Bali bukan India

Oleh: Santo Saba Piliang *)

Related Post: Ajaran “Hindu Bali” bukan Ajaran “Hindu India”

PALONTARAQ.ID – Semoga ” Sang Hyang Widhi Tunggal ” melimpahkan segala sifat kebaikan dalam penulisan babad sejarah bangsa ini…yang telah di tulis terbalik

Semoga di beri kemudahan dan berhasil
Pranamyam sira dewam, bhuktimuktiitarttaya, prawaksyatwa wijneyah, brahmanam ksatriyadih, patayeswarah

Semoga bebas dari segala kesalahan dan kekeliruan, karena kurang pahamnya kami terhadap “Purana Tatwa” dalam upaya menyusun kembali catatan sejarah, untuk mengingatkan para keluarga dan anak cucu kita

Agar…tidak buta melangkah karena sejarah nya telah di kaburkan bahkan berupaya di hilangkan….

Ajaran asli Nusantara bukan Animisme/Dinamisme” tapi sudah berkeyakinan dan menganut faham “Satu Tuhan” sebelum “Ajaran” pendatang masuk

Tuhan dalam ajaran Kaharingan disebut “Yustu Ha Latalla”, sedangkan di Kotawaringin Barat disebut “Sanghyang Dewata”

Ajaran Tolotang menyebut Tuhan Yang Maha Esa, “Dewata SeuwaE”

Parmalim Batak menyebut,”Mulajadi Na Bolon”

Budaya Marapu menyebut,Mawulu Tau-Majii Tau ,Pencipta dan Pembuat Manusia atau Tuhan Yang Maha Esa

Budaya Asmat mengenal “Tuhan” juga “Surga” ,Ow Capinmi alam sekarang,Dampu ow Capinmi alam persinggahan ,Safar (surga)

Bali menyebut “Acintya”/Atintya ….”Dia yang tidak bisa dibayangkan”…Yang tak terpikirkan,..Yang tak terbayangkan…. Ida Sang Hyang Widhi Waça, Bukan “Krshna”

“Hyang”… adalah kata yang menunjukan pengertian pemahaman tentang yang Maha Mutlak adanya “Tuhan”…Tuhan Yang Maha Esa… “Hyang Widhi Tunggal”

….dan prosesi ber “ibadahnya” ini…ter indentifikasi dengan literasi kata “Sembahyang”….Literasi kata itu, terbentuk dari 2 suku kata “Sembah” dan kata “Hyang”

Ajaran asli bangsa nusantara terdahulu terindentifikasi bernama “Dharma” dimasa lalu disebut ajaran “Siwa Budha” dan Siwa Budha ini juga bukan sintesis Agama Hindu dan Agama Buddha india, Kemudian disebut “Agama Tirta” lalu menjadi “Hindu”, nama ini baru ada di Nusantara ditahun 1950

Di Bali…Leluhur kita mengajarkan untuk “Sembah Hyang” di “Pura” alam terbuka “Tri Hita Karana” bukan di “Ashram” berdoa dengan “Tri Sandhya”, Panca Sembah tidak dengan…. “maha mantra hare krishna hare rama”…..dan bukan menjadi pelayan abadi “Tuhan Kṛṣṇa”… di alam “Vaikuntha” nanti….

Karena “Dewa” bagi kami adalah manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi atau Brahman..

Leluhur kita mengajarkan untuk menganggap penting”Penghormatan” terhadap leluhur Upakara di Sanggah….

“Pedharman”, KaHyangan tiga Sad Khayangan dan ritual nya dari Rong tiga atau Sanggah Kemulan

“Sanggah” dari kata “Sang Melinggih atau munggah naik seperti putaran “Suastika”, symbol ini yang di pakai dan di salah artikan “Hitler”

…Om Swastiastu…Ong Awighnam astu namo siddham…

Studi akademik menunjukan bahwa “Hindu” merujuk pada “Agama” di india baru ada sekitar tahun 1830, Di Nusantara Belanda telah berperan meng “india” kan Bali, mendatangkan orang india ke Bali, meng”Kasta”kan Bali thn 1910

Karena pengaruh inilah banyak orang Bali thn 1930 belajar ke india, Intelektual dan akademisi Bali berkesimpulan Bali lebih “Sempurna”, Begitu juga Pilosof Rabindranath Tagore

“Agama” di Bali pada awalnya bernama “Agama Tirta” kemudian menjadi “Hindu Bali”, nama ini baru di “Tempel” tahun 1950…….disinilah kelak pintu gerbang kem BALI nya kejayaan Nusantara lama..

Rsi Mārkaṇḍeya adalah orang nusantara bukan orang india yang membawa ajaran dari sana di bawa ke sini karena tidak ada catatan sejarah tentang itu

Rsi Mārkaṇḍeya berada di Bali pada sekitar abad ke 9 M, sedangkan Mpu Gnijaya tertulis dalam “Babad Pasek”adalah salah satu dari 5 pendeta bersaudara yang dikenal sebagai “Panca Tirtha” yaitu Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Gana, Mpu Kuturan dan Mpu Bhradah, keberadaan Mpu Kuturan dan Mpu Bhradah di Bali sekitar abad ke 11 M, Beliau semua para Rshi diatas adalah asli putra Nusantara

Simak ini :
Rsi Mārkaṇḍeya, tertulis dalam sloka “Bhwana Tatwa” :
…..”Sang Ayati mwang Sang Niata pada pada sira apekik listu paripurna,wicaksaneng aji,wibuhing sastra utama…….”

Sang Ayati melanjutkan jejak leluhurnya menjadi seorang pertapa, beliau berputra  Sang Prana, demikian pula adiknya yang bernama Sang Niata, berputra Sang Mrakanda, setelah dewasa Sang Mrakanda beristrikan Dewi Manaswini, berputra Maharsi Mārkaṇḍeya

Selanjutnya Maharsi Mārkaṇḍeya beristrikan Dewi Dumara, menurunkan Maharsi Dewa Sirah yang beristrikan Dewi Wipari yang kemudian menurunkan banyak putera

Adakah  nama nama diatas itu nama india..?
Atau adakah sumber india yang menyebut silsilah lengkap nama Maharsi Mārkaṇḍeya siapa ayah ibu serta anak istrinya,lengkap seperti di Nusantara ini….?

Jadi…Benar adanya Rshi Mārkaṇḍeya adalah putra Nusantara, bukan hanya nama nya….juga kunci bukti beliau adalah orang Nusantara adalah karena Reshi Mārkaṇḍeya melakukan penanaman “Panca Dhatu” di Pura Penataran Besakih

Juga Rshi Agastya melakukan banyak ritual “Agama Tirtha” di Bali, Ini adalah bukti perilaku dan tatacara Nusantara karena hal ini tidak terdapat di India, di tambah ada peraturan di india yang tidak tertulis bahwa “Orang Suci” tidak umum membawa ajaran nya ke luar wilayah

Rshi Agatsya, Beliau memegang peranan penting dalam penyebaran “Dharma” atau di Asia Tenggara, terutama Jawa, Indonesia,hal ini dikuatkan dengan keberadaan Prasasti Dinoyo yang diperkirakan dibuat pada Tahun Saka 682

Prasasti yang mencatat mengenai keberadaan Agastya yakni Prasasti Porong, Prasasti ini berisi tentang beberapa nama lain yang disematkan pada Agastya, selain itu juga nama petapa ini juga tercatat di Ratu Boko

Terdapat beberapa teks yang memperkuat pengaruh keberadaan Agastya dalam penyebaran “Dharma”, Kakawin Hariwangsa menyebutkan keberadaan Agastya sebagai penuntun dari Raja Jayabaya

Teks Agastyaparwa yang ditulis dalam Bahasa Jawa Kuno dan Bahasa Sanskerta, isinya berupa pertanyaan Dreshasyu yang mewakili seorang siswa kepada ayahnya yang mewakili seorang guru mengenai alasan manusia naik ke “Svargga”

Masa pemerintahan dan saat tokoh Agatsya ada di Nusantara adalah Gajayanalingga Jagatnata atau Gajayana saja adalah seorang raja dari Kerajaan Kanjuruhan yang sangat dicintai oleh para brahmana dan rakyatnya karena membawa ketentraman di seluruh negeri

Jadi nama Resi Mārkaṇḍeya juga Resi Agastya adalah orang Nusantara bukan dari india sana yang membawa ajaran india

Rshi Mārkaṇḍeya menciptakan sistem irigasi “Subak” di Bali…adakah ini di india…?

Çhri Janaýasã melakukan “Siddhayatra”/ Marlapas, yaitu perjalanan suci membawa “Dharma” ke Bali, membawa “Dharma” juga Para alumni wisudawan dari tempat pembelajaran “Dharmapala” di sumatra terdahulu, ini lokasi yang di lihat I-Thsing Abad 7 M…

Çhri Janaýasã pergi menyebar kearah Utara juga ke Barat bersama 2.213 orang ….hal ini pula yang di lakukan Rshi Mārkaṇḍeya sampai ke Bali

Kerajaan Nusantara Srivijaya, Majapahit, Padjajaran melarang memungut pajak di Bali, di sini “Dharmic Original’ tersimpan sempurna

…Om Swastiastu,…
Om Awighnamastu Namo Siddham…
Ong Hrang Hring Sah Parama
Siwaditya ya Namah

Swaha……

(* Santo Saba Piliang, Revicionist History-Exploration & Research INDONËSIARYĀ-True Back History of Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT