Beranda Feature Work from Home ala Etta Adil

Work from Home ala Etta Adil

 

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

PALONTARAQ.ID – Banyak hal yang bisa dilakukan ketika kita memilih untuk tetap di rumah (stay at home) saja, paling tidak bagi saya sebagai seorang penulis, blogger dan guru ditengah pandemi Virus Corona (Covid-19).

Sebenarnya jauh sebelum pandemi Covid-19, banyak kegiatan saya yang sudah dilakukan secara online.

Jadi, ditengah kondisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat ini bukannya pekerjaan berkurang tapi malah jadinya bertambah. Karena, yang sudah online tetap online dan yang selama ini tidak dikerjakan online malah dionlinekan.

Beberapa hal yang saya lakukan ini pada prinsipnya bisa diikuti oleh pelajar dan mahasiswa. Mengapa demikian?

Ya, karena relatif mereka tanpa beban (belum ada tanggung jawab mencari nafkah) dan juga sudah diinstuksikan sebelumnya melalui guru/dosen mereka untuk mengikuti pelajaran/perkuliahan secara online.

Beberapa hal yang saya lakukan tersebut–anggap saja ini work from home ala Etta Adil–adalah sebagai berikut:

1. Ngeblog atau Blogging

Kegiatan ini sudah menjadi rutinitas sejak Palontaraq dilaunching di awal Tahun 2017. Dalam sehari, minimal menulis satu berita dan satu artikel/opini. Selebihnya mengecek artikel yang masuk via email atau di medsos.

Lihat: Tips NgeBlog ala Etta Adil

2. Menulis di Media Mainstream

Meskipun sudah memiliki media tersendiri, tetap harus mengasah kemampuan menulis di media mainstream, surat kabar dan majalah cetak, baik terbitan lokal maupun nasional.

Lihat: Tips Praktis Menulis Artikel

3. Menyelesaikan Naskah Buku

Ini juga merupakan kegiatan rutinitas jauh sebelum ada Pandemi Covid-19, khususnya pada malam hari. Ada banyak naskah buku–baik pribadi maupun pesanan–yang menunggu untuk diselesaikan.

Buku karya penulis, "Berkebudayaan Malu". (foto: ist/palontaraq)
Buku karya penulis, “Menjawab Waktu-Antologi Puisi”. (foto: ist/palontaraq)

Buku karya penulis, "Berkebudayaan Malu". (foto: ist/palontaraq)
Buku karya penulis, “Berkebudayaan Malu”. (foto: ist/palontaraq)

Dengan #dirumahaja, penulis punya waktu yang cukup menyelesaikan naskah buku itu dan mengirimkannya secara berkala pada penerbit major ataupun pada penerbit indie. Target minimal 1 buku perbulannya.

Lihat: Menulislah dan Engkau akan bisa Biayai Dirimu sendiri

4. Berolahraga dan Menjaga Kesehatan

Ini juga merupakan rutinitas umum dan bukan hal baru. Hanya disesuaikan saja kondisi dan intensitas waktunya.

Selama masa “stay at home” ini, olahraga yang dilakukan hanya lari keliling tiga kali lapangan basket, dan jika sempat pada sore hari latihan memanah (rimayah).

Lihat: Jangan Pernah Bosan Memanah

Untuk menjaga kesehatan, selain meluruskan niat dan selalu berpositif thinking, juga rutin mengonsumsi herba dan berbekam (hijamah).

Berbekamlah, karena itu sunnah. (foto: ist/palontaraq)
Berbekamlah, karena itu sunnah. (foto: ist/palontaraq)

Lihat: Keutamaan Berbekam (Hijamah)

5. Menata Buku dan Ruang Kerja

Kegiatan ini khas “tugas kamar” rutin. Bagi seorang penulis, ruangan favoritnya adalah kamar buku atau ruang kerja yang dipenuhi buku.

Ruang kerja ini haruslah selalu terkondisikan baik, semacam jadi mood buster-lah agar tetap semangat menulis dan menghasilkan karya baru.

Diskusi Online "Digital Heritage" via Zoom. (foto: ist/palontaraq)
Buku “Berkebudayaan Malu”, terbitan Maret 2020. (foto: ist/palontaraq)

Termasuk rutinitas wajib di Ruang Kerja selain menulis buku adalah meresensi buku, entah itu atas permintaan penulisnya (karya orang lain) ataukah permintaan penerbit. Oh iya, terkadang pula selingan menulis resensi film yang sudah ditonton.

Lihat: Buku adalah Award bagi Penulisnya

6. Mengontrol Class Room dan PPDB Online

Sejak meliburkan Anak-anak/Santriwati sejak Tanggal 17-31 Maret 2020 lalu, kemudian diperpanjang lagi sampai 31 Mei yang akan datang, saya membuat 6 grup Whatsapp /Telegram “Class Room” bagi Santriwati sesuai jumlah angkatan (Kelas VII-XII) untuk instruksi pembelajaran dari rumah, sekaligus memantau Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) 2020 secara online.

Lihat: Instruksi dan Mekanisme Pembelajaran Daring di Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep

Grup WA sebenarnya bukan media belajar dari rumah, hanya menjadi ruang instruksi dan komunikasi, kadang pula dijadikan ruang bercanda, meneruskan informasi Kemendikbud, mengajak kampanye #StayHomeSaveLives atau berbagi informasi seputar Pandemi Covid-19.

01immim3
Belajar Daring via Zoom dengan Santriwati Putri IMMIM Kelas IX. (foto: ist)

Pembelajaran yang sebenarnya dilakukan melalui aplikasi Google Form, Hang Out Meeting atau Google Class Room, Webex Meeting, Zoom Cloud Meeting atau melalui media Web Blog dan Website Pesantren.

7. Seminar, Training dan Diskusi Online

Meski tetap #dirumahaja, ada banyak info kegiatan seminar, training dan diskusi online yang penulis terima dan dikirimkan teman. Ada yang penulis ikuti sesuai dengan waktu yang tersedia, apalagi jika temanya menarik dan bisa berdampak terhadap pekerjaan dan profesi.

Diskusi Online "Digital Heritage" via Zoom. (foto: ist/palontaraq)
Diskusi Online “Digital Heritage” via Zoom. (foto: ist/palontaraq)

Ada pula beberapa lembaga atau komunitas yang bermaksud menyelenggarakan seminar, training dan diskusi online dengan menghadirkan saya sebagai speaker/pemateri. Beberapa diantaranya saya tolak, dan ada satu-dua diantaranya yang saya terima.

Fokus saya di masa pandemi ini ialah mengkarantina diri, lebih banyak belajar dan mengurus diri sendiri, termasuk ‘proyek pribadi’.

Jika semuanya telah selesai, Insya Allah akan kembali menerima permintaan teman-teman di banyak lembaga dan komunitas. Saat ini fokus mengurus dan mengembangkan lembaga/komunitas sendiri serta menjalin kerjasama dengan Sponsor/Lembaga lain.

8. Distance Learning/Kuliah Online

Kuliah jarak jauh atau umum dikenal dengan istilah “Distance Learning” ini telah penulis lakukan sejak setahun lalu atau lanjutan dari Tahun 2019 lalu. Kuliah Online ini umumnya via Live Facebook, Video Youtube, Google Class Room, dan sekarang populer aplikasi Zoom.

Penulis di Ruang Hotspot Center IMMIM. (foto: ist/palontaraq)
Penulis di Ruang Hotspot Center IMMIM. (foto: ist/palontaraq)

9. Mengikuti Lomba Menulis

Ditengah kesibukan yang ada, saya berusaha menyempatkan juga mengikuti Lomba Menulis, tentu dengan harapan ada tambahan pemasukan.

Beberapa diantara Lomba Menulis itu dengan fasilitas karya akan dibukukan, baik fiksi (Puisi, Cerpen, Novel) maupun karya non fiksi, yaitu dengan menerbitkan karya tulis ilmiah skripsi/tesis menjadi buku atau dimuat di jurnal ilmiah.

Itulah kegiatan saya dalam masa pandemi Covid-19. Penting bagi kita untuk tak hanya sekadar sibuk, tapi juga produktif. Selain harus banyak bersabar, bertawakkal dan menyerahkan sepenuhnya kepada IradatNya, semoga musibah ini cepat berlalu.

Meski tetap terasa ada yang berbeda, karena harus menjaga jarak dan karenanya tidak ada interaksi secara langsung dengan Teman-teman guru, blogger, dan penulis yang biasa ngumpul menyelesaikan ‘masalah bersama’ di Warung Makan, Cafe atau Warkop.

Semoga Pandemi Covid-19 dapat segera berakhir sebelum memasuki Bulan Suci Ramadhan. Insya Allah! (*)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT