BerandaPesantrenNasab dan Silsilah Nabi Muhammad SAW

Nasab dan Silsilah Nabi Muhammad SAW

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

Tulisan Sebelumnya: Materi Pelajaran SKI Kelas X Kurikulum 2013

PALONTARAQ.ID – Diantara kegunaan mempelajari ilmu nasab adalah: Pertama, mengetahui nasab Nabi Muhammad SAW yang merupakan suatu keharusan untuk sahnya iman.

Ibnu Hazm berkata bahwa diantara tujuan mempelajari ilmu nasab agar seseorang mengetahui bahwasanya Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT kepada jin dan manusia dengan agama yang benar.

Lihat pula: UAH – Silsilah Keturunan Nabi harus Diketahui

Pertama, Dia Muhammad bin Abdullah al-Hasyimi al-Quraisy lahir di Makkah dan hijrah ke Madinah.

Siapa yang mempunyai keraguan apakah Muhammad SAW itu dari suku Quraisy, Yamani, Tamimi atau Ajami, maka ia kafir yang tidak mengenal ajaran agamanya.

Kedua, Sesungguhnya pemimpin itu berasal dari suku Qurais. Berkata Ibnu Hazm, “Dan tujuan mempelajari ilmu nasab adalah untuk mengetahui bahwa seseorang yang akan menjadi pemimpin harus anak cucu Fihr bin Malik bin Nadhir bin Kinanah.

Ketiga, Untuk saling mengenal di antara manusia, hingga kepada keluarga yang bukan satu keturunan dengannya.

Hal ini penting untuk menentukan masalah hukum waris, wali pernikahan, kafaah suami terhadap istri dalam pernikahan dan masalah wakaf.

Dari Abu Dzar al-Ghifari, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang yang mengaku bernasab kepada lelaki yang bukan ayahnya, sedangkan ia mengetahuinya maka ia adalah seorang kafir.”

“Dan siapa yang mengaku bernasab kepada suatu kaum yang bukan kaumnya, maka bersiaplah untuk mengambil tempat duduknya di neraka”.

Berkata al-Hafidz al-Sakhawi dalam Kitab “Al-Ajwibah al-Mardhiyah”, diriwayatkan oleh Abu Musâab dari Malik bin Anas, “Siapa yang menyambung nasabnya kepada keluarga Nabi saw (dengan cara yang bathil) maka orang tersebut harus diberi hukuman dengan pukulan yang membuat dia bertobat karenanya.”

Lihat pula: Silsilah/Nasab Nabi Muhammad SAW – Habib Ahmad Tuban Assegaf

Dari Said bin Abi Waqqas, Rasulullah SAW bersabda:  “Siapa yang mengaku bernasab kepada yang bukan ayahnya di dalam Islam, sedangkan ia mengetahui bahwa itu bukan ayahnya, maka surga haram baginya”.

Dalam kitab Nihayah al-Arab, syekh al-Qalqasyandi berkata, “Bukan rahasia lagi bahwa mempelajari ilmu nasab, ada hal yang difardhukan bagi setiap orang, ada yang tidak, dan ada pula yang dianjurkan.”

Misalnya mengenali nasab nabi kita, mengenali nasab-nasab orang lain dan agar tidak salah dalam memberlakukan hukum waris, wakaf maupun diyat.

Seseorang yang tidak mempelajari ilmu nasab, sudah pasti ia akan salah bertindak terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan masalah-masalah di atas.

Dengan demikian jelaslah bahwa Ilmu Nasab adalah suatu ilmu yang agung yang berkaitan dengan hukum-hukum syaraâ.

Siapa saja yang mengatakan bahwa mempelajari Ilmu Nasab itu tidak memberi manfaat dan tidak mengetahuinya pun tidak membawa mudarat, maka sesungguhnya mereka telah menghukum diri mereka sendiri melalui syetan yang selalu memperdayanya dengan hiasan amalan mereka.

Lihat pula: Lirik Nasab Rasul SAW – Muhammad Hadi Assegaf

Bagaimana dengan nasab Rasulullah SAW?  Perhatikan urutan nasab berikut:  Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luay bin Ghalib bin Quraisy bin Abu al-Harits bin Qais bin Kinanah bin Khuzaimah bin Amr bin Ilyas bin Mudlhar bin Nizar bin Ma’add bin Udd bin Muqawwim bin Naahuur bin Tayrah bin Ya’rub bin Yasyjub bin Nabit bin Ismail as bin Ibrahim as bin Tarih bin Naahuur bin Saaruugh bin Raa’uu bin Faalikh bin Aybar bin Syalikh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh as bin Lamak bin Mattu Syalakh bin Idris as bin Yard bin Mahlil bin Qaynan bin Yanisy bin Syits bin Adam as.

Selengkapnya adalah:

– Muhammad bin

01) Abdullah bin

02) Abdul Muthalib, yang memiliki nama asli Syaibah, dinamai demikian karena beberapa alasan: 1. Memiliki uban (Syaib) sejak lahir. 2. Sebagaimana wasiat ayahnya. 3. Agar mempunyai jiwa dewasa. Abdul Muthalib: Syaibah bin

03) Hasyim yang mempunyai nama asli Amr, dipanggil Hasyim karena menjamu banyak orang dengan daging cincangan (Hasyiim). Beliaulah orang pertama kali yang menggagas perjalanan bisnis pada musim dingin dan panas (rihlah al-Syitaa wa al-Shaif). Hasyim: Amr bin

04) Abdu Manaf juga dipanggil al-Mughirah. Beliau dikenal sangat rupawan. Abdu Manaf: al-Mughirah bin

05) Qushay memiliki nama asli Zaid. Dipanggil Qushay (jauh) karena saat ia kecil diajak ibunya pergi jauh meninggalkan kota Mekah. Qushay: Zaid bin

06) Kilab mempunyai nama asli Hakim ada juga riwayat yang mengatakan namanya Urwah. Dipanggil Kilab karena ia gemar berburu. Ia adalah orang pertama yang menghiasi pedang dengan emas dan perak. Kilab: Hakim atau Urwah bin

07) Murrah nama aslinya Handzhalah alias Alqamah. Murrah: Handzhalah alias Alqamah bin

08) Ka’b orang pertama yang memberi nama hari Jumat. Sebab pada hari itu ia mengumpulkan semua orang untuk menyampaikan pesan akan kedatangan seorang Nabi dari keturunannya agar diikuti dan diimani. Ka’b bin

09) Luay berarti lembu muda jantan dan ketenangan penuh kesabaran. Luay bin

10) Ghalib bin

11) Fihr nama aslinya Quraisy yang kemudian menjadi penisbatan suku Quraisy yang tak lain adalah anak turunannya. Fihr: Quraisy bin

12) Malik: Abu al-Harits bin

13) al-Nadlhr bernamakan asli Qais. Beliau dipanggil al-Nadhr (berseri-seri) karena mempunyai wajah tampan nan bercahaya. Al-Nadlhr: Qais bin

14) Kinanah berarti tempat anak panah. Dinamai demikian karena mempunyai sifat pemberani yang mampu melindungi kaumnya. Kinanah bin

15) Khuzaimah bin

16) Mudrikah mempunyai nama asli Amir atau Amr. Mudrikah: Amir alias Amr bin

17) Ilyas berarti pemberani. Ilyas bin

18) Mudlhar, nama aslinya Amr. Dipanggil Mudlhar (susu) karena ia putih dan tampan. Beliau juga memiliki suara paling merdu di zamannya. Beliau orang pertama yang mendendangkan lagu-lagu bagi onta. Mudlhar bin

19) Nizar (sedikit/jarang), ada dua alasan penamaannya: ia orang yang langka dan ia orang yang sangat kurus. Nizar bin

20) Ma’add bin

21) Adnan, menurut riwayat yang sahih silsilah nasab Nabi saw hanya sampai nama Adnan ini. Riwayat ini juga disepakati oleh ahli ilmu nasab.

Urutan nasab setelah Adnan ditemukan perbedaan pendapat di kalangan pakar sejarah. (Bersambung silsilah nasab Nabi Muhammad saw selanjutnya hingga Nabi Adam as).

22) Udd, menurut riwayat lain dipanggil dengan Udad. Nama ini terambil dari Wudd yang berarti cinta. Udd bin

23) Muqawwim bin

24) Naahuur, berasal dari kata Nahr (berkurban). Naahuur bin

25) Tayrah bin

26) Ya’rub bin

27) Yasyjub bin

28) Nabit bin

29) Ismail as, salah satu Nabi Allah. Nama Ismail berarti orang yang taat pada Allah swt. Ibrahim bin

30) Ibrahim as, salah satu Nabi Allah. Al-Fairuzabadi dalam kitab Bashair Dzawi al-Tamyiz menyebutkan nama Ibrahim merupakan penggabungan dari dua kata: Ab (ayah) Rahim (penyayang). Nama-nama setelah Ibrahim kebanyakan terambil dari bahasa Suryani. Ibrahim bin

31) Tarih, menurut sebagian riwayat dikenal juga dengan nama Aazar. Tarih bin

32) Naahuur bin

33) Saaruugh bin

34) Raa’uu, ada juga riwayat yang mengatakan namanya Raaghuu. Raa’uu bin

35) Faalikh, nama ini berarti tampan, indah. Faalikh bin

36) Aybar bin

37) Syalikh, nama ini berarti utusan atau wakil. Syalikh bin

38) Arfakhsyadz, nama ini berarti lentera yang berkilau. Arfakhsyadz bin

39) Sam bin

40) Nuh, salah satu nabi Allah. Nuh bin

41) Lamak bin

42) Mattu Syalakh bin

43) Idris, salah satu nabi Allah. Nama aslinya Akhnukh. Beliau merupakan orang pertama yang menulis sebagaimana riwayat dalam musnad Ahmad. Idris bin

44) Yard bin

45) Mahlil bin

46) Qaynan, nama ini berarti orang lurus. Qaynan bin

47) Yanisy, nama ini berarti orang jujur. Yanisy bin

48) Syits, nama ini berarti pemberian Allah. Syits bin

49) Adam, ada tiga pendapat mengenai arti nama Adam. Pertama, warna putih atau warna antara putih dengan hitam. Kedua, nama dalam bahasa Suryani. Ketiga, permukaan tanah sebab ia diciptakan dari tanah.

Lihat pula: UAH – 43 Generasi dari Nabi Adam ke Nabi Muhammad SAW

Sebagaimana disinggung sebelumnya, nasab Nabi Muhammad saw setelah Adnan hingga Adam kurang dapat dipertanggungjawabkan.

Oleh karena itu ditemukan silang pendapat dikalangan ulama mengenai penyebutan nasab mulia ini hingga Adam.

Diantara jajaran ulama yang memperbolehkannya adalah Ibnu Ishaq, al-Thabari, dan al-Bukhari.

Sedangkan di pihak yang menentangnya ada nama Malik bin Anas. Terlepas dari perbedaan ini yang terpenting bagi kita adalah tetap meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW berasal dari trah orang-orang yang terpilih. Sebagaimana riwayat dalam sahih Muslim:

Sungguh Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, lalu memilih Quraisy dari keturunan Kinanah, kemudian memilih Bani Hasyim dari suku Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim.

Riwayat di atas dalam lingkup yang lebih luas dikuatkan oleh al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak:

Allah menciptakan berlapis-lapis langit lalu memilih yang paling tinggi untuk ditempati makhluk-Nya sesuai kehendak-Nya. Kemudian memilih manusia dari seluruh makhluk yang Dia ciptakan. Arab dipilih dari semua manusia.

Bani Mudlhar dipilih dari kalangan Arab. Lalu Quraisy terpilih diantara Bani Mudlhar. Dipilihlah Bani Hasyim dari suku Quraisy. Aku terpilih dari pilihan-pilihan diantara Bani Hasyim.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT