BerandaSosial BudayaBahasa DaerahRetorika 'Pakkiok Bunting' dalam Upacara Adat dan Sastra Makassar

Retorika ‘Pakkiok Bunting’ dalam Upacara Adat dan Sastra Makassar

Oleh: Ria Astuti Hamzah, Nurkardiyanti, Putri Nurul Amalia *)

Related Post: Pakkio Bunting: Keindahan Puitis Memanggil Pengantin

PALONTARAQ.ID – Apakah kalian sadar jika saat ini kita telah memasuki zaman di mana era digital dan kemajuan teknologi semakin canggih yang mengakibatkan posisi kebudayaan dan adat istiadat bangsa kita cenderung tidak mendapat perhatian serius dari sebagian besar kalangan masyarakat Indonesia.

Khususnya para generasi muda yang kini cenderung lebih dominan mengadopsi budaya dari negara lain, dan menjadikannya sebagai suatu kebanggaan tersendiri. Sehingga mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap fragmen-fragmen budaya tak terkecuali hal yang berhubungan dengan budaya atau adat pernikahan.

Di Indonesia sendiri khususnya di Kota Makassar, pernikahan merupakan suatu peristiwa yang sangat penting dalam tahapan kehidupan manusia, maka dari itu persiapan mental maupun fisik harus dipersiapkan oleh masing-masing calon pengantin dengan sebaik-baiknya agar bahtera rumah tangga yang akan dijalani senantiasa berada dalam kondisi yang tentram dan damai.

Persiapan ini penting dilakukan karena pernikahan bukan hanya akan menyatukan dua insan, tetapi akan menyatukan dua keluarga besar loh. Dengan kata lain secara hakiki, pernikahan bukanlah suatu keterhubungan antara individu dan individu saja tetapi suatu kontrak antara kelompok (keluarga dengan keluarga).

Oleh karena itu bimbingan dan nasihat-nasihat mengenai cara menghadapi seluk beluk kehidupan rumah tangga menjadi modal yang sangat penting bagi , yang tentunya nasihat itu dapat kita peroleh melalui media bacaan, orang tua dan keluarga dekat yang sudah menjalani seluk beluk berumah tangga.

Pernikahan adalah salah satu momen yang penting di kehidupan, maka segala sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin.
Agar proses dan rangkaian pernikahan kalian dapat berlangsung khidmat dan lancar. Tidak jarang biaya besar digelontorkan oleh calon pengantin, ada juga pelaksanaan pernikahan dengan mengusung adat suku tertentu.

Dalam pelaksanaan adat selalu dijumpai berbagai tahapan pernikahan yang berbeda antara satu suku dengan suku lainnya, perbedaan tersebut menunjukkan keunikan dan kekhasan masing-masing suku yang sekaligus menjadi keberagaman budaya yang selalu menarik untuk ditelisik lebih dalam.

Karena saya berdomisili di kota Makassar, saya akan sedikit bercerita tentang salah satu adat pernikahan dari suku Makassar, yang di mana prosesi penyambutan pengantin yang disertai penuturan syair Pakkiok Bunting.

Pakkiok Bunting berasal dari bahasa Makassar yang terdiri atas dua kata yakni pakkiok artinya pemanggil atau penyambutan dan bunting berarti pengantin atau mempelai.

Syair Pakkiok Bunting merupakan salah satu sastra lisan suku Makassar berupa serangkaian larik-larik puitis yang digunakan dalam prosesi penyambutan pengantin, contohnya ketika mempelai pria beserta rombongan tiba di rumah mempelai wanita, lalu seorang laki-laki tampil menuturkan syair Pakkiok Bunting.

Zaman dahulu, jika rombongan pengantin sudah tiba di rumah pasangan pengantin tersebut, mereka tak akan menaiki anak tangga atau masuk ke rumah jika mereka tidak di panggil secara resmi. Dan biasanya jika lantunan Pakkiok Bunting sudah diucapkan, si pelantun juga menaburkan beras kepada pengantin tersebut.

Syair Pakkiok Bunting dianggap menjadi salah satu bentuk interaksi antara keluarga mempelai wanita yang diwakili oleh penutur Pakkiok Bunting dengan keluarga mempelai pria, dalam interaksi tersebut bermakna komunikasi penyampaian nilai-nilai budaya yang sangat penting dalam membina rumah tangga.

Nilai-nilai tersebut tidak hanya berguna dalam pembinaan sikap dan perilaku bagi pengantin baru tapi juga penting dipahami oleh seluruh masyarakat yang hadir dalam acara tersebut.

Bagi pasangan suami istri yang telah lama membina rumah tangga, nilai-nilai tersebut dapat menjadi bahan penyegaran untuk menginstrospeksi diri. Nilai-nilai tersebut meliputi nasihat mengembangkan tanggung jawab, nasihat untuk menjaga kesetiaan terhadap pasangan, dan anjuran untuk membiasakan hidup sederhana.

Dengan demikian, penyambutan pengantin yang disertai dengan syair Pakkiok Bunting menambah kemeriahan suasana pesta pernikahan juga memberi nilai tambah dengan penghayatan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam syair.

Kemeriahan suasana tercipta dari balasan atau sahut-sahutan yang riuh dari seluruh pendengar syair Pakkiok Bunting yang ada di tempat tersebut ketika pelantun syair Pakkiok Bunting menyelesaikan setiap kalimatnya.

Polesan pelaksanaan adat dalam prosesi penyambutan itu pun semakin menambah hikmat acara penyambutan tersebut. Hal ini sesuai manfaat sastra lisan sebagaimana yang dikemukakan oleh Amir (2013: 139) bahwa selain dipandang sebagai hiburan, sastra lisan juga dipandang mengandung pesan pendidikan, sebagai alat untuk orang berkumpul, dan sebagai ajang untuk menyatakan eksistensi diri. (*)

Adat Pakkiok Bunting pada Acara Pernikahan Masyarakat Makassar (2)
(* Penulis adalah Ria Astuti Hamzah, Nurkardiyanti, Putri Nurul Amalia, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah Universitas Negeri Makassar.
(** Tulisan ini telah disunting seperlunya oleh Redaksi Palontaraq.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT