BerandaSosial BudayaKearifan LokalKerajaan, Negeri Para Manusia

Kerajaan, Negeri Para Manusia

Istana Datu Luwu. (foto: ist/palontaraq)
Istana Datu Luwu. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: La Oddang Tosessungriu

Tulisan sebelumnya: Kedaulatan Adat Istiadat Setiap Negeri

PALONTARAQ.ID“Naiyya akkarungengngE, tania galung, taniato dare’, enrengngE tania kalobeng. Naiyya galungngE, asE ritanengritu lise’na.

“Naiyya dare’E, otti na kaluku arE’gatu lise’na. Nenniya kalobengngE, balE tessirupaE lise’na. NaEkiya, naiyya AkkarungengngE, tau maradEka lise’na.”

“Naiyya galungngE, dare’E, nenniyatopa kalobengngE, rEkko matEi punnana, namana’iritu wijanna. NaEkiya naiyya akkarungengngE, rEkko matEi Arungna enrengngEtopa Datunna, tenriappammanarengngi ri wijanna ArungngE, kuwaEtopa DatuE. Nasaba’ tenriappamanarengngi Tau MaradEkaE. Ade’ riyassamaturusengpa patudangngi patolana, rilaleng najello’E wari”

(Matoa Cenrana Luwu).

Artinya:

Sesungguhnya kerajaan, bukanlah lahan persawahan, bukan pula lahan perkebunan, serta bukan pula kolam ikan. Bahwa persawahan itu berisikan padi yang ditanam.

Kemudian perkebunan itu berisi pohon pisang ataupun kelapa. Demikian pula kolam ikan, berisikan ikan beraneka rupa. Namun, halnya dengan kerajaan, adalah Orang Merdeka yang menghuninya.

Adapun halnya dengan sawah, kebun ataupun kolam ikan, jikalau pemiliknya meninggal dunia, maka anak turunannya yang mewarisi. Namun Kerajaan, jikalau rajanya wafat, tak diwariskan pada anak turunannya. Karena sesungguhnya, orang merdeka tidaklah diwariskan. Hanya adat (aturan) yang berdasarkan musyawarah mufakatlah yang mendudukkan penggantinya, menurut pranata tatanannya.

Hampir semua kronik kerajaan di Sulawesi Selatan menyatakan bahwa telah terjadi suatu masa yang disebut “SianrEbalE”, yakni situasi dan kondisi masyarakat kacau balau (chaos) sehingga digambarkan ibarat saling memakan bagai komunitas ikan di laut.

Bahwa yang besar memakan yang lebih kecil dan yang lebih kecil memakan yang lebih kecil lagi. Yang kuat menindas yang lemah dan yang lemah mendzolimi yang lebih lemah darinya.

Ketiadaan aturan dan ketakberdayaan sistem kepemimpinan, sehingga setiap orang kehilangan nilai kemanusiaannya dengan hidup untuk sekedar mempertahankan keberlangsungan kehidupan diri dan keluarganya semata.

Kondisi kacau balau ini menjadikan masyarakat manusia menjadi tak ubahnya hewan rimba, dimana hukum rimbalah yang berlaku, yakni hanya yang kuatlah dapat bertahan mengarungi masa itu.

Masa “sianrEbalE” adalah masa dimana tiada waktu memahami tenggang rasa saling memanusiakan satu sama lainnya (baca ; sipakatau). Maka seseorang yang “merasa kuat” dapat saja memaki orang lain sekehendak hatinya.

Masa ini pula seorang tua dapat mewariskan kekuatan klan (kelompok/rumpun keluarga) kepada turunan biologisnya, tak ubahnya komunitas singa di Afrika yang mewariskan territorial perburuannya pada anak turunannya.

Maka sesungguhnya inilah yang dimaksud masa purba menurut kamus pengetahuan umum yang dipelajari pada dunia pendidikan akademik masa ini.

Hingga kemudian, pada suatu ketika tibalah sosok misterius karena tidak diketahui dari mana asal muasalnya ditengah masyarakat berhukum rimba itu.

Sosok inilah yang dinyatakan sebagai “To Manurung” ataupun “To Tompo” karena orang-orang primitif itu mengiranya jika sosok itu adalah Dewa yang menjelma sebagai manusia.

Sosok asing yang rupanya adalah seseorang dari suatu negeri berperadaban manusia itu menunjukkan jati diri segenap masyarakat primitif itu, bahwa sesungguhnya anda sekalian adalah “manusia”, yakni mahluk semulia-mulianya ciptaan Tuhan.

Olehnya itu, karena sesungguhnya anda adalah manusia, maka saling memperlakukanlah sebagai manusia satu sama lainnya.

Bahwa titik pembeda antara manusia dan hewani sesungguhnya sangatlah sedikit. Jikalah manusia memiliki perasaan, hewanpun memiliki perasaan.

Hewan dapat pula menyayangi, mengasihi serta dapat pula tersinggung yang berujung amarah sebagaimana halnya manusia. Jikalau manusia memiliki akal pikiran, maka hewanpun memiliki kecerdasan yang bersumber dari akal pikirannya.

Demikian pula dengan kehidupan sosial, hewan dan manusia sama-sama memilikinya pula. Termasuk pula ambisi dan keinginan (ego), keduanyapun memilikinya dengan porsi yang sama.

Namun ada hal yang dimiliki manusia dan tidak dimiliki oleh hewani, yaitu nilai-nilai rasa malu (siri’). Manusia merasa malu untuk bertelanjang tubuh dan hewan merasa itu adalah alami belaka.

Manusia mampu mengekang kehendak egonya dengan penyaluran yang elegan, sedangkan hewan menyalurkan egonya dengan vulgar tanpa rasa malu. Manusia merasa risih dan malu membangga-banggakan silsilah turunannya dimuka umum, sedangkan hewan tak peduli akan semua itu.

Manusia tidak dinilai berdasarkan ras dan turunannya, melainkan prestasi yang ditekuninya. Sedangkan hewani sebagaimana misalnya sapi, dinilai berapa persen turunan Lamborghini dan seberapa persen Brahma ?.

Olehnya itu kemudian, para masyarakat primitif itu memohon dan menghiba kepada sosok misterius itu kiranya berkenan untuk tinggal bersama mereka untuk dinobatkan sebagai raja yang memimpin dan mengajarkan mereka nilai-nilai kemanusiaan.

“Onrono, aja’na muwallajang. Ikona riyala addaowang riakkeng, mudongirikkeng temmatippakeng” (tinggallah, janganlah raib. Engkaulah yang dijadikan pelindung bagi kami, agar kami tidaklah dimakan burung pipit).

Mereka kini sadar bahwa sosok bijaksana inilah satu-satunya harapan menjadi tokoh pemersatu yang dapat didengar dan dipatuhi oleh semuanya. Maka dinobatkanlah sosok yang arif itu sebagai raja di negeri yang dilanda kekacauan sekian lama itu. Inilah titik momentum berdirinya suatu kerajaan.

Sebagai suatu kerajaan, Sang Raja mengajarkan pula syarat mutlak yang menguatkan suatu kerajaan, yakni suatu etos bernama : PessE. Sebutan ini berasal dari penamaan suatu umbi tanaman yang rasanya pedis, yaitu: jahe.

Bahwa umbian ini tatkala masih segar sewaktu baru dicabut dari tanah hingga kering terpapar matahari, rasanya takkan berubah, yaitu: pedis.

Orang sedunia yang mengecap rasa umbian ini pastilah sependapat, bahwa rasanya adalah pedis. Tak satupun yang berpendapat lain bahwa itu manis ataupun asin.

Olehnya itu, makna dari “pessE” ini adalah : Solidaritas Kemanusiaan yang tadinya berazasikan “siri” (rasa malu).

Pengenalan diri sebagai manusia yang diidentitaskan “siri” (rasa malu), tatkala dietoskan dengan “pessE” (solidaritas), maka terciptalah kearifan mutlak kemanusiaan, sebagaimana disebut: Sipakatau (saling memanusiakan).

Setiap orang yang memiliki rasa malu pastilah takkan mempermalukan orang lain. Siapapun yang mengenali diri sebagai manusia, pastilah akan memanusiakan orang lain.

Hingga kemudian nilai-nilai itu berkembang pada tingkat yang lebih luhur, yaitu : Alebbireng (kemuliaan). Bahwa seseorang yang memiliki predikat mulia ini, pastilah biasnya adalah memuliakan orang lainnya.

Demikianlah sejarah awal mula lahirnya seorang pemimpin yang dinobatkan sebagai raja pertama pada suatu negeri. Kepemimpinannya menciptakan suatu sistem dan mekanisme perintahan, sebagaimana disebutnya: Pangngaderreng (Undang-undang dan Peraturan).

Bahwa Pangadereng yang dibangunnya berdiri kokoh dengan ditopan 4 pilar, yaitu : Bicara (Hukum/Undang-Undang Tertulis), Wari (tatanan), Tuppu (keselarasan) dan Rapang (sejarah).  Keempat azas inilah yang menjaga keberlangsungan sistem untuk melindungi rakyatnya dari malapetaka “sianrEbalE” sebelumnya.

Bahwa aturan (ade’) ini bukanlah silsilah manusia, melainkan sesuatu yang berdiri sendiri (indefendent), sebagaimana dikatakannya: “Naiyya ade’E, tettong tungke’, temmakkEana’, temmakkEappo, mallebbang temmappassangadi” (sesungguhnya adat itu tak beranak, berdiri tunggal, tak beranak, tak bercucu, berlaku bagi semuanya tanpa pengecualian).

Maka sejak pendirian dan penobatannya sebagai raja, tidak ada raja yang mengangkat diri sebagai raja, melainkan harus ditabalkan atas aspirasi masyarakat yang hendak menjadi rakyatnya dengan senantiasa berpatokan pada keempat pilar adat tersebut.

Hingga puluhan tahun setelah keruntuhan kerajaan yang didirikan beratus-ratus tahun setelah didirikannya itu, pemerintah membuka pintu kembali untuk mendirikan lembaga adat dengan tujuan sebagai pusat mata air kearifan lokal.  Bahwa disadari kemudian bahwa kearifan lokal adalah tumpuan nilai yang menguatkan kehidupan berbangsa dan bertanah air.

Pendirian lembaga adat pada bekas kerajaan yang sesungguhnya adalah pilar pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diharapkan sebagai pesemaian utama bibit-bibit unggul nilai budaya yang akan mengantarkan masa depan negara besar ini menuju altar keadilan dan kemakmuran pada masa yang akan datang.

Namun harapan tidak selalu sesuai dengan keluhuran tujuan.  Hingga ramailah negeri ini dengan turunan-turunan raja dari masa lalu yang telah pikun, berusaha untuk eksis kembali dengan didasari daftar silsilahnya.

Mereka lupa atau bahkan tidak tahu bahwa leluhurnya yang raja-kan itu dimuliakan karena prilaku mulianya. Bukan karena trah turunannya semata.

Entah hukum rimba ataukah hukum laut yang kini berlaku. Betapa banyak yang menyatakan diri “Arung” ataupun “Datu” bagi suatu wilayah bekas kerajaan didasari anggapan bahwa negeri itu adalah “warisannya”.

Padahal tanah negeri itu telah bersertifikat atas nama masyarakat yang menghuninya. Tak perduli rasa malu, apakah masyarakat negeri itu akan mengakuinya atau tidak, yang penting menurutnya ia adalah pewaris sah negeri para manusia itu.

Tak peduli kemana tempatnya keluhuran “sipakatau”, yang penting kehendaknya tercapai. Adapula yang gila atribut sehingga tanpa rasa segan “meminta” lencana yang dipakai orang lain.

Padahal lencana yang dipakai orang itu bukanlah lencana warisan, melainkan prestasi. Dipakai bukan untuk gagah-gagahan, melainkan pengingat untuk mengemban suatu amanah luhur.

Sejarah disusun sendiri berdasarkan kehendak ego, bukan menurut fakta tertulis yang sah melalui suatu kajian ataupun penelitian suatu lembaga. Tak lain karena sejarah susunan sendiri itu dimaksudkan untuk memenuhi dahaga eksistensinya belaka.

Maka beberapa negeri yang dihuni manusia ini, kini menjelang menuju masa “SianrEbalE”.  Maka kepada kaum kami para Cenrana Luwu. Menjadi pengawal keluhuran Nilai Pangadereng ini adalah pilihan kita sejak awalnya, tiba saatnya mengencangkan sabuk pabbekkeng.

Tompang madEcEngni gajangta, Tapaccingi Atitta. Toddo’puli Temmalara’, Patimpa’ Baja-Baja, TebbakkE TongengngE.

Wallahu ‘alam Bish-shawab. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT