Sejarah Patung Bhairawa Budha di Museum Nasional RI

Patung Bhairawa Budha di Museum Nasional RI

-

- Advertisment -

Patung Bhairawa di Museum Nasional RI. (foto: ist/palontaraq)
Patung Bhairawa di Museum Nasional RI. (foto: ist/palontaraq)

Laporan: Etta Adil

Tulisan sebelumnya: Wisata Sejarah ke Museum Nasional RI

PALONTARAQ.ID, JAKARTA – Salah satu koleksi Museum Nasional RI yang menarik dan menyita perhatian pengunjung museum adalah Patung Bhairawa, patung dengan tinggi 414 cm.

Patung Bhairawa ini disebut-sebut merupakan manifestasi dari Dewa Lokeswara atau Awalokiteswara, yang merupakan perwujudan Boddhisatwa (pancaran Buddha) di Bumi.

Patung ini berupa laki-laki berdiri di atas mayat dan deretan tengkorak serta memegang cangkir terbuat dari tengkorak di tangan kiri dan keris pendek dengan gaya Arab di tangan kanannya.

Patung Bhairawa di Museum Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Patung Bhairawa di Museum Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Identitas Koleksi Musem, Bhairawa Budha. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Identitas Koleksi Musem, Bhairawa Budha. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Patung Bhairawa ini ditemukan di Padang Roco, sekitar Sungai Langkat, Sumatera Barat dalam Tahun 1930. Penemuan patung tersebut langsung dilaporkan ke Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG).

BG merupakan Kelompok perkumpulan ilmiah Belanda di Indonesia. Setelah patung diangkat dan dipindahkan dari Sungai Langsat untuk disimpan sementara di Kebun Margasatwa Bukittinggi sebelum akhirnya dikirim via kapal ke Batavia (Jakarta) pada Tahun 1937.

Halaman Hijau Gedung A. (foto: ist/palontaraq)
Patung Bhairawa Budha berada di depan Halaman Hijau Gedung A yang penuh dengan arca dan prasasti ini. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pada saat pertama kali ditemukan, Patung Bhairawa Budha sudah terbelah menjadi dua bagian yakni bagian alas dan bagian tubuh. Kemudian patung tersebut disatukan, sehingga tingginya mencapai 4,41 meter dengan berat sekitar 4 ton.

Alas Patung Bhairawa dipasang terlebih dahulu dengan metode penyambungan khusus sehingga bagian tubuh siap disatukan dengan alasnya. Diperkirakan, Patung Bhairawa ini berasal dari Abad XIII-XIV Masehi.

Patung gajah di depan Museum Nasional. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Patung gajah di depan Museum Nasional. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Menurut Agus Aris Munandar, Ahli Sejarah Kuno, Pada saat ditemukan, Bentuk Patung Bhairawa seperti petinggi kerajaan, lengkap dengan mahkota, kalung, kelat bahu, dan gelang tangan. Ukurannya bak raksasa. Posisinya membawa mangkuk di kiri dan dan belati di kanan.

“Pada saat ditemukan, bentuk patung layaknya seorang yang tumbang, posisinya menyongsong hilir. Seperti menghadang musuh dari hilir yang hendak masuk ke hulu,” ujar Agus Aris Munandar yang juga Profesor Arkeologi Universitas Indonesia (UI).

Penulis di depan Gedung Museum Nasional. (foto: ist/palontaraq)
Penulis di depan Gedung Museum Nasional. (foto: ist/palontaraq)

Uniknya, sebelum penemuan bentuk besar dari Patung Bhairawa itu, keseharian penduduk Padang Roco, Sumatera Barat mengasah Alat-alat pertaniannya pada sebuah batu yang menonjol dari dalam tanah. Batu yang lain lagi mereka lubangi untuk menumbuk padi. Bertahun-tahun setelahnya, baru diketahui bahwa Batu-batu itu merupakan bagian dari arca bersejarah. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Jangan alihkan Kesalahan Polri pada Surat jalan Djoko Tjandra

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Sengaja atau tidak, pimpinan Polri berusaha mengalihkan fokus kesalahan Polri secara institusional menjadi kesalahan Brigjen...

Rakyat dibayangi Pertanyaan: Mungkinkah Komunisme-PKI bangkit kembali?

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Kalau pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD (31/5/2020) dijadikan pegangan, tampaknya tidak mungkin PKI bisa hidup...

Ayasofya Camii!

  Oleh: Ustadz Felix Siauw PALONTARAQ.ID - Salah satu keinginan terbesar saya ketika menulis buku "Muhammad Al-Fatih 1453", adalah sujud di...

Presiden Jokowi Memang Harus Ngeri!

  Oleh: Hersubeno Arief PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi kembali menyatakan betapa berbahayanya situasi dunia, khususnya Indonesia. Jokowi bahkan menggunakan kosa kata yang...

Jokowi merasa Ngeri!

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi mengatakan dia ngeri dengan situasi yang akan dihadapi. Pertumbuhan ekonomi bisa minus 8%. Pak...

Denny Siregar tak perlu Minta Maaf!

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Pegiat medsos pro-penguasa, Denny Siregar (DS), didesak untuk meminta maaf kepada seluruh santri dan kiyai. Dia...

Must read

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you