Build Your Community

by Penulis Palontaraq | Rabu, Mei 15, 2019 | 58 views
Pengukuhan Pengurus Komunitas Peduli Anak Jalanan (KPAJ) Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Pengukuhan Pengurus Komunitas Peduli Anak Jalanan (KPAJ) Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Etta Adil

SERU  banget ya, kalau kita bergabung dalam komunitas yang punya banyak kegiatan seru dan produktif.  “Build your community”, di komunitas kita bisa memiliki banyak teman, sharing tentang berbagai hal, berbagi info dan pengalaman, menambah ilmu dan pergaulan, dan siapa tahu, di komunitas itu ketemu jodoh.

Sebenarnya apa sih komunitas itu? Apakah semacam perkumpulan yang berbeda dengan organisasi kebanyakan? Nah, ayo ngacung, siapa yang bisa jawab? Apakah suatu komunitas, harus juga memiliki AD/ART? Bagaimana strukturnya dan harus bergerak dalam bidang apa?

Komunitas sebenarnya hampir sama dengan organisasi yaitu sekumpulan orang yang memiliki satu tujuan tertentu. Tapi komunitas jauh lebih simpel atau sederhana dan keanggotaanya bersifat sangat terbuka.

Lihat juga: Komunitas Bissu dalam Potret Wartawan

Biasanya komunitas hadir dari kebiasaan yang sama dari beberapa orang yang sering ngumpul, diskusi dan menemukan satu ide yang sama untuk membuat kesatuan. Bedanya dengan organisasi, umumnya komunitas lebih santai karena model kepemimpinannya yang pastisipatif.

Kelas Inspirasi

Komunitas Kelas Inspirasi Pangkep (KIP)

Komunitas Ontel Pangkep

Komunitas Ontel Pangkep (VOC)

Untuk membentuk suatu komunitas, sederhana saja dan tidak sesulit organisasi yang harus punya kantor, sekretariat, kop surat dan segala macam kelengkapannya. Meski begitu, ada banyak komunitas yang tak sekadar eksis tapi menjadi besar sampai tingkat nasional seperti komunitas kelas inspirasi, penulis, traveler, blogger, bike to work, sepeda onthel, peduli dhuafa, relawan pendidikan, dan lain sebagainya.

Lihat juga:  Aliansi Relawan Pendidikan Sulsel Bantu Lombok-NTB

Build Your Community

Pertama, tentu harus satu pemahaman tentang apa yang mau dilakukan. Ide kegiatan boleh berbeda-beda tetapi tetap satu tujuan, misalnya Komunitas Peduli Pendidikan Marginal, Komunitas Peduli Anak Jalanan (KPAJ), atau apapun namanya, maka mulailah dengan konsep komunitasnya seperti apa dan selanjutnya lakukan pemetaan persoalan komunitas tersebut.

Setelah jelas apa komunitas yang akan dibangun, tentukan tujuan akhir dari komunitas. Hanya sekadar ngumpul-ngumpul saja atau ada ikatan khusus yang nantinya menjadi modal sosial untuk anggota komunitas. Lalu, tentukan model kepemimpinan komunitas dan aturan main pergantiannya dengan prinsip partisipatif.

Lihat juga:ARPSS Goes to Lombok

Hal yang paling penting dari eksistensi komunitas adalah actionnya atau kegiatannya. Jalankan beberapa event yang tidak perlu mengeluarkan budget yang besar yang bisa menunjukkan eksistensi dan kontribusi dari komunitas itu terhadap masyarakat di sekitarnya.

Komunitas Relawan Pendidikan Indonesia (RPI) usai gelar Talk Show tentang Peran Relawan dalam Membangun Pendidikan Anak Bangsa. (foto: ist/palontaraq)

Komunitas Relawan Pendidikan Indonesia (RPI) usai gelar Talk Show tentang Peran Relawan dalam Membangun Pendidikan Anak Bangsa. (foto: ist/palontaraq)

KPAJ

Kegiatan Mengajar di Komunitas Peduli Anak Jalanan (KPAJ) Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Komunitas Palontaraq

Komunitas Palontaraq dan Santri Putri IMMIM dalam kegiatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2019. (foto: ist/palontaraq)

Setelah itu, promosikan atau tebar informasi komunitas dan kegiatannya melalui media sosial. Bisa juga buat rilis berita ke media mainstream yang ada di daerah. Semakin banyak komunitas dengan beragam kegiatan produktif akan lebih bagus.

Karena itu tidak perlu mencemburui komunitas lain atau kegiatan yang sama yang dilakukan oleh komunitas yang platformnya sama dengan komunitas kita. Ambil langkah bersinergi dan berkolaborasi antar komunitas, bukan berkompetisi dan saling menyaingi.

Lihat juga: Relawan ARPS Rawat Korban Gempa Palu di RSWS

Banyak komunitas yang didirikan dengan semangat ’45, namun hanya berujung nama. Persoalan mengemuka pun biasanya hanya karena ketidak-stabilan sikap dan emosi dalam menghadapi anggota komunitas, khususnya pada saat sudah berkegiatan. Terlebih lagi saling mencurigai terkait donasi dan anggaran kegiatan.

Jadi, membangun komunitas itu bukan hanya perlu semangat. “Build your community” dengan tujuan yang jelas, tentukan visi dan misi, tentukan persyaratan anggota dan relawannya, serta aturan yang mengikat ketika menetapkan program kerja dan kegiatan, supaya pondasinya kuat dan ada keterikatan emosional antar anggota komunitas.

Trainer for Trainer (TFT) untuk relawan baru KPAJ. (foto: ist/palontaraq)

Trainer for Trainer (TFT) untuk relawan baru KPAJ. (foto: ist/palontaraq)

Komunitas Peduli Anak Jalanan (KPAJ) bersama anak binaannya. (foto: ist/palontaraq)

Pengurus Komunitas Peduli Anak Jalanan (KPAJ) bersama anak binaannya. (foto: ist/palontaraq)

Komunitas juga harus harus punya target. Karena itu, “Manage your community” supaya hidup, bisa berinteraksi dengan dunia luar, bangun kerjasama di luar komunitas. Apalagi di jaman serba canggih seperti sekarang ini tidak boleh ada egoisme komunitas. Ingat, “kalau bisa berkolaborasi, ngapain mesti berkompetisi.”

Lihat juga: Arti Menjadi Relawan (Bagian Pertama)

Lihat juga: Arti Menjadi Relawan (Bagian Kedua)

Komunitas juga harus punya rancangan kegiatan yang keren, berbeda dari kebanyakan organisasi yang kaku, dan lebih familiar dengan media sosial. Buat akun komunitas di semua media sosial sebagai sarana interaksi dan kolaborasi. Keuntungannya lebih murah dibanding ‘kopi darat’ dan bisa merekrut anggota lebih banyak.

Keberadaan anggota dan relawan dalam komunitas sangat penting. Karena itu, buat keseruan dalam setiap penerimaan anggota dan relawan baru. Soalnya keberadaan mereka penting banget dan berperan membuat komunitas makin besar. Kedua mereka adalah tim promosi juga yang akan mengajak teman-temannya untuk bergabung.

Terus, bagaimana legalitas komunitas?  Berbeda dengan Organisasi formal pada umumnya, komunitas tidak membutuhkan segala macam persyaratan administrasi dan hukum.

Lihat juga: Ketika Masyarakat Adat Menagih Janji Jokowi

Meski demikian, jika komunitas diarahkan untuk turut serta mengurusi urusan publik, sosial pendidikan, dan lain sebagainya dan banyak menarik donasi masyarakat (tidak hanya dari anggotanya) tiap berkegiatan, dan diharapkan akan bertahan jangka panjang dan meluas maka ada baiknya membuatkan struktur, AD/ART, Program Kerja, dan mengurus legal standingnya di Notaris.

Tak perlu juga ribet-ribet amat segala kelengkapan diatas. Contoh persyaratan dan kelengkapan struktur, AD/ART, program kerja dapat dipelajari dan dicontoh di banyak blog internet. “Tinggal browsing aja”.

Ok gaes, demikian yang Etta bisa bagi, “Build your community, and always share and care.” (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response