Oleh: M. Farid W Makkulau
Tulisan sebelumnya: Pakkio Bunting: Keindahan Puitis Memanggil Pengantin
PALONTARAQ.ID – Dalam pergaulan sosial masyarakat Makassar, lazim kita mendengar ungkapan “Doangang” sebagai permohonan, permintaan, atau do’a.
Itulah sebabnya, Doangang atau Paddoangang dimaknai sebagai Permohonan Do’a. Kata yang semakna dan seringkali menjadi nama tempat adalah Paddoang-doangan, tempat menaruh harapan atau tempat berdo’a.

Doangang yang akan penulis bahas sebenarnya disini ialah Doangang sebagai ungkapan sakral, dikategorikan sebagai salah satu jenis puisi lama dalam Sastra Makassar yang hampir sama maknanya dengan “mantra” dalam Sastra Indonesia.
Ya, memang kata “Doangang” mengandung makna permohonan, permintaan atau harapan. Tetapi ia bukan sembarang permohonan, permintaan atau harapan, tetapi ungkapan sakral dan seringkali dibarengi dengan kesaktian atau kekuatan gaib, dari sisi penutup atau pengungkapnya.
Itulah sebabnya, hampir seluruh aktivitas masyarakat Makassar pada masa lampau didahului dengan membaca “Doangang” dengan harapan agar mereka selamat dunia akhirat.
Penutur Doangang harus memperhatikan beberapa persyaratan agar permohonan yang dibacanya mendapat berkah dari Allah, yaitu tidak boleh membanggakan atau menyombongkan diri.

Do’a atau Doangang itu tidak diucap pada sembarang waktu dan tempat, harus yakin bahwa permohonan yang diucapkan itu mempunyai daya magis dan gaib, serta dipakai dengan maksud untuk membela diri atau menolong orang.
Umumnya Doangang diberikan atau disampaikan sebagai pesan pula kepada orang yang akan merantau ke negeri orang jauh dari kampung halaman.
Doangang pada asalnya hanya diberikan oleh tetua adat, dukun atau Orang-orang yang dituakan dalam Masyarakat Makassar.
Berikut contoh Doangang yang biasa dipakai dalam keseharian:
Doangang punna lanaungko ri butta (Mantra ketika akan turun ke tanah)
I kau butta kuonjo’ = wahai tanah yang akan kuinjak
Palewanga’ tallasakku = luruskanlah jalan hidupku
Eranga’ mange = bawalah aku
Ri kaminang Mate’nea = ketempat yang paling baik
Doangang punna lattinro (Mantra ketika akan tidur)
Kupantinromi tubuku = Saya sudah menidurkan tubuh saya
Kukalimbu’ sahada’ku = Dengan berselimut syahadat
Patampulo maleka ‘ = Empat puluh malaikat
Anjagaia’ i lalang tinro = Yang menjagaku dalam tidur
Saba’ allahu ta’ala = Karena allah semata.
Doangang Punna Ambangung Tinro (Doa Ketika Bangun Dari Tidur)
Kukangkangmi anne linoa = Dunia ini sudah kugenggam
Kupasapu ri rupangku = Sudah kuusapkan keseluruh tubuhku
Kuerang kale = Aku membawa diriku
Butta salama’ kuonjo’ = Menginjak tanah yang selamat
Lanri Allahu Ta’ala = Karena Allah semata
Doangang Pa’bongka Setang (Mantra Pengusir Setan)
Kau setang kau longga’ = Kau setan kau tinggi
Pali’-palili kalennu = Singkirkan dirimu
Lammaloi yukkung = Yukkung akan lewat
Baja’ bassia = Baja besi
Panggala-gala Buttayya = Penguat tanah
Hu.. Kumpayakum. = Jadilah, maka jadilah.
Doangang Punna A’jappa (Doa saat Berjalan)
Bunga ribireang kukangkang = Bunga biraeang yang kugenggam
Bunga bulang kusoeang = Bunga bulan yang kuayunkan
Bunga ni ngaia ri lino = Bunga yang disukai didunia
i nakke ngaseng pata = Saya semua yang punya
Saba’ Allahu Ta’ala = Karena Allah semata!
Doangang Sollana Ni Kamaseangko (Mantra Agar Dikasihani Orang)
I nakke minne Ana’ I lalang mate’ne = Saya adalah anak yang berbahagia
Napinawanga’ pammuji = Yang selalu diikuti oleh pujian
Ata – Karaeng = Baik hamba maupun raja
Mammuji Mangngamaseang aseng ri nakke = Semua mengasihi dan menyayangi saya
Barakka’ La Ilaha Illallah = Berkah Allah semata
Doangang Parampa’ Nassu (Doa Penghilang Amarah)
Limbu’bu’jintu pa’mai’nu = Perasaanmu itu hanya debu
Bombangjintu nassunu = Marahmu hanya ombak
Kulappa’ na kuonjokang = Akan kulipat dan kuinjak
Tamammoterang = Sampai tidak kembali.
Jika merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Mantra itu diartikan sebagai susunan kata yang berunsur puisi (seperti rima dan irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib.
Mantra biasanya diucapkan dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain, biasa pula diucapkan orangtua kepada anak atau cucunya.
Dalam Sastra Melayu lama, kata lain untuk mantra adalah jampi, serapah, tawar, sembur, cuca, puja, seru, dan juga tangkal.
Tujuan pengungkapan Doangang (Mantra) dalam khazanah Sosial Masyarakat Makassar adalah untuk pengobatan, untuk “pakaian” atau pelindung diri, pekerjaan, dan adat istiadat.
Dari segi bentuk, Doangang sebenarnya lebih sesuai digolongkan ke dalam bentuk puisi bebas, yang tidak terlalu terikat pada aspek baris, rima dan jumlah kata dalam setiap baris.
Dari segi bahasa, terkadang Doangang menggunakan bahasa khusus yang sukar dipahami. Itulah sebabnya penggunaannya terkesan sangat eksklusif dan tidak boleh dituturkan sembarangan, karena bacaannya dianggap keramat dan tabu.
Doangang muncul sebagai salah satu bentuk kearifan lokal dalam membaca situasi dan kondisi masyarakat pada masa itu, yang kemudian diwariskan kepada keturunan, murid ataupun orang yang ia anggap akan menggantikan fungsinya sebagai “Orangtua yang dituakan”.
Akankah Doangang akan bertahan di masa kekinian? Perlu diingat bahwa, kemunculan dan penggunaan Doangang ini umumnya berkaitan dengan pola hidup masyarakat Makassar pada masa lampau yang masih sangat tradisional dan sangat dekat dengan alam.
Jadi, semakin modern pola hidup Masyarakat Penuturnya dan semakin jauh dari alam, maka Doangang itu akan semakin tersisihkan dari kehidupan sosial mereka.
Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan sastra Makassar, tinggal di Pangkep.


