BerandaArtikelPeristiwa Penting dan Monumental pada 2 Ramadhan dalam Lintas Sejarah Peradaban Islam

Peristiwa Penting dan Monumental pada 2 Ramadhan dalam Lintas Sejarah Peradaban Islam

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Sejarah dan Peristiwa Penting pada Bulan Ramadan (1)

PALONTARAQ.ID – Tanggal 2 Ramadhan mungkin tidak sepopuler 17 Ramadhan (Nuzulul Qur’an/Badr) atau 21 Ramadhan (Syahadah Ali bin Abi Thalib), namun sejarah mencatat tinta emas pada hari ini, terutama terkait penyebaran Islam ke Eropa dan konsolidasi kekuatan di Afrika Utara.

Ramadhan sering kali disebut sebagai bulan perjuangan (syahrul jihad). Sejarah membuktikan bahwa rasa lapar dan dahaga tidak pernah menjadi penghalang bagi para pendahulu kita untuk mengukir prestasi besar. Justru, dalam kondisi spiritual yang memuncak, keputusan-keputusan besar diambil dan kemenangan-kemenangan mustahil diraih.

Pada tanggal 2 Ramadhan, terdapat dua peristiwa besar yang menonjol, yaitu Turunnya Kitab Taurat kepada Nabi Musa as. (berdasarkan riwayat hadis), dan Pendaratan Thariq bin Ziyad di Semenanjung Iberia (Spanyol) yang menandai awal mula peradaban Islam di Andalusia (711 M/92 H).

***

Berdasarkan riwayat dari Jabir bin Abdullah dan diperkuat dalam beberapa literatur tarikh, Rasulullah SAW bersabda bahwa lembaran-lembaran Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan, dan Taurat diturunkan pada tanggal 2 Ramadhan.

Taurat adalah kitab suci yang membawa hukum formal pertama yang komprehensif bagi Bani Israil. Penurunan Taurat di bulan Ramadhan menegaskan bahwa bulan ini memang dipilih oleh Allah SWT sebagai waktu diturunkannya wahyu-wahyu besar (termasuk Zabur, Injil, dan Al-Qur’an).

Peristiwa ini mengajarkan kita bahwa Ramadhan adalah bulan “literasi ilahi”. Fokus utama seorang Muslim di bulan ini seharusnya adalah kembali kepada teks suci untuk mencari panduan hidup. Jika Taurat membawa hukum (syariat), maka Ramadhan adalah momentum untuk mendisiplinkan diri di bawah hukum Allah.

Sementara itu, Tanggal 2 Ramadhan juga dikenal sebagai tanggal peristiwa penting terkait Thariq bin Ziyad dan Fathu Al-Andalus (92 H). Peristiwa paling menentukan secara geopolitik pada 2 Ramadhan adalah dimulainya ekspedisi Thariq bin Ziyad menuju Spanyol.

Pada awal abad ke-8, kekuasaan Islam di bawah Kekhalifahan Umayyah (Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik) telah mencapai Maroko. Di seberang selat, masyarakat Visigoth di Spanyol mengalami penderitaan di bawah kepemimpinan Raja Roderick yang tiran.

Atas permintaan Julian (Gubernur Ceuta) yang merasa dikhianati oleh Roderick, dan dengan restu dari Musa bin Nusair (Gubernur Afrika Utara), Thariq bin Ziyad membawa sekitar 7.000 hingga 12.000 pasukan menyeberangi selat yang kini kita kenal sebagai Gibraltar (Jabal Thariq).

Pada tanggal 2 Ramadhan 92 H ini, armada Thariq mulai melakukan konsolidasi di pesisir selatan Spanyol. Inilah titik awal dari keberadaan Islam di Eropa yang akan berlangsung selama hampir 800 tahun.

Ada sebuah kisah masyhur (meski diperdebatkan validitas historisnya oleh sebagian sejarawan modern, namun maknanya tetap kuat secara simbolis) bahwa Thariq memerintahkan untuk membakar kapal-kapal mereka. Ia berpidato, “Lautan ada di belakang kalian, dan musuh ada di depan kalian. Demi Allah, tidak ada bagi kalian kecuali kejujuran dan kesabaran.”

Penaklukan yang dimulai pada 2 Ramadhan ini bukan sekadar ekspansi wilayah, melainkan pembukaan pintu bagi ilmu pengetahuan. Andalusia kemudian menjadi pusat cahaya di tengah kegelapan Eropa abad pertengahan (Dark Ages) menyusul Cordoba menjadi kota paling maju di dunia dengan perpustakaan yang menyimpan ratusan ribu naskah. Munculnya ilmuwan besar seperti Ibnu Rusyd (Averroes), Az-Zahrawi (bapak bedah modern), dan Ibnu Firnas (pionir penerbangan).

***

Beberapa literatur juga mencatat bahwa pada awal Ramadhan tahun 50 H, Uqbah bin Nafi mulai meletakkan batu pertama pembangunan kota Kairouan di Tunisia. Kairouan bukan sekadar kota biasa; ia dirancang sebagai basis militer dan pusat penyebaran Islam di Afrika Utara. Pembangunan ini menunjukkan visi strategis umat Islam saat itu: bahwa dakwah memerlukan basis yang kuat secara infrastruktur dan keamanan. Masjid Agung Kairouan yang dibangunnya tetap berdiri hingga hari ini sebagai saksi bisu kejayaan tersebut.

Sering muncul pertanyaan, “Mengapa para panglima Muslim memilih Ramadhan untuk berperang atau melakukan perjalanan jauh yang melelahkan?” Ya, Dalam Islam, jihad bukan sekadar adu kekuatan fisik, melainkan manifestasi dari ketundukan total kepada Allah. Saat berpuasa, seorang prajurit berada dalam kondisi muraqabah (merasa diawasi Allah). Hal ini meminimalkan keserakahan, mencegah kezaliman terhadap musuh, dan meningkatkan keberanian karena orientasi mereka adalah syahid atau menang (ish kariman au mut syahidan).

Ramadhan menyatukan ritme hidup umat. Dari sahur hingga berbuka, semua bergerak dalam satu komando ilahi. Kedisiplinan inilah yang dibawa ke medan perang, menghasilkan pasukan yang sangat terorganisir dan sulit ditembus oleh musuh yang hanya mengandalkan jumlah personel. Apa hikmah atau pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa 2 Ramadhan diatas?

Pertama, Bahwa Thariq bin Ziyad menyeberangi selat dengan jumlah pasukan yang jauh lebih sedikit dibanding tentara Roderick. Disini Kualitas lebih utama daripada kuantitas. Dalam dunia profesional atau dakwah saat ini, kita sering ragu karena merasa kekurangan sumber daya. Sejarah 2 Ramadhan mengajarkan bahwa iman dan strategi yang matang bisa mengalahkan keterbatasan fisik.

Kedua, Fathu Al-Andalus berhasil bukan hanya karena pedang, tapi karena rakyat Spanyol saat itu lebih memilih dipimpin oleh Muslim yang adil daripada raja mereka yang tiran. Islam membawa sistem pajak yang lebih ringan dan kebebasan beragama bagi umat Yahudi dan Kristen. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah kepemimpinan atau institusi sangat bergantung pada sejauh mana ia bisa memberikan manfaat dan keadilan bagi orang-orang di sekitarnya.

Ketiga, bahwa Uqbah bin Nafi membangun Kairouan dan Thariq membuka Andalusia bukan untuk kesenangan sesaat. Mereka membangun peradaban. Sebagai Muslim, setiap tindakan kita harus memiliki dampak jangka panjang (amal jariyah). Apa “Andalusia” yang sedang kita bangun dalam hidup kita? Apakah itu pendidikan anak, pengembangan komunitas, atau inovasi teknologi?

Refleksi Akhir

Tanggal 2 Ramadhan adalah pengingat bahwa kita adalah pewaris para pemenang. Dari turunnya Taurat sebagai cahaya bagi Bani Israil, hingga pendaratan Thariq bin Ziyad sebagai pembuka jalan bagi Renaisans Eropa melalui transmisi ilmu pengetahuan di Andalusia.

Ramadhan bukan bulan untuk bermalas-malasan atau sekadar menunggu waktu berbuka dengan tidur. Ia adalah bulan produktivitas tertinggi. Jika Thariq bin Ziyad bisa menaklukkan selat dan memulai peradaban baru saat berpuasa, maka tantangan hidup kita saat ini seharusnya bisa kita hadapi dengan kepala tegak dan hati yang terpaut pada Sang Khalik. Semoga dengan mengenang peristiwa 2 Ramadhan ini, semangat juang dan haus akan ilmu pengetahuan kembali bersemi di dada setiap Muslim.

Bahan Bacaan:

Ahmad al-Maqqari al-Tilimsani, Nafh al-Tib min Ghusn al-Andalus al-Ratib. (Sumber utama sejarah Andalusia).

Dr. Raghib As-Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia. (Analisis kontemporer mengenai kejayaan Islam di Spanyol).

Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah. (Membahas sejarah para Nabi dan kronik penaklukan Islam).

Imam At-Thabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk. (Referensi klasik mengenai penanggalan peristiwa penting).

Philip K. Hitti, History of the Arabs. (Perspektif sejarah akademik mengenai ekspansi Islam).

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT