3 Hari Melawan Kritis

Ilustrasi. Nyeri Dada sebelah kiri adalah gejala serangan jantung. (foto: deherba)

Ilustrasi. Nyeri Dada sebelah kiri adalah gejala serangan jantung. (foto: deherba)

SAYA pamit pulang dari kantor, siang hari itu, Kamis (13/12). Sempat terujar, “dada kiriku sakit!” Tak ingin mengeluh sebenarnya, tapi kali ini benar-benar sakit.  Respon teman sekantor biasa saja. Tak ada lagi yang perhatikan apa yang saya ungkapkan, semuanya sibuk dengan laporan kerja masing-masing.  Positif thinking saja, mungkin yang saya ungkapkan dianggap bercanda. Sudah menjadi kebiasaan, sakitpun biasanya saya jadikan bahan candaan.

Malamnya, dada bagian kiri semakin sakit. Sakitnya tembus sampai ke belakang punggung.  Tak terbayangkan bagaimana fluktuatifnya grafik EKG -nya jika seumpama sudah berada di rumah sakit. Saya memilih bertahan di dalam kamar,  alasan diungkapkan lelah dan tak ingin diganggu. Tentu karena tidak mau seisi rumah panik dan langsung membawa ke rumah sakit.  Supaya sempurna alasan itu dan kelihatan tidak terjadi apa-apa, saya tidak boleh memperlihatkan gerakan tangan memegang dada sebelah kiri, karena akan ketahuan kalau sakit jantung.

“Ya, Allah, jangan uji aku diluar batas kemampuanku. Ya, Allah, jangan dulu ambil nyawaku. Aku belum siap dan masih banyak dosa”. Tak jelas ingin berdo’a apa? Tak tahu harus berdo’a mulai darimana? Hanya istighfar yang tak putus-putus terucap. Saya berusaha mengumpulkan ingatan tentang bagaimana melakukan pertolongan pertama terhadap serangan jantung. Aneh, saya gelagap! Padahal setahun terakhir, begitu banyak tulisan terpublikasi terkait penanganan sakit jantung. Kedua bola mata ini selidik seisi kamar mencari pertolongan. “Ya Allah, tolonglah hamba!”

Minyak Herbal MPH. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Minyak Herbal MPH. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Mata ini akhirnya fokus pada tampilan botol minyak herbal, produk herbal Minyak Pak Haji (MPH) dari HPA-nya Tun Haji Ismail.  Dada sebelah kiri kemudian dilumuri MPH sambil dibacakan do’a-do’a penyembuh.  Terus menerus dilakukan sambil baca ayat-ayat Al-qur’an apa saja yang dihafal, termasuk Ayat Kursi.  Sebagai Stokis HPA di Pangkep, saya cukup memahami  tentang khasiat MPH. “Dari luar terasa dingin, tetapi minyak herbal tersebut mampu meresap masuk ke dalam pori-pori kulit dan memberikan efek hangat”- ujar seorang teman yang juga pernah memakai MPH.  Tak cukup sampai disitu, saya berusaha mencari jarum bekam lalu menusuk ujung jari tengah dan jari manis. “Darah yang keluar merah sedikit kehitaman”.

Rasa sakit itu masih ada dan terus berdetak sampai ke punggung belakang. Setiap terasa sakit, semakin saya lumuri bagian dada sebelah kiri dengan minyak herbal HPA itu.  Istighfar dalam hati terus diucapkan, segala kemungkinan terburuk terbayang di pelupuk.  Saya keluar kamar dan menyiapkan peresepan herba untuk air rendaman ketumbar.  Lima menit setelahnya, diminum dan kembali ke kamar. Setelahnya saya memilih tidur sebagai bentuk menenangkan diri dan tak ingin ditanya macam-macam. Doa tidur dan Ayat Kursi diucapkan, berharap besok pagi sudah sehat kembali.

Ilustrasi- Sakit Jantung. (foto: kompas)

Ilustrasi- Sakit Jantung. (foto: kompas)

Tengah malam terbangun. “Ya Allah, dada sebelah kiri masih sakit dan sakitnya masih terasa tembus sampai ke punggung belakang”. Berdetak sedikit nyeri. “Ya Allah, ampuni segala dosaku”. – Tak tahu harus berdo’a apa. Hanya itu yang terus terucap sambil tangan meraih kembali botol MPH dan melumuri dada sebelah kiri dengan minyak herbal andalan tersebut. Walau masih terasa sakit, kembali tidur dan berharap semoga sebentar subuh sudah sehat kembali.

Ternyata sampai pagi, Dada sebelah kiri masih saja sakit dan sakitnya masih terasa tembus sampai ke punggung. Terbayang plak kolesterol pada dinding pembuluh darah di jantung. “Separah inikah ya, Allah. Haruskah kembali masuk rumah sakit lagi?” Pikiran kembali berkecamuk tak sanggup membayangkan hal yang tidak-tidak.  Haruskah saya terus terang saja pada seisi rumah? Haruskah saya menyerah?

“Tidak!”- Pikiranku menjawab sendiri kecemasan itu.  Saya sudah belajar banyak ilmu pengobatan: Hipnoterapi, EFT, Bekam, Akupunktur, Herbal, Penanganan Stroke, Terapi Lintah, Fashdu. “Ya, ini hanya sakit biasa. Saya tidak boleh cengeng! Saya harus bangkit! Saya harus kuat!  Tidak boleh mengeluh! Tidak boleh menyerah!  Ya, sebagai terapis, tidak boleh menyerah!” – Saya mencoba menghipnosis diri, memberi dorongan semangat dan bangkit mengobati diri sendiri.  Pagi itu, tetap secara diam-diam, meneruskan rutinitas membaluri bagian dada dengan minyak herba MPH dan membuat air rendaman ketumbar dan meminumnya.

Air Rendaman Ketumbar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Air Rendaman Ketumbar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Alhamdulillah ada semangat sembuh yang muncul, meski sakit itu masih terasa, tapi pikiran tidak lagi sepenuhnya fokus disitu. Kalau kemarin ada keluhan yang disembunyikan, hari itu, Jumat (14/12), sakit itu dinikmati. Tak ada yang perlu disalahkan. Nikmati saja sakitnya. Bukankah sakit itu penggugur dosa? Bukankah sakit seperti ini sudah pernah dialami, dan karenanya, harus tahu apa yang harus dilakukan dan harus tahu apa yang harus dihindari.

Hari itu porsi makan nasi saya kurangi dan lebih banyak mengonsumsi buah-buahan, pisang, lengkeng, dan buah pir.  Kebiasaan meminum Teh Pegagan tidak saya pernah tinggalkan, dan ternyata ini juga memberi efek mengurangi kadar kecemasan saat sakit.  Kondisi tubuh yang tidak stabil, panas-dingin dan terasa kaku bergerak, juga membuat saya pada hari itu mengonsumsi Herba Tuju Angin, yang diyakini juga bagus untuk kesehatan jantung.  Tidak lupa melakukan pemijatan pada jari kelinking, dari ujung jari sampai pangkal jari, dari artikel yang pernah saya baca baik dilakukan untuk kesehatan jantung.

Saya ingat bahwa terapi lintah dengan menempelkan lintah di ujung lidah sangat efektif memberi ruang nyaman bagi pembuluh darah di jantung. “Tapi kemana harus mencari lintah? Saya  pernah memelihara 1o ekor lintah dalam botol setahun lalu, tapi sekarang sudah tidak lagi!  Mau menelpon teman yang terapis lintah di Makassar, terlalu lama”, gumam saya.  Tak ada lintah, Pasta gigi pun jadi. Ya, ada yang terlupakan selama ini, kalau saya masih punya stok Radix Pasta Gigi (RPG), produk HPA-nya Tun Haji Ismail  di lemari kaca.

Di kamar mandipun masih ada RPG. Sekitar enam bulan lalu malahan saya memaklumkan seisi rumah, agar tidak boleh ada pasta gigi lain di kamar mandi selain RPG.  Saya sikat gigi berkali-kali dengan RPG, pasta gigi herbal yang bahannya dari serbuk miswak (kayu siwak), Clove oil (Minyak Cengkeh), dan Tea Tree Oil.  Usai itu, saya mencolek pasta dari RPG dan menempelkannya di ujung lidah. Saya teringat waktu pelatihan terapi lintah, bahwa syaraf-syaraf di ujung lidah ini berhubungan langsung dengan jantung. Efek minyak cengkeh (clove oil) ini terasa segar sekali di ujung lidah dan rasa-rasanya ikut memberi rasa tenang dan segar pada bagian dada.

Herba Tuju Angin, Teh Pegagan, dan Ketumbar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Herba Tuju Angin, Teh Pegagan, dan Ketumbar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Supaya tidak fokus pada sakit jantung itu,  saya tetap bekerja seperti biasa, tetap menulis seperti biasa, dan bahkan ikut mengawas ujian semester anak-anak di sekolah.  Malam harinya, saya mengontak seorang teman yang juga terapis bekam untuk datang ke rumah. Ba’da Isya, saya dibekamnya dengan 8 titik di punggung dan leher. “Kak, barusan kali ini saya bekam, banyak sekali darahnya”, ujar teman yang terapis bekam itu.  Kepadanya, saya tidak cerita bahwa pada saat dibekam itu,  saya sakit jantung dan sakitnya tembus sampai ke punggung.  Malam itu, masih terasa sakit sampai selesai dibekam dan tetap saya lanjutkan pengobatan dengan membalur seluruh dada, tidak lagi hanya dada sebelah kiri, dengan minyak herbal MPH dan meminum air rendaman ketumbar.

Berbekam. (foto: ist/palontaraq)

Berbekam. (foto: ist/palontaraq)

Keesokan harinya, Sabtu, (15/12), tepat Pukul 09.00 WITA, seluruh tubuh terasa dingin, saya memutuskan untuk melakukan terapi Fashdu sendiri, tanpa bantuan orang lain. Tak ada orang lain di rumah, semua sudah ke sekolah.  Alhamdulillah. Titik fashdu di kaki kiri ditentukan, dan hanya dengan satu kali tusukan, tepat mengenai pembuluh darah vena. Darah mengucur pelan, serasa darah yang keluar juga dingin dan menghitam.  “Tak ada yang perlu dikhawatirkan, insya Allah sembuh”, ujarku menyemangati diri sendiri setelah perlahan-lahan detakan sakit jantung sampai punggung itu berkurang sedikit demi sedikit.

Hari Ahad (16/12), saya memberanikan diri mengikuti kegiatan berkuda dan memanah di Makassar.  “Cukup lama saya tidak latihan memanah, dan saya ingin terampil memanah diatas kuda, ini sunnah. Memanah dan Berkuda adalah sunnah. saya harus belajar, dan bukankah di dalam sunnah ada kejayaan”, demikian pikirku meyakinkan diri saat akan berangkat ke Makassar.  Alhamdulillah, saat tiba di Mesjid Anas bin Malik Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) di Antang, Makassar, terucap tiada henti puji dan syukur hanya kepada Allah SWT.  Saat Shalat Dhuha, tak terasa lagi sakitnya, dan seharian penuh itu bisa mengikuti kegiatan “Daurah Berkuda dan Memanah” dengan perasaan nyaman dan tenang. “Alhamdulillah, Ya Allah. Segala Puji dan syukur atas segala nikmat kesehatan ini hanya padaMU”.

Semoga dapat diambil manfaat dan hikmah dari cerita ini. Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

Tulisan Terkait:

Ketumbar dan Manfaatnya bagi Kesehatan Jantung

Terapi Fashdu dan Manfaatnya

Terapi dengan Kaidah Fashdu

Like it? Share it!

Leave A Response