Rabu, November 4, 2026
Beranda Sosial Budaya Sastra Makassar: Penggunaan Retorika dalam Rupama

Sastra Makassar: Penggunaan Retorika dalam Rupama

0
3798
Tradisi Sastra Lisan Makassar, bisa dibawakan dalam berbagai bentuk tutur, salah satunya yang disebut Rupama. (foto: ist/*)
Tradisi Sastra Lisan Makassar, bisa dibawakan dalam berbagai bentuk tutur, salah satunya yang disebut Rupama. (foto: ist/*)

Oleh: Nur Elsha Arsyad, Atsilah Khashibah Azul, Nurfauziah Syam *)

Related Post: Mengenal Sastra Makassar: Doangang

PALONTARAQ.ID  – Sastra daerah memiliki kedudukan yang sangat penting ditengah masyarakat. Hal ini dikarenakan sastra daerah dapat menjadi wahana pembelajaran kita untuk memahami masyarakat dan budayanya.

Sastra daerah lebih umum dikenal dengan sastra lisan. Salah satu sastra daerah di Indonesia yang sampai sekarang ini masih dilestarikan atau dipelihara oleh masyarakat pendukungnya adalah sastra daerah Makassar. Dalam kedudukannya sastra Makassar masih memegang peranan penting dalam masyarakat di Sulawesi Selatan, khususnya terhadap suku Makassar.

Adapun salah satu contoh sastra daerah makassar lisan ialah rupama atau cerita rakyat Makassar. Rupama atau cerita rakyat Makassar adalah sejenis karya sastra Makassar yang masuk kategori prosa yang sama dengan dongeng dalam bahasa Indonesia.

Kumpulan cerita itu hanya merupakan sebagian kecil dari jumlah cerita yang tersebar secara lisan di Makassar. Rupama atau cerita rakyat tersebut berfungsi sebagai hiburan dan sebagai sarana pendidikan bagi kalangan masyarakat.

Sastra merupakan sarana komunikasi ,melalui karya sastra rupama pengarang dapat penyampaikan ide atau gagasannya kepada pembaca.Tentunya penyampaian ide atau gagasan tersebut melalui bahasa yang dituang dalam karya sastra rupama.

Bahasa dalam karya sastra rupama adalah bahasa yang estetis atau indah dan mudah dipahami tetapi berbeda dengan bahasa sehari-hari. Dengan demikian, karya sastra bukan sekadar cerita penghayal semata, melainkan perwujudan dari kreativitas pengarang dalam mencurahkan gagasannya dengan bahasa yang estetis sehingga mudah dipahami di kalangan masyarakat.

Seperti yang diketahui Cerita rakyat yang ada di daerah, makin lama makin kurang dipahami atau kurang diminati oleh masyarakat,karena masyarakat lebih menyukai atau tertarik dengan rupama dari luar negeri contohnya cerita Cinderella, Snow WhitePutri salju, Hansel Gretel dan lain sebagainya.

Kesukaan anak muda pada saat ini terhadap cerita rakyat lokal semakin pudar. Salah satunya adalah karena sudah sangat jarang orang tua yang mau meluangkan waktunya untuk menceritakan cerita rakyat kepada anak-anak mereka.

Kurangnya pemahaman yang terkandung di dalam Rupama tersebut menjadikan moral, etika, akhlak anak-anak juga menjadi semakin tidak memperdulikan tidak terlalu memperhatikan sehingga nantinya sangat berpengaruh kedepannya termasuk pada saat remaja merupakan masa transisi yang kritis.

Adapun contoh Rupama Makassar yaitu Lapong Buaja siagang Lapong Tedong, Lapong Kura-Kura siagang Darek, I Kukang, Tau Dorakaya Ri Tau Toana. Rupama buaja na tedong penting untuk dilestarikan karena mengandung pesan moral yang dapat dijadikan teladan bagi generasi berikutnya.

Di dalamnya terdapat amanat bahwa tidak semua perbuatan baik akan mendapatkan balasan yang sama dari orang lain, akan tetapi hal tersebut tidak boleh menjadi penghalang bagi seseorang untuk berbuat baik. Perbuatan baik harus terus diupayakan kendati tidak ada satupun orang yang mengingatnya tetapi Tuhan telah mengingatnya.

Sedangkan amanat cerita I Kukang yaitu, punna anjariki tau kalumannyang teaki takkaluppai karaeng Allahu subhanawata’ala siagang taua ngaseng. Punna anjariki tau kasiasi teaki tappuki sumangakta siagang teaki takkaluppai ri Allahu subhanawata’ala harusukki lompo sumangakta.poro anjappai anne katallassanga.

Sastra daerah merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa yang banyak mengandung nilai-nilai penting. Untuk itu, diperlukan pemeliharaan dan pelestarian dari seluruh kalangan masyarakat khususnya di  kalangan generasi muda sebagai pelopor majunya suatu bangsa dan sangat berpengaruh bagi pelestarian budaya sastra daerah.

Penulis adalah Nur Elsha Arsyad, Atsilah Khashibah Azul, NurfauziahSyam, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, Universitas Negeri Makassar (UNM).

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini