BerandaBisnis“Rewako Pesantren” dorong Kemandirian Ekonomi dan Penguatan Agribisnis Pesantren

“Rewako Pesantren” dorong Kemandirian Ekonomi dan Penguatan Agribisnis Pesantren

Oleh: Etta Adil 

PALONTARAQ.ID, MAKASSAR — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan kembali mendorong penguatan kemandirian ekonomi pesantren melalui Pelatihan dan Coaching Pengembangan Unit Usaha dan Agribisnis Pesantren REWAKO (Resilient, Worldclass, Agile, and Knowledgeable) Tahun 2026.

Kegiatan yang diperuntukkan bagi para pimpinan dan pengasuh pondok pesantren tersebut berlangsung selama tiga hari, 5–7 Oktober 2026, bertempat di Hotel Mercure Makassar Nexa Pettarani. Pelatihan dirancang secara intensif dengan memadukan penguatan wawasan kewirausahaan, pengembangan model bisnis, pengelolaan unit usaha, hingga praktik teknis agribisnis pesantren.

Program Pesantren REWAKO merupakan bagian dari upaya mendorong pesantren agar tidak hanya memiliki fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat, tetapi juga mampu mengembangkan potensi ekonomi secara produktif, profesional, dan berkelanjutan.

Kegiatan ini menjadi tindak lanjut dari rangkaian awal Program Pesantren REWAKO yang telah dilaksanakan sebelumnya. Fokus utama tahap ini adalah penguatan kapasitas pesantren dalam mengidentifikasi, mengembangkan, mengelola, dan memperkuat unit-unit usaha pesantren, sehingga dapat tumbuh menjadi sumber kemandirian ekonomi sekaligus mendukung keberlanjutan kelembagaan pesantren.

Materi Padat, dari Pesantrenpreneur hingga Agripreneur Plan

Dengan jadwal pelatihan yang cukup padat, peserta mendapatkan materi yang dirancang untuk memberikan pemahaman konseptual sekaligus keterampilan praktis.

Materi diawali dengan Pesantrenpreneur, yang membahas perspektif kewirausahaan dalam lingkungan pesantren serta bagaimana potensi sumber daya yang dimiliki pesantren dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif.

Selanjutnya peserta mendapatkan materi Business Model Canvas (BMC) sebagai instrumen untuk memetakan model bisnis secara sistematis. Melalui materi ini, peserta diarahkan untuk melihat kembali potensi usaha pesantren dari aspek nilai yang ditawarkan, segmen pelanggan, saluran pemasaran, sumber pendapatan, sumber daya utama, hingga struktur biaya.

Materi berikutnya adalah Segmenting, Targeting, and Positioning (STP) Business, yang memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya mengenali pasar, menentukan sasaran konsumen, serta membangun posisi produk atau jasa pesantren agar memiliki daya saing.

Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan materi Sistemasi Bisnis, yang menekankan pentingnya membangun tata kelola usaha yang tidak bergantung semata-mata pada figur tertentu. Sistem yang baik diharapkan mampu membuat unit usaha pesantren berjalan lebih terstruktur, terukur, dan berkelanjutan.

Penguatan Agribisnis Pesantren

Salah satu fokus penting dalam pelatihan REWAKO 2026 adalah pengembangan Agribisnis Pesantren. Peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai peluang bisnis sektor pertanian, tetapi juga diperkenalkan pada aspek teknis budidaya yang menjadi fondasi bagi pengembangan usaha agribisnis.

Materi yang diberikan antara lain Dasar-Dasar Teknis Budidaya Hortikultura, dilanjutkan dengan Ekologi Tanah dan Praktik Mengukur Unsur Hara Tanah yang dilakukan secara langsung di kelas.

Pendekatan praktik menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga diajak memahami bagaimana kondisi tanah dapat dianalisis sebagai dasar dalam menentukan perlakuan budidaya yang tepat.

Materi berikutnya adalah Dasar-Dasar Pembuatan Pupuk Organik, yang juga disertai dengan praktik di kelas. Pengetahuan ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi pesantren untuk mengembangkan sistem pertanian yang lebih efisien dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal.

Peserta juga mendapatkan materi Agripreneur Plan, Penanganan Hama dan Penyakit Tanaman, serta berbagai aspek yang berkaitan dengan pengelolaan usaha pertanian dari sisi produksi maupun bisnis.

Dengan demikian, agribisnis tidak diposisikan sekadar sebagai kegiatan bercocok tanam, tetapi sebagai sebuah rantai bisnis yang terintegrasi, mulai dari perencanaan, produksi, pengelolaan sumber daya, pengendalian risiko, hingga pemasaran hasil.

Pemaparan Business Plan Masing-Masing Pesantren

Salah satu bagian penting dalam rangkaian pelatihan adalah pemaparan Business Plan masing-masing pondok pesantren.

Melalui sesi ini, peserta didorong untuk menerjemahkan berbagai materi yang telah diperoleh ke dalam rencana bisnis yang lebih konkret sesuai dengan potensi dan karakteristik pesantren masing-masing.

Setiap pesantren memiliki sumber daya, lingkungan, jaringan, lahan, sumber daya manusia, dan potensi pasar yang berbeda. Karena itu, pengembangan unit usaha tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam.

Business plan menjadi instrumen untuk membantu pesantren menentukan usaha apa yang akan dikembangkan, siapa pasar yang dituju, bagaimana proses produksinya, bagaimana strategi pemasarannya, berapa kebutuhan modalnya, serta bagaimana usaha tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi bagi pesantren.

Sesi tersebut sekaligus menjadi ruang evaluasi dan coaching agar gagasan usaha yang disusun peserta dapat lebih realistis dan memiliki arah pengembangan yang jelas.

Didampingi Coach Berpengalaman di Bidang Agropreneur

Pelatihan dan coaching ini menghadirkan Coach Marioto R Asto dan Coach Marjuki sebagai pemateri.

Keduanya merupakan pebisnis di bidang pertanian sekaligus coach dalam bidang agropreneur, serta merupakan alumni Coaching Bisnis Bank Indonesia. Pengalaman praktis keduanya diharapkan dapat memberikan perspektif yang lebih dekat dengan dinamika dunia usaha, khususnya dalam mengembangkan bisnis berbasis pertanian.

Kehadiran coach dengan pengalaman praktis menjadi bagian penting dalam kegiatan ini karena pesantren tidak hanya membutuhkan pemahaman teoritis tentang kewirausahaan, tetapi juga membutuhkan pendampingan dalam menghadapi persoalan nyata di lapangan, mulai dari produksi, pemasaran, manajemen, sumber daya manusia, hingga keberlanjutan usaha.

Selain berbagai materi teknis dan bisnis, peserta juga mendapatkan sesi Dinamika Bisnis Pesantren. Sesi ini menjadi ruang refleksi sekaligus diskusi mengenai berbagai tantangan yang dihadapi pesantren ketika mulai masuk dan berkembang dalam dunia usaha.

Menuju Pesantren yang Mandiri dan Berdaya

Program REWAKO memiliki relevansi yang kuat dengan upaya penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah di Sulawesi Selatan. Pesantren memiliki basis sosial yang kuat, sumber daya manusia yang besar, jaringan alumni dan masyarakat yang luas, serta potensi aset yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi.

Namun, potensi tersebut membutuhkan pengelolaan yang profesional agar dapat menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Karena itu, pengembangan kewirausahaan pesantren perlu ditempatkan bukan sekadar sebagai kegiatan tambahan, melainkan sebagai bagian dari strategi membangun kemandirian kelembagaan pesantren.

Kemandirian ekonomi diharapkan dapat memperkuat kemampuan pesantren dalam membiayai berbagai program pendidikan, meningkatkan kesejahteraan sumber daya manusia, membuka lapangan kerja, mengembangkan keterampilan santri, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekitar.

Dalam konteks tersebut, konsep REWAKO — Resilient, Worldclass, Agile, and Knowledgeable — menjadi relevan. Pesantren didorong untuk memiliki daya tahan dalam menghadapi perubahan, memiliki orientasi dan standar pengelolaan yang semakin baik, adaptif terhadap dinamika ekonomi, serta berbasis pengetahuan dalam mengambil keputusan bisnis.

Pelatihan selama tiga hari di Makassar ini pada akhirnya bukan hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi bagian dari proses membangun mindset kewirausahaan dan kemampuan manajerial para pimpinan/pengasuh pesantren.

Dari ruang pelatihan tersebut diharapkan lahir rencana-rencana usaha yang dapat ditindaklanjuti di masing-masing pesantren. Dengan penguatan kapasitas, pendampingan, serta pengembangan unit usaha yang dilakukan secara konsisten, pesantren di Sulawesi Selatan diharapkan semakin mampu berdiri di atas kekuatan ekonominya sendiri.

REWAKO Pesantren 2026 dengan demikian menjadi salah satu ikhtiar untuk menjadikan pesantren bukan hanya sebagai pusat pendidikan dan pembinaan umat, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan ekonomi yang produktif, mandiri, adaptif, dan berkelanjutan. (*)

 

(* Etta Adil, Blogger/Jurnalis Independen

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT