Ungkapkan Cinta dengan Mata Kata

Habibie & Ainun (foto: hipwee)

Habibie & Ainun (foto: hipwee)

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

PALONTARAQ.ID – BIASANYA Orang mudah melakukan sesuatu kalau didasari alasan yang kuat, pelarian atau pelampiasan dari rutinititas yang menjemukan.

Orang yang belum menjadikan menulis sebagai hobi atau pekerjaan yang menghasilkan maka akan mudah menulis jika menemukan alasan yang tepat mengapa ia harus menulis.

Prof Dr BJ Habibie misalnya, menemukan alasan kepergian istri yang sangat dicintainya, Ny Hasri Ainun Habibie sebagai alasan untuk menulis. “Menulis membantu saya keluar dari taufan emosi”, ungkap mantan Presiden RI ketiga ini yang menuliskan pengalaman cintanya lewat buku “Habibie & Ainun”.

Setiap orang memiliki perspektif yang berbeda dalam melihat dan membaca pengalaman personal, sebagaimana halnya perspektif kita dalam melihat dan membaca pengalaman orang lain.

Karena itu, jangan biarkan orang lain menilai sesuatu yang tidak seharusnya sebagaimana perspektif kita yang berbeda darinya. Tentu kita yang lebih tahu apa yang kita pikirkan dan rasakan karena kitalah yang mengalaminya. Begitu pula halnya dalam menilai cinta dan kebaikan personal.

Lihat juga:  Filsafat Komunikasi dalam Menulis

Jika demikian, kenapa kita tidak berani untuk menuliskan sendiri pikiran, perasaan, dan apa yang menjadi pengalaman kita. Dengan menuliskannya, beban pikiran dan masalah akan menjadi sedikit berkurang.

Ditinggal mati istri tersayang, membuat seorang Prof Dr BJ Habibie harus berjuang meramu kembali semua kenangan indah yang pernah dilewatinya selama 48 tahun 10 hari bersama sang istri.

Tentu tidak mudah bukan? Jangankan istri, seorang yang ditinggal pacar saja biasanya sudah luar biasa letupan emosinya. Nah, bagaimana perasaan dan pemikiran kita mengalami Hal-hal tidak biasa dalam hidup, semisal diterima di sebuah perguruan tinggi negeri ternama, dan pengalaman pertama kali tinggal jauh dari orang tua. Tuliskanlah!

Begitu pula pengalaman seperti pertamakali mendapatkan beasiswa, menjalani kehidupan kota yang sungguh jauh berbeda dengan pemandangan di kampung, tinggal satu asrama dengan banyak mahasiswa dari berbagai daerah dengan beragam karakter. Tentu hal itu adalah pengalaman yang sangat layak untuk dituliskan.

Karena itu, Menulislah! Ceritakan kepada yang lain apa yang kamu rasakan. Dengan begitu, beban pikiran dan perasaan akan sedikit berkurang.

Habibie ditinggal mati istri, Ainun (foto:boombastis)

Habibie ditinggal mati istri, Ainun (foto:boombastis)

Dengan usia paruh baya ketika ditinggal istri, Prof Dr BJ Habibie diperhadapkan pada tiga pilihan. Pertama, curhat, Kedua, jasa perawatan rumah sakit, dan Ketiga, menghadapi sendiri dengan menuliskan semua pengalaman hidupnya semasa bersama istri, Ainun.

Ternyata dengan menulis, dukanya menjadi sedikit terobati dan ia bisa keluar dari taufan emosi yang menderanya. Hal itu diungkapkannya saat penulis menghadiri peluncuran bukunya, “Habibie & Ainun”, beberapa tahun lalu di Graha Pena Fajar, Makassar.

Nah, pembaca sekalian. Kita tidak harus mencontoh Habibie yang brilian menelorkan buku. Tapi paling tidak, letupan perasaan dan pemikirannya telah terdokumentasikan dengan baik lewat tulisan. Tentu yang perlu kita contoh adalah semangatnya dalam menulis.

Lihat juga: Hobi Menulis seperti Kebutuhan Makan

Dalam lingkungan sosial, sosok kita bisa dilihat dengan multi-nilai atau bahkan tanpa nilai dengan perpektif yang berbeda dari tiap orang yang menilainya. Hal ini karena penilaian orang mengemuka dengan latar pengalaman sosial dan lingkungan yang juga berbeda.

Menulis dalam keterasingan, jauh lebih baik daripada ‘mengasingkan diri’ dan dinilai ‘asing’. Tulislah apa saja dan tentang siapa saja, dan tariklah pelajaran dari tulisan tersebut. Tentu jika mau bijak, belajarlah juga dari tulisan orang lain.

Seorang Habibie memang luar biasa. Ia tidak hanya mengungkapkan sesuatu dengan mata penanya, tapi juga lewat mata hatinya, sehingga apa yang dituliskannya tidak hanya bernas tapi juga berasa, romantisme itu telah dikisahkan, menyentuh jiwa dan menggetarkan kalbu.

Menulis bukanlah semata sebuah pelarian, tetapi sebuah pilihan cerdas. Menulis adalah pilihan yang perlu dicontoh, menulis dengan hati dan menelusuri setiap pengalaman. Menulis adalah kegiatan yang memberi berkah, menelaah pikiran dan memberinya rasa.

Jika sesuatu telah dituliskan dengan mata hati maka akan muncul pula mata rasa. Mata rasa yang akan membuat setiap tulisan lahir dari untaian kata yang memiliki mata. Itulah “Mata Kata”. Menulislah dan ungkapkan Cinta dengan Mata Kata.

Berkah Menulis

SETIAP Orang pasti mengalami kondisi psikologis yang labil dan tertekan ketika ditimpa musibah. Pada banyak kasus, ada orang yang tenggelam dalam kesedihan dan musibah yang dihadapinya dan setelahnya tak mampu bangkit kembali.

Ada pula yang menghadapi dengan kesabaran dan menganggap musibah hanyalah merupakan warna warni hidup yang bisa datang silih berganti pada siapa saja.

Biasanya kematangan kita dalam menyikapi musibah dipengaruhi oleh besar kecilnya musibah itu, semisal kehilangan harta benda, gagal menapaki pendidikan yang lebih tinggi, ditinggal mati orang yang dicintai, dan lain sebagainya.

Lihat juga: Agupena Pangkep gelar Workshop Kepenulisan

Menghadapi musibah bermacam-macam pula caranya. Ada yang menghadapinya dengan shalat dan sabar, ada yang melarutkan dirinya dalam kelam malam dan dugem di Tempat Hiburan Malam (THM), ada yang menghambakan diri pada narkoba dan seks seakan itulah penolong dirinya, dan tak sedikit pula yang mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri.

Adalah Mantan Presiden RI BJ Habibie ketika ditinggal mati istri yang mendampinginya selama puluhan tahun, Ainun, mengungkapkan bahwa dirinya tenggelam dalam taufan emosi yang sangat dahsyat.

Bagi Habibie, Istrinya Ainun bukan hanya istri dan ibu bagi anak-anaknya, tapi juga adalah kekasih dalam perjalanan hidupnya, tempat ia menyandarkan hati dan pikirannya dalam perjalanan suka dukanya.

Buku "Habibie & Ainun". (foto: mfaridwm)

Buku “Habibie & Ainun”. (foto: mfaridwm)

Kematian adalah sesuatu yang pasti datang, siapapun takkan mampu menolak atau mengundurkan waktunya sedetikpun jika masanya telah tiba. Ibu Hasri Ainun Habibie pada akhirnya meninggal dunia di Munich, Jerman, beberapa tahun lalu.

Bagi Habibie, yang tersisa hanya kenangan manis dan suka cita mengarungi bahtera rumah tangga selama 48 tahun. Habibie memilih jalan menulis untuk keluar dari taufan emosi yang menderanya dan hasilnya lahirlah buku “Habibie & Ainun”, yang mengungkapkan perjalanan cinta dan hidupnya bersama istri tercinta, Ibu Hasri Ainun Habibie.

Menulis kemudian memberi terapi psikologis bagi Habibie bahwa hidup belumlah berakhir dengan kematian istrinya. Ia masih harus “hidup” dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Inilah cara ‘Ungkapkan Cinta dengan Mata Kata’, satu solusi cerdas yang membawa berkah bagi hidup yang harus terus berlanjut.

Buku, “Habibie & Ainun” tersebut menjadi booming di pasaran, bukan hanya menjadi buku bestseller, tapi diangkat ke layar kaca. MD Entertainment kemudian mengangkat kisah “Habibie & Ainun tersebut ke layar kaca dan terbukti sukses. Inilah berkah Menulis, Habibie bisa keluar dari taufan emosi dan musibah yang menderanya.

Sebagaimana Habibie, penulis juga bisa keluar dari taufan emosi saat ditinggal mati anak yang sekian tahun dinanti, lewat menulis semua kenangan dan beban pikiran yang tertahan.

Luar Biasa! Menulis bukanlah jalan hidup, tetapi pilihan hidup yang membawa berkah tersendiri, paling tidak “berkah” itu sudah penulis ikut rasakan sendiri sejak berani mengungkapkan cinta lewat mata kata. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response