Pajaga Boneballa’, Gemulai dari Ruang Hening

by Penulis Palontaraq | Selasa, Okt 8, 2019 | 32 views
Ilustrasi by: La Oddang Latenriasessu

Ilustrasi by: La Oddang Tosessungriu.

Oleh: La Oddang Tosessungriu

PALONTARAQ.ID –  Sebuah syair disenandungkan dengan rythm datar memanjang, bagai rapalan mantera dari lubuk nurani terdalam. Abaikan nada dan irama, ikuti ketukan gendang bertempo lambat. Rasakan itu adalah detak jantungmu, karena ini bukanlah lagu, melainkan sabda Sang Ininnawa sendiri.

Ininnawa mappatakko
Alai pakkawaru
Kalawing AtiE

…………………….

Dari sekian banyak ragam tari “pajaga”, inilah yang paling sakral. Ia ditarikan hanya didalam ruang (indoor) sebagaimana sebutannya sebagai “BonE Balla'” ( isi rumah), tatkala OPT. Datu Luwu sedang dijamu ataupun menjamu tetamunya.

Olehnya itu, tarian ini sesungguhnya melampaui kadar umumnya sebagai “seni hiburan”, lebih dari itu ia adalah tata protokoler dalam Istana yang menjadi penanda legitimasi hadirnya Sang OPT Datu di balairung (jajareng lebbi) dengan dihadap “pakkamummu”, sang pelayan agung berbusana ungu yang mempresentatifkan seluruh puteri bangsawan Se-Luwu.

Sebagai penjaga martabat dalam istana, para penari Pajaga BonEballa merupakan puteri-puteri bangsawan yang melalui seleksi “timbang darah” (hitungan kadar presentasi kebangsawanan).

Mereka yang terpilih itu harus pula memiliki “sikku batari”, yakni sambungan tulang lengan yang melengkung ketika dicentang. Jikalau tidak demikian sejak lahir, sambungan siku itu dipatah lalu “risaula” (diurut) setiap pagi.

Meskipun dengan itu, penarinya harus merasakan sakit sampai menangis merintih hingga pingsan. Harga yang harus dibayar demi pewarisan nilai kemuliaan tradisi.

Mereka menata gerak yang harmonis dengan mata hampir tertutup, dipandu intuisi dan ketukan gendang. Sementara itu OPT Datu dan tetamunya menyantap hidangan, dilayani barisan “pangade'” dibawah pimpinan pakkamummu’.

Liukan para penari yang lambat nan santun, bagai gerak pohon yang dihembus angin semilir dari kibasan lembut “papi” (kipas) mereka.

Tiada gerakan tiba-tiba, gerak kaki yang diseret lembut, serta tangan dan jemari yang ditekuk bunga teratai, mengesankan jika ini bukan sekedar gerakan tarian belaka, melainkan pola gerak semedi.

Tiada se-senti gerak yang tanpa mengandung makna. Waktu seketika itu terasa melambat oleh aura tarian ini, Sang OPT Datu dan tetamunya menikmati hidangannya dengan tenang dan damai tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Hening dalam suasana magis “alebbireng” ditengah para Tomalebbi. Ada kebijaksanaan dalam kelembutan gerak serta keheningan, tatkala nurani yang saling mempertemukan maksud dan tujuan tanpa disela oleh ego argumentasi pikiran.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response