BerandaSosial BudayaBahasa DaerahRetorika 'Sinrilik' dalam Sastra Makassar

Retorika ‘Sinrilik’ dalam Sastra Makassar

Oleh: Andi Adil Makkulau, Anugrah Basri, Muh Arsyil Bagaskara.

Related Post: Mengenal Sastra Makassar: Sinrilik

PALONTARAQ.ID – Sinrilik merupakan salah satu karya sastra lisan dalam masyarakat Makassar yang hingga saat ini masih dipelihara dan diminati masyarakat Makassar.

Sinrilik adalah karya sastra makassar yang berbentuk prosa dimana cara penyampaiannya dilagukan secara berirama baik dengan alat musik maupun tanpa alat musik  yang didalamnya terdapat informasi, inspirasi, pesan yang bijak sebagai pedoman generasi muda. Pesan dan nasihat dalam setiap bertutur.

Sinrilik disusun dalam sebuah kisah ataupun narasi yang disampaikan dengan iringan irama yang indah, dengan pilihan pilihan kata yang menarik.

Sinrilik dilantungkan oleh seorang pria yang bisa diiringi dengan musik maupun tidak. Sinrilik terbagi menjadi dua bagian yaitu Sinrilik bositimurung dan Sinrilik pakesok-kesok

Sinrilik Bosi timurung yang dalam bahasa Makassar berarti hujan turun, merupakan Sinrilik yang ketika dalam keadaan sepi dan orang-orang tengah tertidur lelap.

Sinrilik Bosi Timurung

Sinrilik dan Kesok-kesok adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. (foto: dok.pribadi A.Surya Dewan)
Sinrilik dan Kesok-kesok adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. (foto: dok.pribadi A.Surya Dewan)

ini tidak diiringi oleh alat musik apapun, serta narasi yang pendek dan berisi kesedihan atau curahan hati pelantungnya.

Sedangkan Sinrilik pakesok-kesok adalah pertunjukan Sinrilik yang diiringi alunan alat musik berupa kesok-kesok.

Narasi Sinrilik jenis ini adalah cukup panjang dengan tema cerita yang lebih bermuatan positif dan menggugah semangat seperti kisah kehidupan seorang tokoh, sejarah perjuangan, budaya, maupun masalah agama.

Pasinrilik. (foto: ist/*)
Pasinrilik. (foto: ist/*)

Berbeda halnya dengan Sinrilik Bosi timurung, Sinrilik kesok-kesok ditampilkan untuk menghibur orang banyak.

Kesok-kesok atau gesong kesong dulunya dikenal juga dengan nama kerek-kerek gallang, adalah alat musik gesek tradisional yang terbuat dari tempurung kelapa, kulit kambing, serta kayu, dan hanya memiliki dua buah senar.

Untuk menggeseknya biasanya digunakan alat gesek biola, namun bisa juga dengan menggunakan kawat biasa. Penggunaan alat musik ini hampir sama dengan biola, hanya saja tidak ditaruh pada pundak pemain namun ditempatkan pada lantai pertunjukan dengan posisi berdiri.

Irama kesok-kesok yang dimainkan pada pertunjukan Sinrilik haruslah disesuaikan dengan tinggi rendahnya nada suara dari pasSinrilik serta isi narasi yang sedang ditampilkan, misalnya pasSinrilik sedang menceritakan sebuah kisah perjuangan melawan penjajah tentunya gesekan nadanya akan terdengar cepat dan keras sehingga dapat menggugah emosi dan imajinasi dari pendengar.

Sedangkan jika sedang menceritakan kisah-kisah bernuansa keagamaan, gesekan dan temponya cenderung lebih lambat. Jadi, keberadaan iringan musik kesok-kesok itu sendiri dapat kita samakan dengan irama backsound yang menjadi latar dari sebuah film.

Massinrilik. (foto: ist/*)
Massinrilik. (foto: ist/*)

Setiap orang dapat mempelajari Sinrilik, sehingga seorang pasSinrilik bisa saja datang dari berbagai bidang profesi seperti petani, nelayan, ataupun guru.

Pada jaman dulu, seorang pasSinrilik mendapatkan hak yang istimewa dalam kehidupan sosialnya, baik berupa materi (seperti pemberian sebidang sawah dari penguasa setempat), maupun yang berwujud immaterial, misalnya pengakuan dari masyarakat sebagai seorang yang ahli di bidangnya.

Contoh Sinrilik

  1. Sinrilik Pakesok – kesok

Nampami sulengka rapak, natakbenrong binakbakku kesok – kesokna tampaselaki matangku

“Baru saja ia bersila, terpukullah jantungku, kesok – kesoknya membuatku tak dapat tidur”.

Penampilan dan gesekan kesok – kesok tersebut sangat memikat penonton, sehingga tahan untuk tak tertidur (Sirajuddin Bantang).

2. Sinrilik bositimurung

Bosi timurung, batu merah pandanganku, dingin menulang jamrud hatiku. Semalam suntuk aku gelisah, aku tidak dapat tidur, mataku tidak pernah terlena.

Robek-robeklah selimut yang tidak pernah kubuka memikirkan raut mukamu, menghitung-hitung kebaikanmu. Engkau bagaikan bulan yang tidak pernah tertutup awan.

Engkau seperti bintang yang tembus dipandang, berkedip-kedip tidak pernah lepas dari mataku. Engkau tidak pernah lepas dari perhatianku, mutiara kamarku yang selalu menerangi rumahku. Suluh di kegelapan penerangan di tengah malam.

Hatimu baik, tubuhmu langsing jarang menyamainya, tingkahmu bagus, sopan tutur sapanya, si manis darah yang menawan dipandang mata.

Sudah kukatakan bahwa walau pattola (gadis pilihan) sudah berkumpul bermain, walau cinde (gadis pilihan) sudah berkumpul di halaman, pilihanku tidak akan berpindah, pusat pandanganku tidak akan bergeser ujian cintaku.

Memang kepadamulah meraja rasa hatiku. Pada akhirnya dia berkata: bagaikan intan kusayangimu, bagaikan jamrud kurindukanmu, bagai emas kusimpan di dalam hati.

(* Penulis adalah Andi Adil Makkulau, Anugrah Basri, Muh Arsyil Bagaskara, Mahasiswa kelas B Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah angkatan 2019. Fakultas Bahasa dan Sastra. Universitas Negeri Makassar.

(** Tulisan ini telah disunting seperlunya oleh Redaksi Palontaraq.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT