Oleh: Narudin *)
PALONTARAQ.ID – Berikut ini kritik sastra dari Narudin, seorang Kritikus Sastra, Penyair dan Penerjemah atas karya Andi Mahrus, “Testimoni di Kandang Sapi” (red-).
I.
Buku puisi pilihan 1978-2021 karya Andi Mahrus berjudul Testimoni di Kandang Sapi ini kaya dari segi bentuk dan segi isi puisi. Sebelum membahas bentuk dan isi puisi dalam buku ini, mengenal sosok penyair amat dianjurkan. Mahrus Andis, nama lengkap Drs. H. Andi Mahrus Syarif, M.Si. lahir 20 September 1958 di PonreGantarang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Menyelesaikan studi pada Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin 1984, dan mengabdi sebagai aparatur negara di kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Bulukumba sampai 2018. Beberapa karya bukunya yang telah terbit, meliputi buku puisi, prosa, dan kritik sastra. Ia menulis puisi sejak tahun 1978 hingga tahun 2021, sebuah pencapaian kreatif yang lama, sekitar 43 tahun menulis puisi.
II.
Buku puisi ini disebut kaya dari segi bentuk dan segi isi puisi memang dapat dibuktikan dengan cara membaca buku puisi ini hingga tuntas meskipun dibaca secara sekilas. Andi Mahrus tampak mempermainkan bentuk-bentuk puisinya dengan isi-isi puisi yang pelbagai, menunjukkan betapa luas pengetahuan dan pengalaman hidupnya.
Ada puisi-puisi yang bersifat warna lokal dengan menggunakan atau mengutip bahasa daerah misalnya berjudul “Pesan Nakhoda Kepada Sawinya” dan “Sajak Panrita Lopi”. Ada sajak dengan tema semangat kebangsaan atau protes sosial misalnya berjudul “Hidup di Republik Pembiaran” dan “Memandang Wajah Koruptor”. Ada puisi-puisi yang bersifat religius misalnya berjudul “Muhammad Al-Amin Cahaya di atas Cahaya”, ada puisi yang lucu atau jenaka misalnya berjudul “Yang Bikin Gelap Rumahmu” dan “Kemerdekaan Adalah Senyum Manis buat Istri” sampai puisi-puisi yang bersifat sufistik atau lebih tepat kontemplatif atau bermenung—menunjukkan betapa Andi Mahrus seorang perenung atau pemikir tangguh—hingga taraf tertentu.
Puisi-puisi yang bersifat kontemplatif ini terpancar dari puisi berjudul “Testimoni di Kandang Sapi” yang menjadi judul buku puisi ini. Puisi ini berkisah tentang seekor sapi dan pohon kelapa. Ironi tentang peralihan dari hidup ke mati ini secara personifikasi (majas pengorangan) menarik digambarkan oleh Andi Mahrus dan memang ironi ini sindiran kepada manusia agar mempersipakan diri sebelum kematian tiba menjemput. Kegelisahan manusiawi tecermin dalam puisi ironis ini. Bagaimana di sampul buku gambar sapi berkepala manusia dilukiskan agar sindiran ini mengingatkan manusia yang berakal sehat agar mempergunakan akal sehatnya selagi hidup di dunia fana ini.
Binatang tak diminta pertanggungjawaban atas perbuatannya oleh Tuhan kelak di akhirat untuk mendapat balasan surga atau neraka (hanya dua pilihan saja), kecuali manusia dan bangsa jin, akan diminta. Demikianlah petunjuk dari Kitab Suci Alquran yang diyakini oleh Andi Mahrus sebagai seorang Muslim.

III.
Di bawah ini akan dianalisis secara semiotik puisi-puisi Andi Mahrus, sekadar contoh yang mewakili, yang merupakan pencapaian baik dari puisi-puisi yang telah disebut di atas. Puisi-puisi lainnya memiliki kekuatan pula meskipun beberapa puisi harus lebih dikuatkan lagi dari segi bentuk dan segi isi puisi—sedikit perihal ketaktepatan ejaan pun harus disunting lagi.
Dalam teori Semiotika Charles Sanders Peirce, yang dikembangkan oleh Aart van Zoest, dan segi indeksikalitasnya oleh Narudin, 3 puisi contoh di bawah ini akan dianalisis trikotomi semiotiknya, yaitu, ikon (gambar atau kemiripan bentuk), indeks (sebab-akibat atau isyarat), dan simbol (lambang). Teori selengkapnya dapat dibaca dalam buku teori sastra Narudin, berjudul Semiotika Dialektis (UPI Press, 2020).
Secara ringkas, ikon atau gambar bentuk 3 puisi Andi Mahrus di bawah ini berselera, dalam hal pembaitan dan enjambemen (pemotongan baris-baris puisi). Dalam puisi “Sajakku Satu Malam” bentuk ikon topologis (tipografinya) paling menonjol di bagian bait akhir untuk kata “abadi” yang dipanjangkan secara vertikal menjadi “abadiii”. Simak puisi pertama berikut, dikutip secara utuh.
SAJAKKU SATU MALAM
Ada mataku
Dua
Yang satu memandang cakrawala dan satunya lagi melirik padamu
Tapi bukan
mata-mata
Ada tanganku
Dua
Yang satu menggapai udara dan satunya lagi meraba dadamu
Tapi bukan
panjang tangan
Ada lututku
Dua
Yang satu di kaki kanan
Satunya lagi di kaki kiri
Setiap waktu telungkup di tepi ranjangmu
Tapi tidak
bertekuk lutut
Pacarku ada dua
Yang cantik cukup manja
Satunya lagi manis dan lincah
Tapi bukan
kekasihku
Dan engkau
Ambillah kedua mataku, ambil
Ambillah kedua tanganku, ambil
Ambillah kedua kaki-kakiku, tapi jangan lututku
Ambillah seluruh lekuk liku tubuhku
Reguklah darahku
Remuklah tulang-tulangku
Sampai puas engkau santap dagingku
Tapi tidak
rinduku
Karena ia milik sepi ini
Satu-satunya
a
b
a
d
i
i
i
-Blk, 1979-
Penafian dengan kata “tapi” dalam ikon struktural membandingkan sifat materi (substansi) dan sifat non-materi (esensi) seperti kata-kata: “mata-mata”, “panjang tangan”, “bertekuk lutut”, “kekasihku” hingga kata “rinduku”. Puisi ini menekankan bahwa yang bersifat rohani lebih tinggi derajatnya daripada yang bersifat jasmani. Oleh karena itu, di akhir bait puisi muncul indeks “abadiii”. Walaupun satu kata yang telah diubah ini “abadi”, tetap pihak pembaca diajak merenungkan alam keabadian atau yang diabadikan. Dan dari kata “sepi” yang terjadi pada satu malam itu dapat menjadi simbol suatu ibadah atau lambang kekhusyukan si aku-lirik atau penyair dalam puisi ini.
Kini bacalah puisi kedua secara utuh.
SENIMAN ADALAH SELEMBAR SURAT NIKAH
Seniman adalah bukit yang hijau
Bulan merebahkan senyum di pucuk daun jambu
Seniman adalah telaga yang bening
Mengalir dari perut lembah belantara
Menetes dalam kerontang mimpi-mimpimu
Seniman adalah nakhoda hatinurani
Mengembara dari gelombang ke gelombang
Pecah di puncak batu karang
Seniman adalah halaman buku tua
Menampung sejarah airmata
Mengendap luka-luka kemanusiaan
Seniman adalah selembar surat nikah
yang engkau biarkan kumal dalam dompet siangmalammu
Seniman adalah istri masasilam
Menghamilkan kerinduan masadatang
Seniman adalah bendungan mata air
Yang menampung air mata
Sembab di Bosnia
Tiris di Palestina
Tetes di Flores
Seniman adalah kami yang tak punya apasiapa
Selain laut
Selain maut
Selain duri
Selain puisi
Selain Engkau
Ya Rabbi.
-Blk, 1980-
Dalam puisi di atas, tampak sekali kompetensi puitis Andi Mahrus. Ikon tipografi dan ikon struktural betul-betul disusun secara kuat dengan kesadaran estetis yang bagus. Perbandingan atau definisi seniman yang ia tuangkan pun tampak bernada asli, yaitu hasil permenungan Andi Mahrus. Perbandingan itu merupakan indeks bagi pihak pembaca agar mencari akibat dari sebab kata-kata yang dirangkai oleh Andi Mahrus. Yang kemudian ia selipkan simbol tertentu dengan kata “maut” di akhir puisi hingga tiba pada “selain Engkau, Ya Rabbi”. Simbol ini menyatakan bahwa makhluk manusia itu lemah apalagi saat maut datang—yang dipunyai seniman hanyalah (seharusnya) “Rabb” (Tuhan) saja.
Puisi “Seniman adalah Selembar Surat Nikah” ditulis tahun 1980, pada masa-masa muda atau awal Andi Mahrus menulis puisi. Sedangkan puisi terakhir di bawah ini merupakan puisi yang ditulis di masa akhir, yakni tahun 2021. Sekitar 40 tahun kemudian ternyata kompetensi puitis Andi Mahrus belum juga pudar.
Bacalah puisi di bawah ini secara saksama sebagai buktinya. Puisi ini salah satu puisi terbaik Andi Mahrus dalam buku puisi ini. Ikon tipografinya berselera, ikon strukturalnya kuat, indeks atau isyarat kata-katanya tampak halus, dan simbol matahari dengan tambahan kata-kata perpisahan “selamat tidur” memberi pengaruh mendalam terhadap batin pembaca yang masih suci.
SELAMAT TIDUR MATAHARI
Selamat pagi matahari
Kusut cahaya wajahmu memandang kami
Bertumpuk di ruas jalan
Berdesak-desakan dalam kepulan asap knalpot
Terperangkap kemacetan
Selamat siang matahari
Dingin peluh cahayamu menetesi bumi
ketika segerombol buruh kontrak menggelar aksi
Mengusung keranda reformasi
Tentang ideologi
sepiring nasi
Selamat sore matahari
Cahayamu letih memantul di kelopak daun
Merunduk tepekur
Membayang cemas di wajah istri
yang setia menanti suami
Kembali dengan sepotong roti
Selamat malam matahari
Lumut membalut cahayamu
Saat lelap membangun mimpi kemilau:
(Sebuah istana
megah
Sejuk dan ramah
bagi perut yang
payah)
Sementara
di sudut gelisah ibukota
Remaja berpestapora
Menari-nari dalam gelegar musik
Mengoyak budaya mengusik tradisi
Mengubur leluhur
dalam lumpur
modernisasi
Selamat tidur matahari
Airmata cahayamu menjadi kabut
Menghitam bagai debu
dalam
kolam
siang
malam
ku
-Mks, 2021-
IV.
Demikianlah, Andi Mahrus ternyata termasuk “mutiara penyair” dari Bulukumba—yang selama ini kita lalai meliriknya. Selama lebih dari 40 tahun menulis puisi, Andi Mahrus sebagai penyair ternyata masih mampu memamerkan kompetensi puitisnya dan kompetensi bahasanya kepada pihak pembaca, terbukti dengan analisis semiotik di atas dari beberapa puisi yang mewakilinya.
***
Subang, 26 Mei 2021
*) Kritikus Sastra, Penyair dan Penerjemah.
Sumber: DISINI


