Taare Zameen Par: Film Inspirasi Pendidikan

by Penulis Palontaraq | Minggu, Feb 26, 2017 | 2081 views
sumber gambar: storypick/google

Film Taare Zameen Par. (foto:  storypick/google)

Oleh:  Etta Adil

Nonton Filmnya: DISINI

PALONTARAQ.ID – Kesenangan penulis saat ini adalah menonton Film-film lama. Hal ini lebih disebabkan karena tak banyak yang dapat saya temukan film yang menginspirasi dan memotivasi untuk belajar dan berkarya lebih baik. Kebanyakannya adalah tayangan hedonis dan horor yang memuakkan.

Di televisi yang kita dapati hanyalah FTV dan Sinetron yang mengajarkan teriakan dan umpatan. Pemainnya saja yang cantik dan manis, tetapi kata-katanya kasar, tidak terdidik dan jauh dari sopan santun dan beretika, ceritanya pun dibuat berbelit-belit dan tidak memecahkan masalah, hal ini bisa jadi pula supaya episode dan kontrak penayangannya menjadi panjang.

Salah satu film lama kesukaan saya adalah film “Taare Zameen Par”, Film India yang dibintangi dan diproduseri Aamir Khan ini dirilis pada 21 Desember 2007 lalu menceritakan tentang seorang anak bernama Ishaan (Darsheel Safary) yang “menderita” Dyslexia (baca : Disleksia), kesulitan membaca dan menulis.

Karena kurangnya kemampuan motoriknya itulah, ia seringkali diejek oleh teman dan gurunya serta dimarahi oleh kedua orang tuanya. Di keluarganya ia bukanlah anak yang dibanggakan seperti kakaknya, Yohaan Awasthi/Dada (Sachet Engineer) yang rajin belajar,disiplin dan selalu mendapatkan nilai terbaik di sekolahnya.

taare-zameen-par

taare-zameen-par

Setiap hari yang dilalui Ishaan, murid kelas 3 yang oleh guru di sekolahnya dicap sebagai “idiot” ini, tiada berlalu tanpa kekacauan dan kenakalan yang dibuatnya.

Hal ini sangat kontras dengan sikap ayah Ishaan, Nandkishore Awasthi (Vipin Sharma) dan ibunya,Maya Awasthi (Tisca Chopra) yang selalu menuntut “kehebatan” dari setiap pelajaran dan sikap anaknya sebagaimana kelebihan yang ditunjukkan Dada, kakaknya, baik di sekolah maupun di rumah tanpa mau mengerti kondisi psikologis Ishaan.

Karena tidak pernah menunjukkan perubahan yang baik, orang tua Ishaan lalu mengirimnya lalu mengirimnya ke sekolah asrama (boarding school).

Di sekolah ini pun Ishaan tidak menunjukkan perubahan apa – apa, malah semakin parah. Hanya teman sebangkunyalah yang sedikit bisa memahaminya, Rajan Damodran (Tanay Chheda) namun itu tak berarti apa-apa buat Ishaan.

Keceriaan dan kepercayaan dirinya hilang. “Kenakalan”-nya pun ikut hancur bahkan minat menggambarnya ikut dikuburnya sampai suatu waktu, ada guru baru, Ram Shankar Nikumbh (Aamir Khan) yang masuk mengajar di sekolah itu.

Sang guru baru, Ram Shankar Nikumbh inilah yang memberi perhatian khusus pada Ishaan. Menganalisa masalahnya, mendatangi orang tuanya, membangunkan kembali kepercayaan diri Ishaan serta meluangkan waktu untuk mengajarinya.

taarezameenpar

taarezameenpar

Film “Taare Zameen Par” ini mengajarkan pergulatan guru di sekolah dan orang tua di rumah bagaimana seharusnya menghadapi anak penderita Disleksia.

Bahwa pada dasarnya setiap anak memiliki kelebihan yang unik, kreatifitas dan mimpi yang berbeda dan itu menjadikan setiap anak adalah Special (Every Child is Special).

Pesan yang tersampaikan dalam film ini diantaranya ialah agar tidak memberikan beban orang tua kepada anak terhadap pencapaian yang harus ia raih. Berikan kebebasan kepada anak untuk berkembang dan caranya yag berbeda dalam memandang dunia sesuai tingkatan taraf berpikir dan kondisi kejiwaannya.

Anaklah bukanlah “kuda pacuan” yang harus dipaksa berlari untuk mencapai sesuatu atau layaknya robot yang harus hidup atas remote orang tua. Anak butuh sentuhan hati dan dipahami perkembangan kejiwaannya.

Bagi anak yang menderita disleksia, ia butuh perhatian special karena caranya yang berbeda dalam memandang dunia, termasuk cara berpikir yang kreatif dan ‘out of the box’.

Beberapa tokoh dunia yang pernah menderita disleksia, kesulitan dalam membaca dan menulis adalah Albert Einstein, Leonardo da Vinci, Thomas Alva Edison, Pablo Picasso, Neil Diamond, Walt Disney, Agatha Charistie, dan masih banyak lagi yang lainnya.

storypick

storypick

Akhir dari kisah Ishaan dalam Film ini adalah bangkitnya kecintaan Ishaan untuk belajar dan mengejar ketertinggalannya atas bimbingan gurunya, Ram Shankar Nikumb, bahkan ia menjuarai lomba melukis yang diadakan di sekolah itu dan lukisannya dijadikan cover buku tahunan sekolahnya.

Film ini sendiri pernah meraih 42 Penghargaan sepanjang tahun 2008 dalam berbagai kategori dan pada Tahun 2009 meraih Academy Award Best Foreign Film Submission.

Bagi orang tua, guru dan praktisi pendidikan lainnya,saya merekomendasikan film ini untuk dinonton. (*)

 

 

Tentang Penulis

Etta Adil, seorang Penulis , Founder Komunitas Palontaraq dan Pengasuh Rumah Baca Palontaraq. Karya bukunya meliputi berbagai bidang dan tema, Biografi, Sejarah, Sosial Budaya, Pendidikan, dan Fiksi. Beberapa karyanya antara lain: Sejarah dan Kebudayaan Pangkep (Pemkab Pangkep, 2007), Sejarah Kekaraengan di Pangkep (Pustaka Refleksi, 2008), Manusia Bissu (Pustaka Refleksi, 2008), Antologi Puisi-Penjara Suci (Pustaka Puitika, 2015),  Surat Cinta untuk Bidadari Kecilku di Surga (Pustaka Puitika, 2015).

Like it? Share it!

Leave A Response