BerandaHighlightBuku adalah Award bagi Penulisnya

Buku adalah Award bagi Penulisnya

Oleh:  Etta Adil

PALONTARAQ.ID – SEJAK kecil penulis sudah suka membaca buku. Boleh dibilang, tiada hari tanpa membaca buku.

Buku dengan sendirinya telah menjadi kebutuhan harian. Rasanya hari hambar, basi dan tak bermanfaat tanpa melewatinya dengan belajar dan membaca banyak buku.

Kadang suatu buku penulis baca dengan sangat serius dengan menyiapkan catatan khusus sehingga harus meluangkan waktu khusus yang lama, di tempat yang khusus pula dimana tidak ada gangguan dari siapapun.

Terkadang pula penulis bercengkerama dengan buku di sela waktu senggang saja, namun kebanyakan diantaranya buku adalah pengantar tidur dikala mata masih terjaga.

Tiga buku biografi. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Tiga buku biografi. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Akrabkan diri dengan Buku, salah satu jalan menuju kebahagiaan. (foto: ist/palontaraq)
Akrabkan diri dengan Buku, salah satu jalan menuju kebahagiaan. (foto: ist/palontaraq)

Untuk yang terakhir ini, buku itu adalah umumnya buku fiksi. Selain memperbanyak membaca, imbangi pula dengan banyak menulis sebagai kebutuhan untuk berkembang dan mengembangkan diri.

Lihat pula: Menulis: Kebutuhan untuk Berkembang

Setiap bulan, penulis menyisihkan uang saku untuk membeli buku minimal 4 judul, dengan perhitungan satu buku perpekannya.

Jadi, dalam setahun penulis membeli buku minimal 48 eksemplar dengan judul buku yang berbeda tentunya.

Masih sangat kurang, bukan? Ya, Inipun penulis nilai masih sangat kurang.

Dua buku karya penulis. (foto: ist/palontaraq)
Dua buku karya penulis. (foto: ist/palontaraq)

Semakin banyak informasi yang kita baca dan serap dari buku, maka semakin berpeluang kita sukses dan bahagia dalam hidup.

Bukankah agama mengajarkan kepada kita bahwa untuk meraih dunia dan akherat dengan ilmu.

Ya, sukses hidup adalah dengan ilmu, dan salah satu pintunya adalah dengan memperbanyak membaca dan belajar.

Sukses apapun itu, baik dalam rumah tangga, sukses dalam pekerjaan dan bisnis, sukses mengenal diri dan lingkungan, ataupun sukses dalam ibadah keagamaan.

Lihat pula: Menulis sebagai Interaksi Sosial

Apapun yang kita hadapi dan apapun yang menjadi harapan kita, tentu semuanya memerlukan proses pembelajaran dan buku (dengan membaca buku) tentu adalah salah satu jalan atau solusinya.

Sewaktu masih aktif jadi wartawan. Penulis seringkali membaca ulang berita yang sudah termuat di Koran, baik dari laporan wartawan lain maupun berita sendiri.

Begitupun berita yang ditulis teman wartawan lainnya pada banyak koran yang berbeda, sebagai pembanding dan untuk memperkaya informasi.

Penulis juga sering membandingkan antara satu berita dengan berita lainnya. Dari situ penulis dapat menarik kesimpulan, bahwa wartawan sekalipun berbeda-beda dalam hal cara mengolah informasi dan menyusun informasi menjadi sebuah berita.

Apa yang membuatnya berbeda? Ada banyak wartawan yang berpuas diri dengan keadaannya, ada pula wartawan yang mau maju dan berkembang.

Ada wartawan yang banyak membaca buku, sering mencari referensi tambahan untuk kelengkapan informasi yang didapatnya.

Ada pula— yang ini lebih banyak tentunya—yaitu, mereka yang cukup berpuas diri dengan ‘informasi’ atau ‘pengetahuan’ yang didapatnya dari orang lain.

Menghadapi buku bagi penulis,  sama saja dengan menghadapi pembicaraan (pendapat) penulisnya. Karena itu tidak cukup hanya berpuas diri dengan pendapat satu penulis.

Lihat pula: Berpikir Bebas, Menulis Bebas

Penulis menerima penghargaan sebagai pemateri "Workshop Kepenulisan". (foto: ist/palontaraq)
Penulis menerima penghargaan sebagai pemateri “Workshop Kepenulisan”. (foto: ist/palontaraq)
Kenali dunia dengan membaca. (foto: ist/palontaraq)
Kenali dunia dengan membaca. (foto: ist/palontaraq)

Perkayalah khazanah pengetahuan kita dengan terus banyak membaca buku, baik dari ragam ilmu yang sama maupun dari disiplin pengetahuan yang berbeda.

“Jika kamu ingin mengenal dunia, maka perbanyaklah membaca,” – Pesan ini masyhur diperkenalkan sebagai motivasi untuk tidak ketinggalan menggenggam dan menguasai informasi dari belajar dan membaca buku, sebagai jalan mengenal dunia.

Begitu pula halnya dengan cara menggali informasi (wawancara) seorang wartawan, akan sama saja dengan cara kita berbicara dalam interaksi sosial.

Ingatlah, teman atau lawan bicara kita tentu akan lebih senang dan bangga punya teman berilmu daripada punya teman yang berpengetahuan pas-pasan mengenai suatu topik pembicaraan.

Penulis dan Buku "Desa Mandiri ala Pangkep", hasil suntingan bersama penulis lainnya. (foto: ist/palontaraq)
Penulis dan Buku “Desa Mandiri ala Pangkep”, hasil suntingan bersama penulis lainnya. (foto: ist/palontaraq)

Dari dua tipe itu, tentu saja saya memilih maju dan berkembang. Dan konsekuensinya harus banyak belajar, bertanya dan membaca buku.

Saya mencintai profesi wartawan dan ingin jiwa wartawan itu akan terus ada dalam diri saya, meskipun suatu waktu saya tak lagi jadi wartawan.

Penulis sadar ketika itu, bahwa suatu waktu seiring bertambahnya umur dan fisik yang menurun, penulis tak mungkin jadi wartawan terus.

Puncak sukses seorang wartawan adalah menjadi penulis. Menjadi penulis buku adalah impian  sejak mengenal ‘makhluk pencerdas’ bernama buku.

Sejak itu pula penulis mulai belajar menulis artikel, esai, cerpen, atau resensi untuk pencapaian “award” itu.

Lihat pula: Tips Praktis Menulis Artikel

Dua buku karya Etta Adil. (foto: ist/palontaraq)
Dua buku Fiksi karya Etta Adil. (foto: ist/palontaraq)

Sampai sekarang, penulis masih terus belajar. Belajar dengan banyak membaca dan menulis. “The Best Writer is a Good Reader”.

Bukankah sebuah kebanggaan dan penghargaan terhadap diri sendiri jika tulisan atau buku kita memberi pencerahan bagi orang lain?

Ya, Buku adalah “award” bagi wartawan. Buku adalah “award” bagi penulisnya.

Anda ingin jadi penulis atau ingin sukses dalam bidang apapun yang ditekuni? Jangan pernah lepaskan buku dari tangan anda. Warnai hidup anda dengan Buku.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

(* Etta Adil adalah nama pena sekaligus nama panggilan dari M. Farid W Makkulau, telah menelorkan beberapa karya buku, antara lain: HA Gaffar Patappe-Demimu Rakyat Pangkep (Pemkab Pangkep, 2003), Pikiran dan Kebijakan Ir. H. Syafrudin Nur, M.Si (Pemkab Pangkep, 2006), Sejarah dan Kebudayaan Pangkep (Infokom, 2007), Manusia Bissu (Pustaka Refleksi, 2008), Sejarah Kekaraengan di Pangkep (Pustaka Refleksi, 2008), Komik-Kisah si Lemo Lestarikan Terumbu Karang (Dislutkan/Coremap, 2009), Syahrul Yasin Limpo-Sulsel Go Green “Menjaga Lingkungan Menuai Rahmat” (Citra Pustaka, 2012), Syamsuddin A. Hamid-Mata Kalbu Sahabat (Citra Pustaka, 2013), Antologi Puisi-Penjara Suci (Pustaka Puitika, 2015), Surat Cinta untuk Bidadari Kecilku di Surga (Pustaka Puitika, 2015).

Pada Tahun 2017, Penulis sebagai LCO (Local Community Organizer) CSR PT. Semen Tonasa meraih Penghargaan “Terbaik 1” Tingkat Nasional dalam Indonesian Sustainable Development Goals Award 2017 (ISDA 2017) dengan judul Karya Tulis “Perubahan Sosial Tidak Mungkin Terjadi Tanpa Pendampingan” (HAKI 078550) untuk Kategori Perseorangan Tingkat Lapangan CSR Best Practice for MDGs to SDGs dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas RI.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT