Oleh: Heri Purwanto
PALONATARQ.ID – Dalam bahasa Jawa Baru, penyebutan bilangan 21, 22, 23, 24, 26, 27, 28, 29 adalah: sĕlikur, rolikur, tĕlu likur, patlikur, nĕm likur, pitu likur, wolu likur, sångå likur.
Ada yang menafsirkan kata “likur” adalah singkatan dari “linggih kursi”, karena pada usia tersebut rata-rata manusia memiliki pekerjaan (kedudukan). Kemudian bilangan untuk 25 diberi istilah khusus : sĕlawe, yang ditafsirkan sebagai singkatan “sĕnĕng-sĕnĕnge lanang wedok” (senang-senangnya lelaki & perempuan).
Kalau untuk keperluan filosofi, uraian di atas bolehlah digunakan. Tapi kalau untuk bahasan sejarah, maka itu hanyalah cocoklogi belaka. Kelihatannya cocok, tapi tidak logis.
Menelusuri sejarah kata “likur” tidak bisa dengan main cocok-cocokan saja, tapi harus ditelusuri penulisannya dalam naskah kuno.
Dalam bahasa Jawa Baru, penyebutan “likur” menjadi standar baku. Misalnya, angka 27 pasti disebut “pitu likur”. Kalau ada yang menyebut “rong puluh pitu” tentu akan menjadi bahan tertawaan.
Namun, tidak demikian dengan bahasa Jawa Pertengahan. Misalnya, dalam naskah Calon Arang (pupuh 133: 2) terdapat kata “pitu likur”, sedangkan dalam Kidung Rangga Lawe (pupuh 6: 27) terdapat kata “rong puluh pitu”. Tidak ada yang mengejek penyebutan ini.
Naskah yang lebih tua, yaitu berbahasa Jawa Kuno juga ada yang menyebut 27 dengan istilah “pitu likur” yaitu dalam naskah Brahmāṇḍapuraṇa (bab 174: 14). Adapun dalam rontal Ādiparwa terdapat kata “rwang atus rwang puluh papat” untuk menyebut bilangan 224.
Jadi, tidak benar istilah “likur” adalah singkatan dari “linggih kursi”, karena “kursi” itu asalnya dari bahasa Arab, bukan bahasa Jawa asli. Sedangkan istilah “likur” sudah dikenal sejak zaman Jawa Kuno. Lalu, dari mana sebenarnya asal-usul kata “likur”???
Bahasa Jawa, Malayu, Sunda, Madura, Bali, Tagalog, dsb adalah keturunan bahasa Proto Malayo-Polynesia. Dalam kamus Proto Malayo-Polynesia saya temukan kata “likud” yang bermakna “kembali”. Kata likud inilah yang kemudian berubah menjadi likur dalam bahasa Jawa. Alasannya apa? Tentu saja pertukaran bunyi d & r.
* padi = pari
* pĕdih = pĕrih
* datu = ratu
* badak = warak
* udang = urang
Maka ….
* likud = likur
Makna asli kata “likud” adalah “kembali”, di Jawa berubah menjadi “likur” dan digunakan untuk menyebut bilangan antara 20-30. Lalu apa hubungannya dengan “kembali”???
Hipotesisnya begini … jumlah jari manusia ada 20. Seandainya digunakan untuk menghitung, maka:
1-5 : pakai jari tangan kanan
6-10 : pakai jari tangan kiri
11-15 : pakai jari kaki kanan
16-20 : pakai jari kaki kiri
21-25 : kembali pakai jari tangan kanan
Nah … “kembali” = likur
Lalu, bagaimana dengan 25, apa benar istilah “sĕlawe” adalah singkatan dari “sĕnĕng-sĕnĕnge lanang wedok”??? Itu juga cocoklogi deh. Suka terhadap lawan jenis itu bebas, tidak harus umur 25.
Untuk membantah cocoklogi ini, maka kembali kita lakukan penelusuran. Dalam naskah berbahasa Jawa Pertengahan berjudul Kuñjarakarṇa dapat kita temukan kata “salawe”. Kata ini berasal dari …
* sa = satu
* lawe = benang
Kata “salawe” awalnya adalah bahasa perdagangan untuk menyebut 25 koin yang diikat dalam satu benang. Lama-lama istilah “salawe” kaprah diucap “sĕlawe” sebagai istilah standar untuk menyebut 25 secara umum. Kalau ada yang menyebut “limå likur” atau “rong puluh limå” di era sekarang, pasti jadi bahan tertawaan.
Sekian, terima kasih.
NB :
2022 dalam bahasa Jawa Baru disebut :
– rong ewu rolikur
Sedangkan dalam bahasa Jawa Kuno bervariasi penyebutannya :
– rwang iwu rwang puluh rwa
– rwang iwu rwa likur
Kalau bahasa Sanskerta bagaimana?
– dvāviṃśatyadhikadvisahasra
Ribet kan???
Kiranya ini cukup menjadi bukti bahwa bahasa Sanskerta bukan leluhur bahasa Jawa.



