Pesantren Mengapa mesti Belajar Sejarah Kebudayaan Islam?

Mengapa mesti Belajar Sejarah Kebudayaan Islam?

-

- Advertisment -

Mengajar SKI. (foto: ist/palontaraq)
Mengajar SKI. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Tulisan sebelumnya:  Materi Pembelajaran SKI Kelas 12 SMA Kurikulum 2013

PALONTARAQ.ID – Apa itu Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)?  Pelajaran ini tidak ada di sekolah umum, tetapi hanya diajarkan dan menjadi salah satu mata pelajaran di Pondok Pesantren atau Madrasah.

Ketika ditawari untuk ikut mengampu mata pelajaran SKI ini, penulis berpikir agak lama, apakah mampu mengajarkannya? Di satu sisi, penulis berlatar belakang S1 Syariah, yang dari jurusan itu, kalau harus terjun mengajar di sekolah/pesantren, harusnya mengajar Fikih.

Meski begitu, penulis terbiasa untuk menerima tantangan pembelajaran dan karena alasan inilah, pada akhirnya penulis menerima tawaran mengajar SKI ini, paling tidak sampai ada guru yang benar-benar ada diterima mengajar untuk mata pelajaran itu, dan ekuivalen dengan jurusan kesarjanaannya.

Itulah pertimbangan penulis setahun lalu ketika ‘setengah hati’ menerima mengajar SKI.  Sampai kini, penulis masih dipercaya untuk mengajarkan mata pelajaran SKI ini.

Jujur jika diajukan pertanyaan yang sama untuk saat ini, penulis jadi enggan melepaskannya, kadung jatuh cinta pada pelajaran SKI ini, dan mungkin pula karena penulis menemukan banyak kerancuan pembahasan dalam banyak buku SKI yang diajarkan di madrasah/pesantren, dan tertantang untuk menertibkan pembahasannya.

Lebih tepatnya, meluruskan sejarahnya dan meletakkannya pada kerangka pembahasan yang tepat. Dari pembahasan tentang Sejarah Muhammad SAW, sebelum dan sesudah mengemban risalah kerasulan, bagaimana Kota Makkah sebelum dan sesudah Islam datang, bagaimana peralihan kekuasaan dan amanah dakwah dari Rasulullah SAW kepada Khulafaur Rasyidin, dan seterusnya.

Begitu pula pembahasan tentang Sejarah Daulah Bani Umayyah dan Daulah Bani Abbasiyah, bagaimana penyebaran Islam ke berbagai belahan dunia, bagaimana pembaharuan dan peradaban dunia yang tercipta berkat kehadiran Islam, sampai pada materi tentang Bagaimana Islam masuk di wilayah kepulauan Nusantara (Indonesia)?

Masjid Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta. (foto: ist/palontaraq)
Penulis bersama kawan akademisi/dosen di Pelataran Masjid Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula: Islam masuk Indonesia saat Rasulullah SAW masih hidup

Ada banyak pembahasan dalam Pelajaran SKI yang tidak menemukan kesinambungan karena siswa/santri kurang dipahamkan akan konteks sejarah dan latar belakang sosial peradaban pada masa awal penyebaran Islam, dan bagaimana setelahnya.

Ada kekhawatiran pada diri penulis, bahaya jika seorang Guru SKI salah dalam menjelaskan Bab-bab dalam Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam atau menjelaskannya tidak pada konteksnya yang tepat.  Islam bisa saja dianggap ‘agama pedang’, yang disebarkan lewat jalan perang, jika seorang guru tidak memahamkan kontekstualisasi sejarah Islam yang dipelajari.

Seorang guru SKI, menurut penulis, harus memiliki pemahaman yang utuh dan kompleks, bukan hanya dalam membaca Sejarah, tetapi yang lebih penting adalah memahami kontekstualisasinya.

Tak sekadar memahami dari teks, tapi juga secara konteks, sehingga tergambar hubungan dan kesinambungan pembahasan antara satu bab dengan bab lainnya.

Itu pula sebabnya ketika mengajarkan SKI, pada pertemuan pertama Pembelajaran SKI, penulis selalu memahamkan terlebih dahulu apa dan bagaimana itu Sejarah Kebudayaan Islam? Siswa atau santri harus paham apa itu Islam, Sejarah, dan Kebudayaan? Tentang bagaimana Islam mewarnai sejarah dan kebudayaan manusia? Dan tentang bagaimana peradaban, kemajuan, pembaharuan atau modernisasi yang muncul kemudian?

Lihat pula: Materi Pelajaran SKI Kelas XI Kurikulum 2013

Sebaik-baik Sejarah ialah memahami konteksnya, sehingga dapat diambil pelajaran dan hikmah berharga darinya. Sebagian dari sejarah itu adalah kisah-kisah yang telah tertulis dalam Ayat-ayat al-Qur’ân dan Hadits-hadits yang shahîh dari Rasûlullâh SAW.

Karena kisah-kisah tersebut disamping sudah pasti benar, bersumber dari wahyu Allâh SWT, juga karena kisah-kisah tersebut memang disampaikan oleh Allâh SWT  untuk menjadi pelajaran bagi seorang muslim, tentang bagaimana menempatkan Islam sebagai pemacu dan pemicu Sejarah dan Peradaban gemilang.

Allâh SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Artinya:

Sesungguhnya pada Kisah-kisah mereka (para Nabi dan umat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (sehat). al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman [Yusuf/12:111]

Masjid Amirul Mukminin, di Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)
Masjid Amirul Mukminin, di Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Kapan itu terjadi, dan bagaimana situasi yang terjadi saat itu, lalu bagaimana Islam ada sampai dengan saat ini? Maka tak ada cara lain kecuali kita membaca sejarah secara lengkap, sehingga kita mengetahui dimana letak peristiwa-peristiwa itu dalam rangkaian sejarah dan peradaban Islam.

Lihat pula: Nasab dan Silsilah Nabi Muhammad SAW

Mendapatkan informasi dan pemahaman utuh tentang Nabi Muhammad SAW, Asal-usul khazanah sosial budaya sebelum dan kedatangan Islam akan memberikan kita ‘ibrah (pelajaran) dari kejadian tersebut, dalam konteks sejarah, tentang bagaimana Islam itu dibawa, diajarkan, dan didakwahkan.

Dengan mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam, siswa dan santri juga akan mendapatkan khazanah dan ghirah dakwah dari ketokohan para pelaku sejarah, pada generasi sahabat, tabiin, tabi’it tabiin, para khalifah, gubernur dan panglima perang dari setiap masa kekuasaan Islam.

Tentu bagi guru yang mengajarkan, akan selalu tertantang untuk memahamkan teks dan konteks Sejarah Kebudayaan Islam yang dipelajari, agar siswa/santri mampu berpikir kronologis dari rentetan peristiwa yang terjadi, memilah dan memilih mana aspek sejarah yang perlu dikembangkan dan mana yang tidak perlu, tapi cukup menjadi pelajaran.

Mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam bisa mendatangkan kesenangan tersendiri. Jika dapat dipahami konteks sejarahnya dengan baik, siapapun pembelajarnya akan mendatangkan kedewasaan dalam memandang masalah keummatan. Bagi yang mempelajarinya,  seakan-akan kita ikut masuk dalam kisahnya serta mengikuti perjalanannya.

Mari belajar Sejarah Kebudayaan Islam! (*)

 

(* Muhammad Farid WajdiGuru Sejarah Kebudayaan Islam,  Pengasuh/Pembina Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

 

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you