Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Fajar Baru Peradaban: Muharram Menjadi Titik Balik Sejarah Islam
PALONTARAQ.ID – Ada tanggal-tanggal dalam sejarah yang tampak sederhana jika hanya dilihat sebagai angka dalam kalender. Namun, di balik sebuah tanggal dapat tersimpan perubahan besar yang jejaknya bertahan selama berabad-abad. Salah satunya adalah 23 September 622 M, tanggal yang dalam salah satu kronologi sirah dikenal sebagai hari ketika Nabi Muhammad ﷺ bersama Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. tiba di Quba, sebuah kawasan di pinggiran Yatsrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah.
Peristiwa tersebut merupakan bagian penting dari perjalanan Hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah menuju Yatsrib. Menurut kronologi yang banyak digunakan, 23 September 622 M bertepatan dengan 8 Rabiul Awal 1 H. Sejarawan UIN Alauddin Makassar Prof. Ahmad M. Sewang, misalnya, mencatat rangkaian perjalanan tersebut: Nabi meninggalkan Makkah pada awal Rabiul Awal, tiba di Quba pada 8 Rabiul Awal, kemudian memasuki Madinah beberapa hari setelahnya.
Akan tetapi, penanggalan Hijrah pada abad ke-7 memiliki persoalan konversi antara kalender lunar Hijriah dan kalender Julian/Gregorian modern. Sejumlah kajian akademik bahkan menawarkan tanggal konversi yang berbeda. Karena itu, yang paling aman secara historiografis adalah menyebut 23 September 622 M sebagai salah satu rekonstruksi kronologis yang banyak digunakan, bukan satu-satunya kemungkinan konversi kalender.
Yang jauh lebih penting daripada perdebatan tanggal adalah makna sejarah di balik kedatangan Nabi ﷺ di Quba. Di tempat inilah perjalanan Hijrah mulai berubah dari sebuah perjalanan penuh resiko menjadi awal pembentukan masyarakat Islam. Menurut kronologi yang banyak digunakan dalam literatur sirah, kedatangan itu terjadi pada Senin, 8 Rabiul Awal 1 H, yang dikonversikan menjadi 23 September 622 M.
Nab Muhammad ﷺ kemudian tinggal beberapa hari di kawasan tersebut sebelum melanjutkan perjalanan ke Yatsrib. Kronologi serupa juga ditemukan dalam sejumlah kajian dan tulisan sejarah Islam di Indonesia. Quba bukan sekadar tempat persinggahan. Di sinilah sebuah simbol penting peradaban Islam mulai dibangun.
***
Salah satu tindakan penting Nabi ﷺ setelah tiba di Quba adalah pembangunan Masjid Quba. Masjid ini kemudian dikenal sebagai salah satu masjid paling awal dalam sejarah Islam. Dalam tradisi sejarah Islam, pembangunan Masjid Quba menjadi penanda penting bahwa komunitas Muslim yang sedang berhijrah tidak hanya membutuhkan tempat berlindung, tetapi juga membutuhkan pusat spiritual dan sosial.
Al-Qur’an menyebut, “Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama lebih pantas engkau melaksanakan salat di dalamnya…” QS. At-Taubah [9]: 108. Ayat tersebut dalam banyak tafsir dikaitkan dengan Masjid Quba. Tafsir Ibnu Katsir, misalnya, mencatat pendapat sejumlah ulama salaf yang memahami “masjid yang didirikan atas dasar takwa” dalam ayat tersebut sebagai Masjid Quba.
Namun, terdapat pula hadits yang mengaitkan ungkapan tersebut dengan Masjid Nabawi. Karena itu, dalam kajian tafsir terdapat pembahasan mengenai dua kemungkinan tersebut. Hal ini menunjukkan satu prinsip penting: masjid dalam peradaban Islam bukan sekadar bangunan fisik. Ia merupakan ruang pembentukan manusia.
Dari masjid, nilai-nilai keimanan ditanamkan. Dari masjid pula masyarakat dibangun, hubungan sosial diperkuat, ilmu disebarkan dan solidaritas dikembangkan. Karena itu, kedatangan Nabi ﷺ di Quba dapat dibaca sebagai awal dari sebuah pola pembangunan peradaban: membangun manusia sebelum membangun kekuasaan.
Hijrah sering dipahami hanya sebagai perpindahan geografis dari Makkah menuju Madinah. Padahal, secara peradaban, Hijrah jauh lebih luas. Makkah adalah tempat Nabi ﷺ membangun fondasi keimanan, tauhid dan akhlak. Madinah kemudian menjadi ruang bagi pengembangan masyarakat Islam yang lebih kompleks.
Quba berada pada titik transisi di antara keduanya. Di Quba, perjalanan fisik mulai menemukan bentuk sosialnya. Para penduduk menyambut Nabi Muhammad ﷺ dan kaum Muhajirin. Masjid didirikan. Kehidupan komunitas mulai ditata. Dengan demikian, Quba dapat dilihat sebagai ruang transisi peradaban: dari dakwah yang mengalami tekanan di Makkah menuju masyarakat yang kelak berkembang di Madinah.
Itulah sebabnya peristiwa 23 September 622 M memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar catatan perjalanan. Nabi Muhammad ﷺ dan kaum Muhajirin tidak menjadikan kedatangan sebagai kesempatan untuk sekadar menikmati keselamatan setelah perjalanan panjang. Sebaliknya, beliau segera terlibat dalam pembangunan komunitas.
Di Quba, masjid dibangun. Kemudian, setelah memasuki Madinah, Masjid Nabawi menjadi salah satu pusat kehidupan masyarakat Muslim. Dari sana berkembang berbagai aktivitas keagamaan, pendidikan, sosial dan pemerintahan.
Dalam riwayat yang sahih, Nabi ﷺ juga diketahui terus mengunjungi Masjid Quba setelah menetap di Madinah. Ibn Umar r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ biasa mendatangi Masjid Quba, terkadang berjalan kaki dan terkadang berkendaraan. Riwayat tersebut tercantum dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.
Artinya, Quba bukan tempat yang dilupakan setelah Nabi ﷺ meninggalkannya. Ada hubungan spiritual dan historis yang tetap dipelihara. Setelah tinggal beberapa hari di Quba, Nabi ﷺ melanjutkan perjalanan menuju Yatsrib. Menurut kronologi yang banyak digunakan, beliau meninggalkan Quba pada hari Jumat dan kemudian memasuki wilayah Madinah. Dalam perjalanan tersebut, beliau melaksanakan salat Jumat bersama kaum Muslimin di kawasan Bani Salim bin Auf sebelum melanjutkan perjalanan.
Setelah tiba di Madinah, beliau kemudian tinggal di lingkungan Bani Amr bin Auf sebelum akhirnya menetap bersama Abu Ayyub al-Anshari. Riwayat Sahih al-Bukhari mencatat kedatangan Nabi ﷺ di Madinah dan masa tinggal beliau di lingkungan Bani Amr bin Auf. Di sanalah hubungan antara Muhajirin dan Ansar diperkuat. Di sana pula lahir berbagai institusi sosial dan politik masyarakat Muslim.
Masjid Nabawi menjadi pusat kehidupan umat. Dengan demikian, perjalanan yang dimulai dari Makkah dan singgah di Quba akhirnya melahirkan sebuah fase baru dalam sejarah Islam. Dalam konteks sejarah Islam, Hijrah memperlihatkan setidaknya empat prinsip. Pertama, visi. Nabi ﷺ memiliki visi yang melampaui keselamatan pribadi. Tujuan akhirnya adalah membangun ruang kehidupan tempat nilai-nilai Islam dapat berkembang.
Kedua, strategi. Perjalanan Hijrah menunjukkan bahwa perjuangan membutuhkan perencanaan. Tawakal berjalan bersama ikhtiar. Ketiga, komunitas. Islam tidak dikembangkan sebagai agama individual semata. Setelah Hijrah, pembentukan masyarakat menjadi bagian penting dari perjalanan dakwah.
Keempat, institusi. Masjid menjadi salah satu institusi awal yang menopang kehidupan masyarakat Muslim. Quba memberikan contoh bagaimana pembangunan spiritual berjalan beriringan dengan pembangunan sosial.
Bagi dunia pendidikan, kisah Quba juga memiliki pesan yang menarik. Sebuah masyarakat tidak dibangun hanya dengan gedung yang megah. Ia dibangun melalui manusia yang memiliki nilai, ilmu, kedisiplinan dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks pendidikan Islam kontemporer, semangat tersebut dapat diterjemahkan dalam bentuk sekolah, madrasah dan pesantren yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter, literasi, kepedulian sosial dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.
Jadi, Tanggal 23 September 622 M pada akhirnya bukan sekadar angka dalam kalender. Ia mengingatkan kita pada sebuah perjalanan panjang: dari Makkah menuju Quba, dari Quba menuju Madinah, dari komunitas kecil menuju masyarakat yang kemudian menjadi salah satu peradaban besar dunia.
Tetapi kita juga perlu berhati-hati dalam memperlakukan tanggal sejarah. Kalender Hijriah bersifat lunar, sedangkan kalender Julian/Gregorian menggunakan sistem yang berbeda. Karena itu, konversi tanggal peristiwa abad ke-7 dapat menghasilkan perbedaan. Kajian akademik mengenai asal-usul dan kronologi kalender Hijriah menunjukkan bahwa rekonstruksi tanggal-tanggal Hijrah memang masih menjadi bidang kajian tersendiri.
Karena itu, nilai utama 23 September 622 M bukan terletak semata-mata pada ketepatan angka kalendernya. Nilai terbesarnya terletak pada apa yang terjadi di Quba. Seorang Nabi yang sedang melakukan perjalanan panjang memilih berhenti, membangun tempat ibadah dan menata komunitas sebelum melanjutkan perjalanan.
Dari tempat sederhana itu, sejarah bergerak menuju Madinah—dan dari Madinah, Islam berkembang menjadi peradaban yang pengaruhnya melampaui Jazirah Arab. Quba mengajarkan bahwa sebuah perjalanan besar sering kali dimulai dengan satu langkah kecil, sebuah komunitas yang bersatu, dan sebuah fondasi yang diletakkan di atas ketakwaan.
Maka, ketika kita mengingat 23 September 622, kita tidak hanya mengingat kapan Nabi Muhammad ﷺ tiba di Quba. Kita sedang mengingat sebuah momentum ketika Hijrah mulai berubah menjadi pembangunan peradaban.
Demikian catatan singkat ini. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.
Referensi/Bahan Bacaan:
Al-Qur’an, QS. At-Taubah [9]: 108–109, mengenai masjid yang didirikan atas dasar takwa.
Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, hadis no. 1191–1194, mengenai kunjungan Nabi ﷺ ke Masjid Quba.
Muslim, Sahih Muslim, hadis no. 1399g–1399h, mengenai Nabi ﷺ mengunjungi Quba dengan berjalan kaki maupun berkendaraan.
Ibn Hisham, al-Sirah al-Nabawiyyah, bagian mengenai Hijrah Nabi ﷺ dari Makkah menuju Madinah. Kronologi ini menjadi salah satu rujukan penting dalam penulisan sirah.
Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. At-Taubah [9]:108, mengenai perbedaan riwayat tentang masjid yang dimaksud sebagai “didirikan atas dasar takwa”.
Ahmad M. Sewang, “Footnote Historis: Menapaktilasi Hijrah Nabi ke Madinah”, UIN Alauddin Makassar, 26 Agustus 2024.
Dr. Zulkifli al-Bakri, “Berapa Harikah Hijrah Nabi SAW?”, yang membahas kronologi perjalanan Nabi ﷺ dari Makkah, Quba hingga Madinah serta mencantumkan sejumlah rujukan sirah klasik. Kajian akademik tentang kronologi dan asal-usul kalender Hijriah, termasuk persoalan konversi tanggal Hijrah ke kalender Julian/Gregorian.


