Oleh: La Oddang Tosessungriu
Tulisan sebelumnya: La Galigo, Sutranya Sastra
PALONTARAQ.ID – Bahasa dan sastra, ibarat logam dan emas. Bahwa emas pastilah logam adanya, namun tak semua logam adalah emas. Maka sastra sesungguhnya adalah monumen peradaban manusia yang paling agung, sehingga mu’jizat paripurna Shollallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Al Furqon, yakni wujud sastra bahasa yang tiada tara.
Tana Luwu yang merupakan mata air peradaban masyarakat Bugis disegala penjuru, menyimpan ribuan bait syair sastra Elong Sagala yang dilagukan di Istana pada segala waktu.
Syair Elong Sagala adalah gubahan yang rumit karena setiap baitnya terdiri dari 3 baris, hal mana baris pertama terdiri dari 8 huruf, baris kedua 7 huruf dan baris ketiga 6 huruf. Maka inilah sastra yang diikat aksara, pertanda jika Bahasa Toware’ yang menjadi bahasa Istana di Luwu terbit bersama aksaranya.
Ininnawa mappatakko
Alai pakkawaru
Kalawing atiE
Bunga-bunga tonrongsalo
Lingkajo masEngereng
Luwu masagala
Lopi sampe’ ri CEnrana
PolE ri Lalengtonro’
Lureng to WagE
Ciddai galungna Luwu
Sedding tennaEsa’na
Turungeng to Maru’
Bua na mua PonrangngE
Masuli ri Larompong
TellEsang ri Wajo
Maddakko masEmasEa’
Gangkanna Luwu SoppEng
Nasanrang masEku
Malleppi MasEmasEa’
SittanrE Latimojong
Leppina masEku
….. ….. ….. ….. …..
Sesungguhnya, bahasa adalah barometer peradaban suatu bangsa. Semakin tinggi ragam strata bahasanya, semakin tinggi strata peradaban bangsa itu.
Demikian pula dengan taraf kualitas setiap individu, kehalusan tutur katanya adalah penanda ketinggian martabatnya. Adapun halnya kebaikan hati, hanya Allah Azza Wajalla yang Maha Tahu warna yang sesungguhnya. Manusia hanya bisa berperkira didasari wujud perilaku semata.
Olehnya itu, anak-anakku para BarE’-BarE’na CEnrana Luwu, sibolE-bolEna tapakkiade’i teppa timutta, enrengngEtopa uki’ta. Pohon cendana memiliki serat lurik yang indah, lebih dari itu getahnya harum semerbak mewangi, pengharum pusaka segala pusaka. Namun jua, akarnya tetap tertanam di bumi.
Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)


