong sapi atau kerbau yang lebih banyak.

Terlebih kemudian pada perhelatan pernikahannya, berbagai rangkaian prosesi diselenggarakan demi mendatangkan banyak orang menerima suguhan hidangan makan minum.

Semua itu tiada lain makna yang diembangnya, mencurahkan manfaat kepada banyak orang.

SaromasE para pemimpin dengan ragam ranah dan sebutannya, tak lain adalah: memberi. Ia memberikan keramahannya untuk menyenangkan hati siapapun dihadapannya, meski dengan seulas senyum.

Ketika Ia menawarkan sebungkus rokoknya, meski tinggal 2 batang ditengah meja dimana banyak orang berkumpul, sebagai simbol niatnya untuk menyuguhkan. Ia pula menyantuni sapaan hormat kepada siapapun sebagaimana mestinya, demi memenuhi wasiat turun temurun dari pendahulunya: “appasaroko, aja’ muapparogi” (menguntungkanlah, jangan merugikan).

SaromasE sebagai bekal yang takkan pernah basi, demikian ditegaskan para leluhur berlapis masa. Seorang tua yang dihormati dengan cinta dan kasih sayang para pengikutnya, mewariskan hormat, cinta dan kasih itu kepada anak turunannya. Ialah yang mewariskan “pengikut” secara alamiah.

Inilah yang diistilahkan : Topamanari MasE-MasE. Sementara orang yang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan pendek, menghianati “saromasE”, menjilat keatas dan menginjak kebawah, inilah yang kelak ketika matinya meninggalkan kesan ; natanengeng PANINI wija-wijanna (menanamkan “panini” untuk anak turunannya).

Panini sesungguhnya adalah sejenis tanaman obat yang umbinya dipercayai berkhasiat menangkal dan menjauhkan gangguan mahluk halus. Namun dalam hal ini, dimaknai sebagai mewariskan “cerita buruk” tentang prilakunya yang menjadikan anak turunannya tercemari olehnya.

Sesungguhnya “saromasE” adalah seni menjalani hidup yang mata airnya timbul dari ketulusan hati. Ia bukanlah saromasE jika disertai dengan pamrih. SaromasE takkan menimbulkan “ranggasEla” (kecewa) disebabkan ikhlas yang menjadi penggeraknya.

“EnrE’ki’mai ribola, tejjali tettappErE, banna masE-masE”, demikian itu gubahan syair tentangnya. Bahwa bagaimanapun kecilnya, masE-masE senantiasa derajatnya ditinggikan dalam kehidupan.

Anak-anakku. Inilah sekedar “kulit” tentang saromasE itu. Andai ia sebatang pohon yang mesti ditanam dalam sanubari, bagaimana merawatnya ?. Ingat dan camkan dengan baik, anak-anakku :

Jikalau anda tak mampu membalas air susu dengan air madu, setidaknya jangan membalasnya air tuba.

Jikalau anda tak mampu menjadi pemecah masalah, setidaknya jangan menjadi pencipta masalah.

Jikalau anda tak mampu menyambung silaturrahim, setidaknya jangan menjadi pemutus silaturrahim.

Jikalau tak ditakdirkan sebagai pengembala domba, setidaknya jangan menjadi pengadu domba.

Jikalau tak ditakdirkan menjadi pohon besar yang menaungi sebidang tanah kebun, setidaknya janganlah menjadi tumbuhan berduri disekitar pohon itu. Menjadi semak perdu-pun tak mengapa, setidaknya menjadi penghias taman yang menyejukkan mata.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you