BerandaKolomQasidah dan Perkembangannya

Qasidah dan Perkembangannya

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

PALONTARAQ.ID – Seni qasidah lahir bersamaan dengan kelahiran Islam. Tepatnya pada saat Kaum Anshar (Penduduk Madinah) menyambut dengan penuh suka-cita Nabi Muhammad SAW bersama Abu Bakar Ash-Shiddieq yang hijrah dari Makkah ke Madinah (dahulunya disebut Negeri Yatsrib).

Pada saat kedatangan Nabi Muhammad SAW itulah, Masyarakat Yatsrib menyambutnya dengan cara mendendangkan lagu-lagu salam dan pujian diiringi lantunan musik rebana, yang hingga kini masih populer, melegenda dan masih dapat dinikmati hingga saat ini.

Berikut Lirik lagu-lagu pujian itu:

Ya Nabi Salam ’Alaika
Ya Rasul Salam ’Alaika
Ya Habib Salam ’Alaika
Sholawatullah ’Alaika

Anta Syamsun Anta Badrun
Anta Nuurun Fauqo Nuuri
Anta Iksiru Wagholi…
Anta Misbahus Shuduri

Artinya:

Ya Nabi, keselamatan untukmu
Ya Rasul, keselamatan untukmu
Ya Kekasih, keselamatan untukmu
Engkaulah matahari, engkaulah rembulan
Engkau cahaya di atas cahaya
Engkau penerang kegelapan
Engkau pelita penerang hati

Tala’al Badru ‘alaina
Min tsaniyatil wada’
Wa jabassyukru ‘alaina
Mada ‘a lillahida’
Ayyuhal mab ‘utsufina
Ji’tabil amril muta’
Ji’ta syarraftal Madinah
Marhaban ya khairada’
Saqahullahu ta’ala Rahmatan Lil’alamin
Fa ‘alal barrissyu’a wa ‘alal bahrissyu’a

Artinya:

Wahai bulan purnama yang terbit kepada kita
Dari lembah Wada’
Dan wajiblah kita mengucap syukur
Dimana seruan adalah kepada Allah
Wahai Engkau yang dibesarkan di kalangan kami
Datang dengan seruan untuk dipatuhi
Anda telah membawa kemuliaan pada kota ini
Selamat datang penyeru terbaik ke jalan Allah
Nabi Muhammad di berikan Allah kepada kita sebagai rahmat semesta alam
Di tanah ada sebuah pancaran.

Seni qasidah dengan musik rebana seiring perkembangannya menjadi satu identitas musik bagi Umat Islam, meski di kalangan ahli fikih seringkali terjadi salah persepsi dalam menafsirkan ayat-ayat tentang musik dan lagu.

Grup Qasidah Rebana. (foto: ist/*)
Grup Qasidah Rebana. (foto: ist/*)

Qasidahan dengan musik rebana inilah pada awalnya dianggap sebagai seni musik islami, sehingga menjadi tradisi berkesenian, bahkan digemari di kalangan ulama dan santri di Pondok Pesantren.

Berbeda dengan jenis musik dan lagu yang tumbuh dalam budaya Nusantara, Qasidah merupakan bentuk kesenian yang diapresiasi oleh kalangan ulama dan pesantren, dan pada saat yang sama kurang menerima jenis kesenian lainnnya, bahkan cenderung mengharamkan.

Itulah sebabnya Kesenian Qasidah lebih banyak berkembang pada masyarakat yang memiliki ciri budaya Islam yang kental seperti di Pondok Pesantren.  Dari segi isi syair lagu dan musik, para ulama membuat batasan, bahwa Qasidah haruslah mengandung pesan-pesan sebagai berikut:

  • Mendorong keimanan kepada Allah dan Hari Akhir;
  • Mendorong orang untuk beribadah dan taat terhadap Allah serta Rasulnya.
  • Mendorong orang untuk berbuat kebajikan dan menjauhi ma’shiyat.
  • Mendorong orang untuk bertindak amar ma’ruf dan nahyi munkar.
  • Mendorong orang agar memiliki etos kerja tinggi dan berjiwa patriotis.
  • Mendorong orang agar menjauhi gaya hidup mewah serta berbuat riya.
  • Tidak menampilkan pornografi maupun porno-aksi dan menggugas syahwat.
  • Tidak menampilkan syair yang cengeng sehingga membuat orang malas bekerja.

Qasidah sebagai salah satu bentuk kesenian dapat bertahan sejak mulai berkembang di Pondok Pesantren ataupun Madrasah. Qasidahan yang dianggap masih asli ialah yang menggunakan alat musik rebana dan kecrek. Di kekinian, sudah berkembang dengan sentuhan alat musik modern.

Secara harfiah, Qasidah berarti nyanyian, tapi yang dimaksud disini ialah menunjuk pada ciri khas lagu serta musik khasnya, sebagai syiar dakwah Islam.

Perkembangan qasidah, khususnya di Nusantara berbarengan dengan seni dan alat musik yang mengiringinya. Rebana misalnya. Begitu pula dengan tari daerah yang bersesuaian dengan karakter musik rebana. Sebagai contoh Tari zapon, yang  merupakan tarian tradisional yang memakai rebana sebagai pengiringnya.

Rebana umumnya dipakai untuk qasidahan, meski ada juga jenis rebana hadroh. Alat musik pengiringnya ada Bass Hadroh, wujudnya seperti drum bass biasa, tapi ada perbedaan pada salah satu bagiannya. Ada pula Ketipung, alat musik pukul yang menghasilkan suara untuk mengiringi jalannya penampilan.

Selain itu ada pula Marawis, mirip dengan rebana, baik dari cara memainkan, syair lagu yang dibawakan, hingga tekniknya. Lainnya, ada Dumbuk Batu, seperti gendang, tetapi hanya memiliki satu lapisan untuk dipukul, sisi lainnya memiliki diameter berbeda dan berlubang. Ada pula Dumbuk Pinggang, alat musik perkusi yang dimainkan dengan cara dipukul, bentuknya juga sama seperti dumbuk batu.

Tak ketinggalan alat musik Tamborin, jenis perkusi yang dimainkan dengan cara digoyang dan dipukul, suaranya sangat ramai. Begitu pula Tabla, gendang, bedug, dan gambus. Semuanya bernuansa musik islami dengan karakter khasnya yang tidak dimiliki musik lain.

Fungsi Qasidah pada umumnya adalah untuk hiburan, meski ada banyak makna didalamnya pada setiap pesan pada syairnya. Tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW, Dakwah Islam, dan lain sebagainya. Semuanya menjadi batu batu penyusun tak terpisahkan dari bangunan Islam di Nusantara.

Wallahu ‘alam bish-shawab. Semoga bermanfaat adanya. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT