To Deceng

Ilustrated by: ist/palontaraq)
Ilustrated by: ist/palontaraq

Oleh: La Oddang Tosessungriu

Tulisan sebelumnya: Membaca Hikmah Sejarah

PALONTARAQ.ID – Ia terlepas dari konotasi “orang beriman dan bertaqwa” karena itu adalah kepribadian. Seorang Non Muslim boleh jadi termuliakan oleh prilakunya sebagai To DEcEng.

Demikian pula seorang Muslim/Muslimah yang “enggan” sujud pada Tuhan-nya pun tak menutup kemungkinan dapat disebut “To DEcEng” pula.

Namun jika seorang Muslim/Muslimah menyandang predikat mulia sebagai “tattaquwn” (sebenar-benarnya taqwa) niscaya ia pastilah seorang “To DEcEng”.

Apakah “To DEcEng” itu bangsawan ?. Jika bahkan ia terlepas dari predikat “muttaqin”, apalah lagi “bangsawan”. Seseorang dapat menyandang predikat gelar bangsawan, tak lain karena ia turunan bangsawan. Ia mewarisi darah kebangsawanan, yakni ketentuan takdir Allah atas dirinya. Namun belum tentu ia dapat disebut “To DEcEng”.

Siapakah To Deceng itu? (foto: ist/palontaraq)
Siapakah To Deceng itu? – Para Pelestari Tradisi/pekerja budaya dalam suatu karnaval Hari Jadi Kabupaten. (foto: ist/palontaraq)

Para peziarah di Kompleks Makam Arung Palakka. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Siapakah To Deceng itu? – Para peziarah di Kompleks Makam Arung Palakka. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Lalu siapakah sesungguhnya To DEcEng itu? Sesungguhnya ia lebih dari wujud “makkiade'”. Jika “To Makkiade'” adalah orang-orang yang taat dan patuh terhadap aturan dan nilai-nilai adat, tidak menjamin penghujung ikhtiarnya menghasilkan kebaikan.

Adolf Hitler adalah seorang “To Makkiade'” yang memerintahkan pembasmian 6 juta jiwa manusia dengan tanpa bertanya pada nurani kemanusiaannya.

Demikian pula para pengikutnya, mereka adalah “To Makkiade'” yang melaksanakan perintah atasannya itu dengan “sami’na wa ‘ata’na”. Salahsatu pendorongnya adalah pengagungan nilai-nilai mytos “adat” ras Arya yang menjadikan mereka fanatik buta.

“DEcEng” adalah baik (kebaikan). Hal mana jika itu adalah nilai-nilai kebaikan tatkala masih dalam ruang pikiran, disebut “nawa-nawa dEcEng” (pikiran baik).

Siapakah To Deceng itu? - Dalam suatu acara perkawinan adat. (foto: ist/palontaraq)
Siapakah To Deceng itu? – Dalam suatu acara perkawinan adat. (foto: ist/palontaraq)

Siapakah To Deceng itu? - Dalam suatu acara seminar/pelatihan. (foto: ist/palontaraq)
Siapakah To Deceng itu? – Dalam suatu acara seminar/pelatihan. (foto: ist/palontaraq)

Ketika pikiran baik itu terseleksi oleh “nurani”, disebutlah ia “ininnawa madEcEng” (nurani kebaikan). Ketika ia keluar dari ruang kepala dan hati melalui pandangan (prinsif kebenaran), sebutannya adalah “tangnga madEcEng” (pandangan baik).

Kemudian orang-orang yang mengikhtiarkan “kebaikan” itulah yang disebut “To DEcEng” (orang baik). Prilaku para “To DEcEng” inilah yang dipredikatkan pada tahta agungnya sebagai “Gau’ MadEcEng” (berperilaku baik).

PErilaku ini senantiasa mengikuti alur kelayakannya menurut keragaman pandangan adat istiadat yang berazaskan keadilan, yakni “laleng madEcEng” (jalan kebaikan).

Siapakah To Deceng? Yang suka menolong tanpa pamrih dan memberi manfaat bagi sesama? (foto: ist/palontaraq)
Siapakah To Deceng? Yang suka menolong tanpa pamrih dan memberi manfaat bagi sesama? (foto: ist/palontaraq)

Siapakah To Deceng? Yang ikhlas berbagi ilmu dan mengajarkan kebaikan bagi sesama? (foto: ist/palontaraq)
Siapakah To Deceng? Yang ikhlas berbagi ilmu dan mengajarkan kebaikan dan bermanfaat bagi sesama? (foto: ist/palontaraq)

Siapakah To Deceng? Yang memberi dan berbagi kebahagiaan dengan sesama? (foto: ist/palontaraq)
Siapakah To Deceng? Yang memberi dan berbagi kebahagiaan dengan sesama? (foto: ist/palontaraq)

Sepanjang sejarah kehidupan manusia, Allah SWT menghadirkan sosok To DEcEng dalam segala ruang masa, sebagai jawaban atas persepsi para malaikat yang memandang manusia sebagai makhluk perusak.

Kehadiran Rasulullah SAW beserta para nabi dan rasul sebelumnya adalah wujud paripurna To DEcEng menurut sebutan lainnya yang lebih indah, yakni: ‘Uswatun Hasanah’.

Termasuk pula para “Uwlul ‘Albab yang menjadi pembuka bab lahirnya suatu komunitas besar masyarakat yang kemudian disebut “tana” (kerajaan). Mereka disebut sebagai sosok dewata dari langit (botinglangi) karena menunjukkan “pribudi tinggi”, tak lain adalah “gau’ madEcEng” jua.

Anak keturunannya kemudian itulah yang dilekatkan predikat “bangsawan” dengan berbagai sebutannya di seluruh belahan bumi ini. Olehnya itu, leluhur asal muasal para bangsawan, tak lain adalah: To DEcEng.

Siapakah To Deceng? Yang menuntun agama dan mengajak kepada ketaatan kepada Allah SWT? (foto: ist/palontaraq)
Siapakah To Deceng? Yang menuntun agama dan mengajak kepada ketaatan kepada Allah SWT? (foto: ist/palontaraq)

Siapakah To Deceng? Yang menghormati adat dan melestarikan tradisi? (foto: ist/palontaraq)
Siapakah To Deceng? Yang menghormati adat dan melestarikan tradisi? (foto: ist/palontaraq)

Siapakah To Deceng? Pemimpin yang tulus melayani dan mengayomi rakyat? (foto: ist/palontaraq)
Siapakah To Deceng? Yang tulus melayani dan mengayomi rakyat? (foto: ist/palontaraq)

Salah satu contoh ideal dalam hal meneladani “To DEcEng” ini adalah sosok para TopapoataE Datu Luwu. Mereka adalah pribadi-pribadi agung pilihan takdir itu sendiri.

Inilah raja yang diperlambangkan sebagai “Pajung” (payung), yakni pelindung rakyatnya dari panas terik dan hujan. Kearifannya tercatat oleh sejarah sebagai raja-raja yang miskin harta benda sepanjang hidup mereka, demi menebus harga “dEcEng”.

DEcEng adalah keluhuran yang mahal. Olehnya itu hingga kerap dinyatakan, “Riyelli mEmengsa dEcEngngE” (Artinya: Kebaikan itu memang harus dibayar).

Para To DEcEng yang berwujud Raja kerapkali “rugi” tatkala memutuskan perkara. Ketika kedua belah pihak memiliki dasar hukum yang sama kuat memperebutkan sebidang tanah dalam suatu pengadilan adat, Pabbicara (hakim) seringkali memohon pandangan kepada Raja.

“Apakah keputusan memenangkan salahsatunya dapat mengakibatkan keterpurukan martabat SIRI’ bagi yang lainnya, sehingga dapat mengakibatkan pembunuhan?” – tanya Raja. “IyyE’, makkuaniro, Puakku” (Artinya: Begitulah adanya, tuanku).

Keluarlah fatwa Sang Raja, “Sebidang tanah yang diperebutkan disita oleh kerajaan, dimanfaatkan untuk membangun Masjid. Selanjutnya pilihlah dua petak kebun milik pribadiku yang sama luasnya dengan bidang tanah berperkara itu serta sama baik atau bahkan lebih baik. Berikan kepada masing-masing pihak sebagai anugerah dariku”.

Siapakah To Deceng? Yang memegang teguh amanah dan menepati janji? (foto: ist/palontaraq)
Siapakah To Deceng? Yang memegang teguh amanah dan menepati janji? (foto: ist/palontaraq)

Siapakah To Deceng itu? Yang menyantuni anak yatim dan memberi makan fakir miskin. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Siapakah To Deceng itu? Yang menyantuni anak yatim dan memberi makan fakir miskin. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Siapakah To Deceng? Yang selalu memikirkan dan melakukan kebaikan untuk orang banyak. (foto: ist/palontaraq)
Siapakah To Deceng? Yang selalu memikirkan dan melakukan kebaikan untuk orang banyak. (foto: ist/palontaraq)

DEcEng yang menjadi dasar kebijakan seorang Raja (Pemerintah) adalah solusi terbaik untuk mengimbangi “keadilan buta” pada sistem hukum. Dua pihak yang berperkara boleh jadi terdiri dari dua pihak yang benar namun dibenturkan oleh sistem.

Misalnya seorang ahli waris sebidang tanah kebun yang merantau bertahun-tahun. Kemudian ada oknum yang menjualnya secara sepihak kepada orang lain. Lalu pembeli itu mengupayakan legalisasi sertifikat, sah-lah ia sebagai pemiliknya.

Hingga kemudian ahli waris asli tanah itu menggugatnya, meski tanpa dokumen faktual yang mendukungnya. Sementara pembeli itu telah mengeluarkan uang tak sedikit untuk membeli dan pengurusan sertifikat, tanpa setahunya jika tanah itu bukan hak milik orang yang menjualnya. Memenangkan salahsatu pihak, mestilah merugikan rasa keadilan pihak lainnya.

Menggunting kain sarung sendiri demi menambal sarung saudarinya yang berlubang, itulah “pappEdEcEng” seorang To DEcEng. Daya upaya “mappEdEcEng” (memperbaiki) yang diikhtiarkannya mengasah kepribadiannya menjadi seorang “masalEwangeng nyawa” (berjiwa besar).

Siapakah To Deceng? Yang selalu memikirkan dan melakukan kebaikan untuk orang banyak. (foto: ist/palontaraq)
Siapakah To Deceng itu? Yang memperbaiki dan menyambung kekeluargaan? (foto: ist/palontaraq)

Siapakah To Deceng itu? Yang menghargai setiap orang tanpa memandang status sosialnya? (foto: ist/palontaraq)
Siapakah To Deceng itu? Yang menghargai setiap orang tanpa memandang status sosialnya? (foto: ist/palontaraq)

Semakin lapang jiwanya, semakin luas samudera pemaafannya. “Tania mEmengga anu masolangngE ipadEcEngi?” Artinya: “Bukankah hal rusak itulah yang diperbaiki?” – demikian sabda nuraninya selalu.

Menjadilah ia seorang yang memaklumi, serta bertoleransi terhadap perbedaan. Hingga semakin dalamlah pemahamannya hingga semakin dalam pula belas kasih kemurahan hatinya.

Bahwa materi hanyalah aksesoris duniawi belaka. Semakin tenang pula jiwanya, tentram mengarungi gurun kehidupan yang penuh badai ini.

Syahdan, Puatta Sawerigading tatkala dihadang Banynya’ Paguling dalam pelayarannya, beliau mengutus La Pananrang. “Tanyakanlah padanya, apa yang diinginkannya?

Jikalau ia butuh harta benda, berikanlah harta itu. Kebaikan itu memang pantas dibeli”, titahnya. “Riyelli mEmengsa dEcEngngE“, ujar mulia itulah yang lestari hingga kini, melampaui keindahan sastra bahasanya.

Kuruu jiwa sumange’na to dEcEngngE, ripallongi-longi ri alebbirengna, narituttung batElana, rilEtEi batE pappEdEcEngna.

Wallahu ‘alam Bish-shawab. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT