Pangulutta

Foto?Ilustrated by: La Oddang Tosessungriu
Foto/Ilustrated by: La Oddang Tosessungriu

Oleh: La Oddang Tosessungriu

Tulisan sebelumnya: Pangulu dan Tokoh “Kulu-kulu”

PALONTARAQ.ID – Asal katanya dari “ulu” yang berarti : kepala. Jika anggota badan itu pada manusia, ia terletak paling diatas. Ketika kepala itu adanya pada segala jenis ikan atau sebagian besar hewan, letaknya adalah terdepan.

Inilah “Ulu” anggota tubuh yang mewadahi otak, “mesin” pengelola pikiran yang mengendalikan gerak seluruh anggota tubuh lainnya. Maka “pangulu” bermakna kata: Pemimpin.

Pada lain ketika, “pangulu” dikaitkan dengan senjata genggam (badik, keris, parang, golok dan lainnya). Ketika itulah posisinya berubah, yakni dari terdepan menjadi paling belakang.

Meski terbuat dari gading berhias emas permata, posisinya tetap jua “dibelakang” bilah, memenuhi fungsinya sebagai gagang pegangan.

Demikianlah halnya wujud “pemimpin” dari sudut pandang Budaya Bugis, ia diusung terdepan sebagai “wadah pemikiran” bagi seluruh pengikutnya, pada lain ketika ia dibelakang pengikutnya sebagai pengendali gerak kebersamaan.

Sebilah keris Bugis, sebaik-baiknya bahan dan tempaannya, ia takkan diukir dan dihiasi emas. Namun sesederhana apapun bahan “pangulu”-nya, meski terbuat dari kayu lapuk sekalipun, ia adalah tempat menempel “kili-kili” (mendak:Jawa) yang berhias emas bertatah permata.

Pada model gagang dan kili-kili inilah menampakkan “identitas strata sosial” pemiliknya. Meski andai gagang bilahnya yang terbungkus warangka itu hanyalah sebilah bambu, takkan menafikan simbol strata tuannya.

Demikian pula sebaliknya, meski andai bilah kerisnya terbuat dari meteorit terlangka serta hasil tempaan “panrita bessi” paling bertuah, jika gagang (pangulu) dan kili-kilinya berbentuk “biasa” pada umumnya, tetap jua melambangkan identitas “sama'” bagi pemiliknya.

Seperti itulah wujud pemimpin bagi suatu komunitas, entah ia bernama group, forum, organisasi atau bahkan kerajaan sekalipun.

Pemimpin atau apapun sebutannya bukanlah yang paling “keras” dalam kesatuannya. Sekeras-kerasnya gagang keris berbahan gading gajah, takkan mungkin lebih keras dari bilah keris yang diikatnya.

Justru sebaik-baiknya “pangulu” adalah yang lembut dan nyaman digenggam, namun mampu mengikat bilah baja dengan tanpa menggores “oti'” keris. Hal mana “oti'” disini terkait erat dengan pemaknaan “ati” ataupun “hati”.

Sesungguhnya, pemimpin adalah bukan yang paling sakti diantara pengikutnya, karena andai demikian, tiada raja di dunia ini yang memiliki pengawal dan panglima.

Pemimpin bukan pula yang paling pintar diantara kawanannya, andai demikian, tiada raja yang memiliki penasehat. Namun yang pasti, dari kebersahajaan atas hukum alam itu, seorang pemimpin adalah yang paling dicintai diantara seluruh kawanannya, tak lain karena ia murah hati, pengasih, adil dan bijaksana.

SIMA’TANA adalah satu dari sekian banyak komunitas pemerhati budaya yang memahami makna kepemimpinan ini. Olehnya itu, seorang Ketua Umum Sima’tana dalam prosesi pengukuhannya, diwajibkan meminum sisa minuman seluruh anggotanya.

Kepadanya dilimpahkan amanat untuk mengikhtiarkan sepenuh hati untuk mewujudkan harapan seluruh anggotanya. Ritual ini akan menjadi pengingat kekal baginya, bahwa awal kepemimpinan bermula dari “pengingkaran” atas ego diri.

Merendahkan hati dengan meminum sisa seluruh pengikutnya, membentuknya sebagai sosok yang amanah dan fatonah.

Pagi ini, saya anjurkan kepada Kakandaku Andi Muawiyah Ramly Opu To Tenrirua : sudah saatnya Yang Mulia Anggota DPR RI meminum sisa minuman ratusan ribu konstituennya.

Jadilah beliau “pangulutta” (penghulu kita), mewakili seluruh harapan segenap rakyat yang memilihnya ????????.

 

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT