BerandaAkademiaMengenal Lontar Usada: Kitab Khazanah Pengobatan Nusantara

Mengenal Lontar Usada: Kitab Khazanah Pengobatan Nusantara

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

PALONTARAQ.ID – Ada yang pernah mendengar “usada” dalam khazanah pengobatan Nusantara? Ya, istilah “Usada” adalah istilah untuk pengobatan tradisional Bali yang berasal dari bahasa Sansekerta “ausadhi” yang berarti tumbuhan yang mengandung khasiat obat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “usada” bermakna obat dan ilmu pengobatan. Pemerintah RI, dalam hal ini Kementerian Kesehatan yang dahulunya disebut Departemen Kesehatan (Depkes) mengadopsi kata ini menjadi “husada” dan secara khusus digunakan pada Nama-nama instalasi medis serta pekerja medis dan paramedis disebut bagian dari “Bakti Husada”.

Kata Usada atau Husada merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta “oşadha” atau “ausadhi” yang artinya adalah obat dan ilmu pengobatan. Jadi, meskipun dalam kata baku bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata dasarnya adalah “usada”, namun kata tersebut telah diserap dari Bahasa Jawa Kuno dan dialihaksarakan ke huruf Latin menjadi “husada”.

Lontar Usada

Lontar Usada adalah naskah klasik yang berisi berbagai jenis pengobatan, ditulis di atas daun lontar menggunakan bahasa Bali, sehingga lazim disebut Lontar Usada Bali. Ada berbagai macam Lontar Usada, sesuai dengan jenis penyakit dan pengobatannya. Naskah ini tersebar di dalam maupun luar negeri.

Di Provinsi Bali sendiri, naskah Lontar Usada ini banyak tersimpan di Gedong Kirtya, Perpustakaan Universitas Udayana dan Balai Bahasa Bali. Selain itu ada juga beberapa diantaranya menjadi koleksi pribadi.

Beberapa naskah Lontar Usada sudah dialihaksarakan dan diterjemahkan, di antaranya: Usada Sari (2007), usada Tuju/rematik (2007), Usada Paneseh (2015). Dalam katalog yang disusun Behrend (1998) disebutkan beberapa Usada di antara misalnya Usada Paribasa Mahasantra Parisa, Usada Tamba Panastis, Usada Penawar Ruruning Upas. Katalog Behrend ini tersimpan di Perpustakaan Nasional RI di Jakarta.

Katalog Wierenga (1998) menyebut beberapa judul naskah Usada berdasarkan koleksi yang ada di perpustakaan Universitas Leiden (Mu’jizah, 2016; 193). Beberapa hasil penelitian yang dilakukan Tim Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali tahun 2007 menunjukkan beberapa judul naskah Lontar Usada yaitu Usada Buduh (pengobatan orang gila/sakit jiwa), Usada Cukildaki (pengobatan rematik), Usada Dalem (pengobatan penyakit dalam), Usada Ila (pengobatan penyakit lepra), Usada Kacacar (pengobatan penyakit cacar), Usada Manak (pengobatan merawat kandungan/melahirkan), Usada Panugpugan (penyakit karena black magic), Usada Lare (pengobatan anak), Usada Tiwang, Usada Budhakecapi, Usada Kuda, Usada Kurantangbolog. 

Judul-judul tersebut mencerminkan jenis-jenis obat dan tata cara pengobatan pada masing-masing penyakit. Dalam naskah-naskah tersebut jenis penyakit, bahan-bahan obat, cara meracik dan prosedur pengobatan untuk tiap-tiap penyakit dijelaskan secara rinci menggambarkan betapa kayanya khazanah ilmu pengobatan Nusantara.

Untuk jenis penyakit jiwa misalnya dijelaskan ada 11 jenis (Mu’jizah, 2016; 196), yaitu: (1) Jenis penyakit jiwa dengan gejala suka bernyanyi sendiri, (2) Sering menangis, (3) Penyakit jiwa dengan gejala sering tertawa sendiri, (4) Penyakit jiwa dengan gejala sering bermain kotoran, (5) Suka berbicara sendiri (meracau), (6) Sering tidur dan tidak mau makan, (7) Kecenderungan gila dengan gejala suka marah-marah, (8) Gila disertai epilepsi, (9) Gila dengan perut bengkak, (10) Gila dengan memaki-maki dukun yang mengobati dan (11) Gila dengan gejala campuran/umum. Untuk semua jenis kegilaan ini memiliki obat atau cara pengobatan yang berbeda, yang mana tertulis dalam Lontar Usada.

Dalam buku Paneseh Usada (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bali, 2015), malahan disebutkan contoh obat dan cara pengobatan beberapa jenis penyakit. Misalnya bahan obat penyakit tuju (rematik) dengana gejala sakit pinggang adalah isi buah kemiri, beras yang telah direndam, bawang merah dibakar. Cara pengobatan,  bahan-bahan ini dihaluskan kemudian disemburkan ke pinggang yang sakit. Bahan obat untuk sakit panas adalah kulit kayu puri, nasi yang dijemur (beras karag). Kedua bahan itu itu dihaluskan kemudian badan yang panas dibedaki dengan ramuan tersebut.

Untuk pengobatan penyakit dalam misalnya, dengan gejala perut bengkak dan batuk keluar darah/nanah dapat diatasi dengan kunyit warangan, kulit pohon pule, kayu batu maswi, tumukus, 3 butir ketumbar dan minyak kelapa. Semua bahan itu ditumbuk halus kemudian diminum. Untuk obat luarnya adalah daun kemiri muda, cendana, pohon kembang sepatu, maswi, kemiri. Semua ditukbuk lalu disemburkan (Dinas Kebudayaan, 2015;169).

Untuk ibu melahirkan yang plasentanya tidak keluar dapat diatasi dengan minum kaun kamurungan dicampur arak, bisa pula dengan jahe 7 iris dicampur urang aring dilumatkan kemudian diminum. Untuk obat penyakit ila (lepra) jenis lungsir (menurut naskah Lontar Usada penyakit lepra ada berbagai jenis) obatnya adalah kulit kayu pangi, kulit kayu bila dan sinrong wayah. Semua bahan dihaluskan lalu ditambah air cuka tahun, diramu seperti bedak lalu dioleskan ke bagian tubuh yang sakit. Untuk penyakit lepra dengan gejala warna putih yang melingkar obatnya adalah jahe pahit, isin orong, bunga cenkih, cabe jawa, terusi warangan, belerang merah dan kuning. Semua ditumbuk sampai halus kemudian dicampur air perasan jeruk limau dan dioleskan ke bagian tubuh yang sakit (Ibid; 3 dalam Mu’jizah, 2016; 198)

Dalam naskah Lontar Usada Bali, ada ratusan jenis penyakit yang dipaparkan sehingga menunjukkan bahwa sejak zaman dahulu nenek moyang bangsa Nusantara telah memiliki kemampuan observasi terhadap berbagai jenis penyakit dan mendiagnosa sendiri gejalanya. Dari hasil diagnosa tersebut lalu dikembangkanlah ilmu herbal untuk menemu-kenali beberapa tumbuhan obat. Menariknya, karena leluhur Nusantara juga menemukan komposisi dari ramuan obat tersebut.

Naskah Lontar Usada merupakan kekayaan ilmu untuk tidak lanjut penelitian medis. Misalnya zat kimia apa yang terkandung dalam bunga cengkih, cabe jawa, jahe, belerang kuning dan merah sehingga dapat dijadikan obat lepra. Zat kimia apa yang terkandung dalam daun kemiri muda, cendana, pohon kembang sepatu, maswi, sehingga dapat menjadi obat muntah darah (penyakit dalam) dan menjadi temuan menarik dalam dunia medis.

Beberapa antropolog juga meneliti tradisi pengobatan ini. Foster (1978) meneliti tradisi pengobatan masyarakat dan mengkaitkannya dengan ilmu antropologi, sehingga dikenallah cabang ilmu yang disebut etnomedicine, yang dalam perkembangannya dibagi dalam dua kelompok yaitu pengobatan yang menggunakan bahan dari tumbuhan (herbal medicine) dan obat-obatan yang berasal dari hewan (animal medicine).

Menjelajah naskah kuno Lontar Usada, kita akan melihat bagaiman khazanah ilmu pengetahuan Nusantara di bidang penyakit, obat-obatan dan tehnik pengobatan ini menunjukkan bahwa sebelum berkembang ilmu pengobatan (medicine) modern, beragam khazanah pengobatan itu telah ditemukan di Nusantara, lengkap dengan teknik observasi dan komposisi obatnya. Kepekaan dan kecermatan dalam melihat fenomena alam serta manusianya merupakan fondasi konstruksi ilmu pengetahuan. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pegiat Thibbun Nabawi/Pernah Mengikuti Pelatihan Kelas “Usada Empiris Indonesia” Level 1 Batch 3 1 Maret s.d. 1 Mei 2021 dan Zoominar II Perkumpulan Paricara Usada Indonesia (PPUIN) bertema, “Usada Nusantara sebagai Bagian dari Ketahanan Kesehatan Bangsa” pada Tanggal 25 Juni 2021.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT