Walasuji Kita

Walasuji. (foto: ist/palontaraq)
Walasuji. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: La Oddang Tosessungriu

PALONTARAQ.ID – Semua suku bangsa di dunia ini memiliki landasan philosofi berpikir yang menjadi perspektif idealnya. Tak terkecuali Bugis sebagai hakekat. Ia memandang “manusia” (tau) diidentitaskan oleh 2 hal, yakni : Siri dan PessE.

Siri adalah rasa malu yang mewujudkan harkat dan martabat. Kemudian PessE adalah rasa pedis pada jahe yang melambangkan kesepakatan tentang rasa, bahwa jahe (PessE) rasanya pedis (MapessE ) sehingga ia dimaknakan naluri belas kasih kemanusiaan.

Ibarat jahe yang sudah mengerut karena kering bertahun, rasanya (taste-nya) tetap pedis, tak berubah sejak awal digali dari dalam tanah.

Seperti itulah manusia, sebagaimanapun buruk karakternya, ia tetaplah menyimpan belas kasih . Sekiranya ia tak lagi memiliki belas kasih, tak layaklah ia disebut manusia lagi.

Manusia (tau) disimbolkan dengan “walasuji” (lawasuji), yakni rangkaian persilangan 4 bilah bambu yang mencipta bentuk jajaran genjang (sulapa’ eppa) ditengahnya. Bangun jajaran genjang (belah ketupat) itu mempresentasikan 4 unsur penciptaan manusia serta 4 pilar pangadereng (adat istiadat).

Tatkala dirancang sebagai suatu bangunan pelaminan (baruga lamming) dalam perhelatan Adat Bugis, didalamnya diisi dengan tata perjamuan VVIP yang layak bagi Raja dan Bangsawan.

Namun siapapun yang memasuki zona dalam baruga lamming ini haruslah “melangkahi” (majjulEkka) dinding pagar walasuji dibawah, sekaligus “menunduk” (sellu’) pada dinding pagar walasuji diatas.

Makna yang dikandung dalam hal ini, “memasuki” ruang terhormat didalamnya, terlebih dahulu harus “melangkahi” pagar walasuji yang menyimbolkan “tau” (manusia), sekaligus harus menunduk (menghormati) walasuji diatasnya pula.

Manusia terhormat tidak melangkahi manusia lain begitu saja, melainkan harus “MattabE’-TabE'” (amit) dengan menghormati manusia lainnya pula. Setelah itu, duduklah didalamnya untuk dijamu dengan sehormat-hormatnya oleh tuan rumah.

Masa sekarang ini, anak-anak kita memandang walasuji adalah simbol strata kebangsawanan belaka. Semakin banyak bilah bambu (sange’na), penanda semakin tinggi status derajat kebangsawanan penyelenggara hajatannya.

Tidak cukup itu, busana adat dikenakan dengan serba “sa” jajaran genjang sulapa’ walasuji, pertanda identitas bangsawan kental yang mengalir dalam darah pemakainya.

Sesungguhnya itu tidak salah karena bangsawan memang perwujudan “bangsa” dalam diri seorang individu.

Bahwa suatu bangsa adalah himpunan suku, dalam suatu suku adalah himpunan kaum dan masyarakat, hingga masyarakat itu adalah populasi manusia (tau).

Olehnya itu, seorang bangsawan yang mengenakan simbol sulapa’ Eppa (walasuji) adalah individu yang memahami hakekat “tau” (manusia).

Semakin banyak simbol itu dikenakannya, semakin banyak manusia yang harus dijunjungnya dengan segala rasa hormat dalam dirinya. Ia akan menjunjungnya menuju tempat tertinggi hingga meletakkannya di kaki Arsy, sebagai wujud pengabdiannya di hadapan Allah Robbul Alamin. “Allahumma ini anzilu bika haajaty, ya Robbi” (sesungguhnya inilah hajat hamba, duhai Tuhanku).

Kutinggikan derajat manusia yang mengabdi kepada-Mu, sesuai risalah yang disampaikan Nabi-Mu.

Jika tidak demikian, inilah yang dimaksud para toriolo (leluhur) : “dE’ nasikenna oninna na bulunna” (tidak serasi bunyi dan bulunya). Ibarat seekor ayam jantan berbulu burik emas tapi bunyinya terdengar seperti perkutut.

Bunyi perkutut itu merdu, tapi bukanlah bunyi kokok seekor ayam jantan. Mengenakan busana bersimbol “tau” (walasuji) semata dipahami sebagai warisan kemuliaan belaka.

Padahal kemuliaan sesungguhnya tidak diwariskan kepada anak keturunan, melainkan diberikan kepada orang sekitar kita. Bahwa “orang mulia” yang “memberikan” kemuliaan, bukannya “menerima” kemuliaan. Memberi jauh lebih baik dari menerima.

Wallahu ‘alam BisH-sHawab. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT