Sejarah Kebudayaan Islam Islam masuk Indonesia saat Rasulullah SAW masih hidup

Islam masuk Indonesia saat Rasulullah SAW masih hidup

-

- Advertisment -

Map of Nusantara (Indonesia).
Map of Nusantara (Indonesia)

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Tulisan sebelumnya:  Materi Pembelajaran SKI Kelas 12 Kurikulum 2013

PALONTARAQ.ID – Masyarakat Muslim di Indonesia merupakan mayoritas di negerinya dan juga di dunia, namun sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara masih menjadi bahan perdebatan.

Secara garis besar, Masuknya Islam ke Nusantara atau kepulauan Indonesia dibagi menjadi dua teori, yaitu tentang masuknya Islam ke Nusantara pada Abad VII Masehi ataukah Abad XIII Masehi?

Teori pertama, Islam masuk ke Indonesia pada Abad 7 M

Teori ini menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia terjadi pada Abad VII Masehi, yang berarti hampir bersamaan dengan meluasnya kekuasaan Daulah Islamiyyah di bawah kekuasaan Bani Umayyah (661-750 M) ke luar wilayah Jazirah Arab.

Pendukung teori pertama, sebut saja “Teori Timur Tengah”, antara lain W.P. Groeneveldt, T.W. Arnold (The Preaching of Islam), Syed Naquib Al-Attas, Anthony H. Johns, J.C. van Leur, Buya Hamka, dan Uka Tjandrasasmita.

Beberapa fakta sejarah yang mendukung teori pertama ini adalah adanya seorang pembesar Arab yang menjadi Amir (Pemimpin) Bangsa Arab di Pantai Barat Sumatera pada Tahun 674 M.

Buya Hamka dalam bukunya, “Sejarah Umat Islam” menyebutkan bukti sumber yang sama dari Cina, faktanya sekelompok bangsa Arab telah bermukim di kawasan Pantai Barat Sumatera (tepatnya di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara) pada 625 M. Di Barus juga ditemukan nisan kuno bertuliskan nama Syekh Rukunuddin yang wafat Tahun 672 M.

Jika Islam masuk di kepulauan Nusantara (Indonesia) pada Tahun 625 M, hal ini berarti bahwa Islam masuk di Indonesia pada saat Rasulullah SAW masih hidup. Nabi Muhammad SAW wafat pada Tahun 632 M.

Ilustrasi - Masuknya Islam di Indonesia (sejarahri)
Ilustrasi – Masuknya Islam di Indonesia (sejarah_ri)

Lihat pula: Islam merekatkan Papua dengan Indonesia

Teori kedua, Islam masuk ke Indonesia pada Abad XIII M

Teori ini menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia baru terjadi pada Abad XIII Masehi. Teori kedua ini terdapat dua versi, yaitu Islam dibawa oleh para pedagang dari Gujarat, India selatan dan Islam dibawa dari Persia, dengan alasan bahwa tradisi dan kebudayaan Islam di Indonesia, hampir sama dengan Persia.

Versi pertama, yaitu: Islam masuk ke Nusantara karena terjadi relasi niaga antara masyarakat lokal dengan para pedagang dari Gujarat India Selatan pada Tahun 1476 M. Teori ini dicetuskan oleh G.W.J Drewes yang kemudian dikembangkan oleh Snouck Hurgronje.

Beberapa fakta sejarah yang mendukung versi ini adalah ditemukan batu nisan Sultan Malik As-Saleh yang bercorak khas Gujarat. Versi ini sebenarnya dianggap lemah mengingat Gujarat sendiri pada Abad XII dan XIII Masehi masih termasuk wilayah Hindu. Belum lagi, madzhab Islam Gujarat adalah Hanafi, bukan Madzhab Syafii yang dipakai muslim Indonesia.

Versi kedua, yaitu: Islam masuk ke nusantara pada Abad XIII dibawa oleh para pedagang dari Persia. Umar Amir Husen dan Hoesein Djajadiningrat mengembangkan versi ini dengan alasan bahwa tradisi dan kebudayaan Islam di Indonesia, hampir sama dengan Persia.

Contohnya seperti corak kaligrafi yang ada di batu-batu nisan Islam dan tradisi peringatan 10 Muharram. Hal ini yang menguatkan sejarah Islam Indonesia berasal dari Persia.

Di Pusat kekuasaan Islam sendiri, jika menyebut Abad XIII, berarti masuknya Islam di Indonesia sezaman dan mendapatkan pengaruh dari Dinasti Daulah Bani Abasiyyah (750-1258 M).

Demikianlah dua teori tentang Masuknya Islam di kepulauan Nusantara. Suatu kesyukuran bahwa ada bukti atau artefak sejarah yang mendukung bahwa Islam masuk ke Indonesia pada Abad VII Masehi yang berarti pula bahwa Islam masuk ke Indonesia pada saat Rasulullah SAW masih hidup.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Pengasuh/Pembina pada Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Khutbah Idul Fitri 1441 H: Pemimpin yang Menyengsarakan Rakyat

Oleh: Ustadz Miftahul Ihsan, Lc إِنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ...

Berpisah dengan Ramadan

  Oleh: Habib Quraisy Baharun Related Post: Doa Rasulullah SAW ketika Berpisah dengan Ramadan PALONTARAQ.ID - Akhirnya sampailah kita dipenghujung Ramadhan 1441...

Fatwa MUI tentang Panduan Kaifiat Shalat Idul Fitri saat Pandemi Covid-19

  Laporan: Etta Adil  Related Post: Khutbah Idul Fitri 1440 H: Madrasah Ramadan, Membentuk Pribadi yang Tunduk Syariat Allah PALONTARAQ.ID - Ditengah...

Do’a Puasa Ramadan Hari Ke-30

  Oleh: Muhammad Farid Wajdi Tulisan sebelumnya: Do'a Puasa Ramadan Hari Ke-29 PALONTARAQ.ID - Entah harus bersyukur, antara bahagia dan sedih. Kita...

Malam Terakhir Ramadan

  Oleh: Prof dr. Veni Hadju, Ph.D PALONTARAQ.ID - Inilah malam terakhirku bersama Ramadhan di tahun ini. Kubaca doa terkahir di malam...

Pemerintah tidak Boleh Menyerah!

  Oleh: Andi Lutfi A. Mutty PALONTARAQ.ID - Saya terperangah membaca berita yg beredar di media. Ketua Gugus Tugas Covid 19...

Must read

Ajakan Kembali Meramaikan Masjid itu Keren, Tapi ….. ?

  Oleh: Ust. Nanung Danardono, Ph.D *) Related Post: Akhirnya Kita...

Khutbah Idul Fitri 1441 H: Pemimpin yang Menyengsarakan Rakyat

Oleh: Ustadz Miftahul Ihsan, Lc إِنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ...
- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you