BerandaKuliner RamadhanTema Lokal dan Kuliner Tradisional dalam Liputan Khusus Ramadhan

Tema Lokal dan Kuliner Tradisional dalam Liputan Khusus Ramadhan

Oleh: M. Farid W Makkulau 

Related Post: Ucapan Menyonsong Ramadan dalam Bahasa Bugis

PALONTARAQ.ID – Ramadhan datang kembali menyapa, dan seperti ramadhan-ramadhan yang telah lalu, kita harus gembira dan bahagia menyambutnya. Bukan hanya banyaknya potensi kegiatan meraup pahala berlimpah, tapi Ramadhan juga adalah ajang silaturahim di waktu berbuka puasa.

Sebagai pekerja media yang punya perhatian terhadap tema lokal dan kuliner tradisional dalam Bulan Ramadhan, kesempatan untuk melakukan liputan khusus tak bisa dilewatkan. Banyak tentunya hal menarik, unik dan seru jika tema-tema lokal tersebut dapat dieksplorasi dengan sebaik-baiknya, khususnya berkaitan dengan tradisi Ramadhan di kalangan masyarakat Bugis Makassar.

Banyak hal yang tinggal kenangan dan kini menjadi tradisi Ramadhan yang dilupakan, seperti halnya Pallu-pallu, yang dalam Bahasa Makassar bermakna ‘masak-masak’, suatu panggilan riuh di waktu dinihari untuk membangunkan orang untuk memasak (bersahur). Penulis pernah menuliskannya disini: Pallu–pallu: Tradisi Sahur yang Mulai Terlupakan.

Banyak kuliner khas sebenarnya bermunculan di Bulan Ramadhan ini, yang pada bulan-bulan biasa sukar kita mendapatkannya. Kuliner apa saja itu? Ya, seperti Tape dan Es Poteng sebagai Menu Berbuka Puasa, Nikmatnya Cendol saat Berbuka Puasa, Nikmatnya Berbuka Puasa dengan Kadoppe, Nikmatnya Berbuka Puasa dengan Es Pisang Ijo Khas Makassar, atau Es Pallu Butung dan Kolak Pisang sebagai Menu Favorit Buka Puasa.

Jika menyempatkan Ngabuburit di Wirsal Pangkajene, menunggu waktu berbuka puasa, maka jajanan yang mendominasi adalah Jalangkote. (Lihat: Bukber, Jalangkote dan Keseruan Berburu Takjil), meski begitu silakan dicoba 10 Menu Buka Puasa dan Takjil khas Makassar, Citarasanya Mantap!

Di Kota Makassar sendiri, berlimpah jajanan tradisional yang hanya bisa ditemukan hanya di Bulan Ramadhan. Begitu pula di daerah-daerah sekitar Kota Makassar, bermunculan kue dan jajanan tradisional yang sebelumnya tidak ditemukan di bulan lainnya. Ini satu kesyukuran tersendiri bagi perantau dari kampung atau bagi mereka yang memang lidahnya selera dari kampung.

Seperti demikianlah kondisinya penulis. Lebih mencari kuliner tradisional untuk menu berbuka puasa, seperti halnya kambu paria, pallu kaloa, pallu basa, coto makassar, ikan bakar parape’, juku’ kambu, dan lain sebagainya. Banyak kenangan yang menyertai kehadiran kuliner tradisional di meja buka puasa, terkadang tak terasa mata jadi sembab karena terkenang makan bersama orangtua dengan menu seperti itu.

Sebagai pekerja media, hal-hal seperti inilah yang harus dibaca. Betapa nikmat kuliner tradisional tersebut dihadirkan dan perlu didorong untuk dihadirkan sebagai menu sahur dan buka puasa Ramadhan. Selain sehat dan menyehatkan, kuliner tradisi ini kadang masih dimasak juga dengan cara tradisional. Kini, malahan menjadi usaha kecil menengah di lorong-lorong kota Makassar dan sekitarnya, menjadi usaha kuliner rumahan bagi Ibu-ibu rumah tangga, yang asal usulnya dari kampung.

Beberapa titik lokasi ngabuburit di Makassar menjadi pasaran kuliner tradisional. Nampaknya menu khas sarabba dan pisang epe di pantai losari masih menjadi primadona. Untuk yang lebih khusus lagi, biasanya ada tempatnya/warungnya sendiri. Ramadhan pada akhirnya bukan hanya momentum waktu untuk merebut pahala, tapi juga momentum waktu untuk meraup untung bagi penjual jajanan, kue atau kuliner tradisional.

Suka dengan tema lokal bernuansa latar belakang sosial budaya dan kuliner tradisional Bugis Makassar dalam masa Bulan Ramadhan tahun ini, tuk ngabuburit bersama Palontaraq. Tunggu liputan bersambungnya di Blog Palontaraq ini. Salamaki tapada salama’. (*)

 

(* M. Farid W Makkulau, penikmat Kuliner Tradisional khas Bugis Makassar.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT