Habibie & Ainun 3 berkisah Ainun Sosok Inspiratif

by Penulis Palontaraq | Minggu, Des 22, 2019 | 118 views
Film Habibie & Ainun 3. (foto: ist/palontaraq)

Film Habibie & Ainun 3. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Etta Adil

Related Post: Ungkapkan Cinta dengan Mata Kata

PALONTARAQ.ID – Film Habibie & Ainun 3 telah dirilis 19 Desember lalu, sedang untuk di Malaysia, nanti dirilis pada 26 Desember mendatang.

Film Produksi MD Fictures ini adalah film drama biografi romantisme kisah Cinta Habibie – Ainun yang disutradarai Hanung Bramantyo dan ditulis Ifan Ismail, sebenarnya merupakan  kelanjutan dari Rudy Habibie (2016), prekuel dari Habibie & Ainun, sekaligus film ketiga dari seri Habibie & Ainun.

Menyambung dari Film “Rudy Habibie” yang mengisahkan Habibie muda, Film Habibie & Ainun 3 berfokus mengisahkan Ainun muda. Film yang berdurasi 121 menit ini habis-habisan mengekplorasi masa muda Ainun, yang sebelumnya tak banyak masyarakat Indonesia yang tahu, selain kisah dari kecendekiawanan dan romantisme Habibie sendiri.

Maudy Ayunda (sebagai Ainun muda) dan Reza Rahadian (sebagai Habibie muda)  membintangi film ini. Film Habibie dan Ainun 3  menyuguhkan sebuah tampilan dengan teknis khusus untuk membuat wajah Reza terlihat lebih muda saat memerankan Habibie muda dan wajahnya mendekati mirip wajah Habibie saat berperan sebagai Eyank Habibie.

Film Habibie & Ainun 3. (foto: ist/palontaraq)

Film Habibie & Ainun 3. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula:  Monumen Kebesaran Jiwa itu telah tiada

Film Habibie & Ainun 3 menampilkan Jefri Nichol (sebagai Ahmad, pacar Ainun muda)  sebagai pemeran baru dalam seri ini, melengkapi peran yang lain sebagai sahabat dan teman kuliah Ainun muda, yaitu Jennifer Coppen sebagai Dina, Rebecca Klopper sebagai Henny, Teuku Ryzki sebagai Wiratman, Eric Febrian sebagai Liem Keng Kie, Aghniny Haque sebagai Arlis, dan pemeran lainnya.

Film ini dibuka dengan kenangan Manoj Punjabi sebagai Produser dalam Film ini terhadap B. J. Habibie yang meninggal pada 11 September 2019.  Pada 22 Mei 2011, Habibie (yang akrab dipanggil Eyang Habibie) pergi ke kuburan Ainun untuk mengenang setahun kematian istrinya.

Setelah berziarah, Habibie yang masih berduka sedang meratapi kematian istrinya, sementara keluarga Habibie menyiapkan makan malam dan tak ingin membuat Sang Ayah larut dalam kesedihan.

Thareq Habibie (diperankan oleh Tegar Satrya) dan Ilham Habibie (diperankan oleh Mike Lucock) kemudian berpesan ke masing-masing istri dan anaknya agar menciptakan suasana bahagia ketika makan malam, namun pada akhirnya Habibie atas keinginan cucu-cucunya menceritakan “Eyang Putri”, panggilan Hasri Ainun Besari.

Film Habibie & Ainun 3. (foto: ist/palontaraq)

Film Habibie & Ainun 3. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Ainun dalam Film Habibie & Ainun 3. (foto: ist/palontaraq)

Ainun dalam Film Habibie & Ainun 3. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula:  Jam Dinding, Seprai, dan Kacang Rebus dari Eyang Habibie

Eyang Habibie kemudian menceritakan perjalanan hidup istrinya. Cerita dimulai ketika Ainun dan Habibie masih duduk di bangku SMA. Keduanya sudah memberi sinyal saling tertarik satu sama lain.

Namun, keduanya harus berpisah karena Habibie memilih kuliah ke Jerman, sedangkan Ainun menempuh pendidikan di fakultas kedokteran Universitas Indonesia (UI).

Sinyal ketertarikan Habibie itu dimulai saat kedua sahabat Habibie menantangnya mengungkapkan perasaannya kepada Ainun. Saat itu Habibie grogi.

Ainun yang sementara duduk bersama kedua temannya tak sempat membalas, hanya kaget, saat itu masih bersekolah di Sekolah Menengah Atas Kristen Dago, Ainun muda disebut Habibie sebagai perempuan jelek, hitam dan gelap.

Reza Rahardian dan Maudy Ayunda dalam Film Habibie & Ainun 3. (foto: ist/palontaraq)

Reza Rahardian dan Maudy Ayunda dalam Film Habibie & Ainun 3. (foto: ist/palontaraq)

Reza Rahardian dan Maudy Ayunda dalam Film Habibie & Ainun 3. (foto: ist/palontaraq)

Maudy Ayunda sebagai Ainun muda dalam Film Habibie & Ainun 3. (foto: ist/palontaraq)

Pada suatu hari, Ainun bersama kawannya bertanding kasti yang ditonton Habibie dan kawannya. Dalam pertandingan itu, kaki teman Ainun terluka dan sepatunya sobek.

Dalam Film ini, Ainun muda digambarkan sebagai penyuka olahraga kasti, dan digambarkan cukup seru dalam film, membuktikan kelihaian iringan Musik Tya Subiakto dan Sinematografi Yudi Datau.

Setelah pertandingan dihentikan sementara untuk mengobati luka kaki teman Ainun, Ainun kembali bertanding dan mencetak 2 poin, sehingga mengalahkan tim lawan yang hanya meraih 1 poin. Sementara tim Ainun merayakan kemenangan, Ainun justru mendapati Habibie tidak berada di sana.

Lihat pula:  Selamat Jalan, Habibie

Dalam kisah lain, setelah lulus SMA dan Ainun baru pulang ke rumah dalam kegalauannya apakah ia diterima kuliah di UI atau tidak, ia memeriksa kotak surat dan tidak kunjung mendapati surat dari Universitas yang diidamkannya tersebut.

Ainun yang dilanda galau, bersama ayah dan ibunya di ruang keluarga, menanti hasil tes mendaftarnya di Fakultas Kedokteran. Secara tak sengaja melihat suratnya berada di tangan abangnya dan seketika  langsung merampasnya. Ainun kaget karena dinyatakan diterima.

Komunitas Palontaraq gelar nobar di Studio 21 MTos Film Habibie & Ainun 3. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Komunitas Blogger dan Palontaraq gelar nobar Film Habibie & Ainun 3 di Studio 21 MTos, Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Malam harinya, Ainun pergi ke pesta tarian dan berjumpa dengan Habibie. Habibie menyebut dirinya lulus di RWTH Aachen serta dibiayai ibunya, sembari menyebut beasiswa lebih pantas untuk orang yang lebih membutuhkan.

Dalam kilas balik pada 1944 di Sadeng, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, beberapa penduduk bersembunyi di rumah keluarga Besari dari kejaran tentara Jepang. Ibu Ainun yang merupakan seorang bidan tiba di rumah menyelamatkan diri.

Setelah merasa aman, ibu Ainun (diperankan oleh Marcella Zalianty sebagai Sadarmi Besari) melanjutkan pekerjaannya dan Ainun (Ainun kecil diperankan oleh Basmalah Gralind) menyatakan keinginannya untuk pergi bersama ibunya, yang disetujui walau awalnya ditolak. Mereka berdua pergi secara sembunyi-sembunyi ketika hujan deras dan petir menyambar.

Namun, keberadaan mereka hampir diketahui tentara Jepang yang melintasi kawasan itu, yang akhirnya tentara Jepang teralihkan oleh sesuatu yang lain. Mereka berhasil mencapai rumah orang yang hamil dan proses persalinan berlangsung lancar.

Sejak kecil, Ainun digambarkan sudah tak asing dengan dunia kesehatan karena ibunya adalah seorang bidan. Dia tumbuh menjadi gadis tangguh yang mengejar cita-cita menjadi seorang dokter.  Beberapa tahun kemudian, setelah Indonesia merdeka, keluarga Besari menempati rumah yang lebih layak.

Lihat pula: Menelisik Cinta Anak Makassar dalam Film Silariang

Ketika menjadi mahasiswi baru di UI, Ainun sempat mendapat perlakuan kekerasan ketika mengikuti OSPEK, serta mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari dua kakak kelas ketika pertama kali mengikuti perkuliahan.

Dua orang berdalih gagal kelas karena mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON), tetapi dibantah Ainun. Ainun memilih duduk di lantai sebagai bentuk perlawanan, yang diikuti semua mahasiswa lain dengan alasan ibu adalah perempuan. Kedua orang itu diusir dosen Belanda dan dosen meminta semuanya duduk di bangku.

Perkuliahan Ainun berlangsung dengan lancar dan Ainun berhasil menjadi sosok yang dikagumi banyak mahasiswa di fakultasnya dan lainnya, termasuk Ahmad (diperankan oleh Jefri Nichol) dari Fakultas Hukum UI. Ketika Ahmad menjumpai Ainun yang sedang melakukan praktik di rumah sakit, Ahmad sempat menyebut Ainun menjadi sorotan banyak mahasiswa Fakultas Hukum.

Ainun dan Ahmad dalam Film Habibie & Ainun 3. (foto: ist/palontaraq)

Ainun dan Ahmad dalam Film Habibie & Ainun 3. (foto: ist/palontaraq)

Ainun risih. Sosoknya sebagai perempuan pintar dan cantik di fakultasnya ternyata menjadi bahan perbincangan para mahasiswa dan digandrungi, tak terkecuali dari Fakultas lain.  Salah satu yang tergila-gila itu adalah Ahmad (diperankan Jefri Nichol), mahasiswa Fakultas Hukum UI.

Karena tak senang Ainun didekati oleh lelaki yang tak dikenal sebelumnya, para teman Ainun kompak melindunginya.  Ahmad kemudian berhadapan dengan kawan Ainun dalam peraduan judo yang tidak disenangi Ainun. Kawannya membubarkan peraduan itu dengan alasan menjurus ke perjudian.

Film Habibie & Ainun 3. (foto: ist/palontaraq)

Film Habibie & Ainun 3. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula:  Membaca Ulang “Bumi Manusia” dalam Tafsir Hanung Bramantyo

Ketika Ainun berada di perumahan kumuh, Ainun mendapati seorang ibu miskin yang kesusahan membeli obat untuk mengobati ketiga anaknya yang sakit-sakitan. Ketika ia berangkat ke rumah sakit untuk mendapatkan obat-obatan, ia dicegat dua orang preman kampung yang sedang mabuk.

Dua penjahat itu mencoba merogol Ainun dan memepetnya di kawasan permukiman tersembunyi,  tetapi tiba-tiba datang Ahmad melumpuhkan keduanya, yang rupanya membuntuti kemanapun Ainun pergi. Warga setempat dan Polisi kemudian datang mengamankan kedua preman kampung itu.

Ainun terus melakukan pengabdian kepada masyarakat dan mendapatkan sambutan yang baik di sana. Beberapa hari kemudian, dosen Belanda diusir ke Belanda dengan alasan mahasiswa perlu diajarkan dosen bangsa lainnya. Pengumuman itu menuai kekecewaan dari kalangan mahasiswa. Cerita ini berlanjut Ainun dan Ahmad berlibur ke pantai.

Ainun dan Ahmad dalam Film Habibie & Ainun 3. (foto: ist/palontaraq)

Ainun dan Ahmad dalam Film Habibie & Ainun 3. (foto: ist/palontaraq)

Karena hujan, Ainun dan Ahmad pulang ke rumahnya. Ainun terkejut dengan kehadiran Profesor Husodo (diperankan oleh Arswendy Bening Swara) yang ternyata baru diketahui sebagai ayah Ahmad.

Ainun berbicara sebentar, lalu pulang ke kos bersama Ahmad yang mengantar. Ahmad mengantar Ainun hingga ke pintu kamar, lalu mengajaknya ke luar rumah dan Ainun terkejut dengan 3 pemain biola. Ahmad langsung melamarnya, yang ditanggapi kawan kosnya yang keluar dari pengintipan mereka.

Ahmad mengajak Ainun bermain di pasar malam. Semua orang terkejut dengan ledakan di putaran ke atas. Seorang anak terpelanting ke luar, sementara ayahnya terluka di kursi. Ainun langsung cepat memberikan pertolongan pertama, lalu dengan ditemani Ahmad membawa anak dan ibunya ke rumah sakit.

Dokter Prof Husodo yang menanganinya, menyebut anak itu tidak bisa diselamatkan karena pneumotoraks. Ibu anak itu kemudian berubah sikap, langsung temperamen menyebut Ainun sebagai pembunuh.

Dokter Prof Husodo berusaha menenangkan Ainun yang menyalahkan diri dan menganggap dirinya tidak becus menolong. Dokter Husodo menyebut bahwa manusia, siapapun, termasuk dokter sekalipun tidak punya kuasa menolak takdir Tuhan.

Keesokan harinya, Ainun pulang ke Bandung. Kedua temannya ketika mengunjungi kos Ainun, mendapati Ainun tidak ada di tempat karena pulang kampung. Ayahnya (diperankan oleh Lukman Sardi sebagai Mohammad Besari) berusaha menguatkan Ainun.

Ainun dan ayahnya dalam Habibie & Ainun 3. (foto: ist/palontaraq)

Ainun dan ayahnya (diperankan Lukman Sardi) dalam Habibie & Ainun 3. (foto: ist/palontaraq)

Ketika Ainun kembali dan ikut serta dalam pesta tarian, Ainun, Ahmad, dan seseorang berbalas pantun. Ketika seseorang mulai merendahkan Ainun dengan mengucapkan pantun bernada perendahan wanita, Ahmad tidak terima dan mereka berkelahi. Ahmad akhirnya memukul berkali-kali seseorang.

Ahmad meminta maaf kepada Ainun, tetapi ia menyatakan akan meninggalkan Indonesia karena tidak kuasa dengan pengalaman buruk yang diterimanya dan Ainun. Pada akhirnya Ahmad dan Ainun berpisah, karena saling memahami tidak satu tujuan dan visi dalam memandang hidup dan persoalan kebangsaan.

Ketika Ainun sedang pergi ke perpustakaan, Prof Husodo memintanya untuk berbicara sebentar. Husodo menyebut Ainun dan anaknya dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi. Mendapati Ainun menggunakan jas yang kotor, Husodo memintanya menggunakan jasnya yang lebih bersih.

Pada 1961, Ainun menjalani wisuda, Prof Husodo mengumumkan Ainun sebagai lulusan terbaik Fakultas Kedokteran UI.  Orangtua Ainun (diperankan oleh Lukman Sardi dan Marcella Zalianty) mengharu biru, anaknya mampu membuktikan tekadnya untuk menjadi seorang dokter.

Senior Ainun di Fakultas Kedokteran yang pernah memelonconya saat OSPEK kaget dengan pengumuman itu, kecewa, dan tak menyangka Ainun berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan lulusan terbaik. Ainun membawakan pidatonya mengenai emansipasi wanita.

Lihat pula:  Taare Zameen Par: Film Inspirasi Pendidikan

Suatu hari, Habibie yang sudah menyelesaikan pendidikannya di Jerman pulang ke tanah air dan mendapati Ainun, seperti dikatakannya, “Gula Jawa itu telah berubah menjadi Gula Pasir”,  gadis manis yang di kemudian hari menjadi pendamping hidupnya.

Saat ditanya di masa tuanya oleh anak dan cucunya, apa Eyank Habibie (diperankan oleh Reza Rahardian) tak cemburu mendapati cerita dari Eyang Putri bahwa pernah mengenal laki-laki lain di masa mudanya. Eyank Habibie dalam film ini rupanya ingin memberi pesan agar tak menghakimi masa lalu seseorang, sebab memang tak perlu dihakimi.

Break sebelum nonton Habibie & Ainun 3. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Penulis menyempatkan break dan menulis sebelum nonton Habibie & Ainun 3. (foto: mfaridwm/palontaraq)

“Buat apa? Wajar toh Eyang Putri diperebutkan. Eyang putri cantik dan cerdas,” ungkapnya. “Seseorang tak akan bersatu dengan orang lain, tak ditakdirkan bersama, dalam cinta, jika tidak satu frekuensi,” tambahnya.

Lihat pula: Rahasia Kecerdasan Habibie yang Tak Terungkap

Film Habibie & Ainun 3 ini memperoleh 218.253 penonton di hari pembukaannya dan diperkirakan meraup Pendapatan kotor Rp 8,8 miliar. Sebuah sukses awal yang patut diapresiasi dari kerja sinema yang luar biasa lebih dari dua tahun, meski sempat disebut-sebut oleh Manoj Punjabi, Produsernya, sempat tertunda sampai April 2019 lalu.

Kisah romantisme Habibie & Ainun selalu saja menarik perhatian masyarakat luas, bukan saja karena ketokohan dan keteladanan keduanya, sebagai bapak dan ibu bangsa, tetapi juga kisah cinta mereka tidak biasa, dan Hanung Bramantyo sukses besar mengangkatnya di layar lebar. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response