Laporan: Muhammad Farid Wajdi *)
Tulisan sebelumnya: Wisata Sejarah ke Museum Nasional RI
PALONTARAQ.ID, JAKARTA – Salah satu koleksi Museum Nasional RI yang menarik dan menyita perhatian pengunjung museum adalah Patung Bhairawa, patung dengan tinggi 414 cm.
Patung Bhairawa ini disebut-sebut merupakan manifestasi dari Dewa Lokeswara atau Awalokiteswara, yang merupakan perwujudan Boddhisatwa (pancaran Buddha) di Bumi.
Patung ini berupa laki-laki berdiri di atas mayat dan deretan tengkorak serta memegang cangkir terbuat dari tengkorak di tangan kiri dan keris pendek dengan gaya Arab di tangan kanannya.


Patung Bhairawa ini ditemukan di Padang Roco, sekitar Sungai Langkat, Sumatera Barat dalam Tahun 1930. Penemuan patung tersebut langsung dilaporkan ke Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG).
BG merupakan Kelompok perkumpulan ilmiah Belanda di Indonesia. Setelah patung diangkat dan dipindahkan dari Sungai Langsat untuk disimpan sementara di Kebun Margasatwa Bukittinggi sebelum akhirnya dikirim via kapal ke Batavia (Jakarta) pada Tahun 1937.

Pada saat pertama kali ditemukan, Patung Bhairawa Budha sudah terbelah menjadi dua bagian yakni bagian alas dan bagian tubuh. Kemudian patung tersebut disatukan, sehingga tingginya mencapai 4,41 meter dengan berat sekitar 4 ton.
Alas Patung Bhairawa dipasang terlebih dahulu dengan metode penyambungan khusus sehingga bagian tubuh siap disatukan dengan alasnya. Diperkirakan, Patung Bhairawa ini berasal dari Abad XIII-XIV Masehi.

Menurut Agus Aris Munandar, Ahli Sejarah Kuno, Pada saat ditemukan, Bentuk Patung Bhairawa seperti petinggi kerajaan, lengkap dengan mahkota, kalung, kelat bahu, dan gelang tangan. Ukurannya bak raksasa. Posisinya membawa mangkuk di kiri dan dan belati di kanan.
“Pada saat ditemukan, bentuk patung layaknya seorang yang tumbang, posisinya menyongsong hilir. Seperti menghadang musuh dari hilir yang hendak masuk ke hulu,” ujar Agus Aris Munandar yang juga Profesor Arkeologi Universitas Indonesia (UI).

Uniknya, sebelum penemuan bentuk besar dari Patung Bhairawa itu, keseharian penduduk Padang Roco, Sumatera Barat mengasah Alat-alat pertaniannya pada sebuah batu yang menonjol dari dalam tanah. Batu yang lain lagi mereka lubangi untuk menumbuk padi. Bertahun-tahun setelahnya, baru diketahui bahwa Batu-batu itu merupakan bagian dari arca bersejarah. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Penikmat Sejarah.


