Komunitas Bissu dalam Potret Wartawan

by Penulis Palontaraq | Selasa, Jun 19, 2018 | 436 views
Buku Potret Komunitas Bissu di Pangkep

Buku Potret Komunitas Bissu di Pangkep

 

Oleh:  Etta Adil

Judul Buku: Potret Komunitas Bissu di Pangkep

Penulis: M Farid W Makkulau

Desain Sampul/Lay Out: Manunggal Utama Press

Cetakan 1: Agustus 2007

Jumlah Halaman :  xiii + 153 halaman; 12 x 20 cm

Penerbit: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Pangkep

 

DAHULU Bissu dipandang sebagai misteri. Kehidupan unik ‘manusia setengah dewa’ yang tak mungkin dijamah dan dipelajari kehidupannya.

Kehadiran buku ini setidaknya telah membuka mata dan telinga kita yang selama ini tertutup oleh misteri kehidupan Bissu yang aneh, unik dan spektakuler tersebut.  Buku ini telah membantu kita mengidentifikasi  apa dan siapakah Bissu itu sesungguhnya, selama ini yang dikenal masyarakat umum hanya seni tari maggirinya.

Bissu memang yang diperkenalkan literatur Bugis sebagai pelestari tradisi, adat budaya, serta membawa kepercayaan lama yang dianut oleh masyarakat Bugis purba, sebagaimana termaktub dalam Kitab La Galigo.

Selain itu, tak terjamah kehidupannya. Kehidupan sosial budayanya jarang ada yang mempublikasikannya, sampai kemudian penulis mengumpulkan hasil wawancara tentang Bissu dan kehidupan kesehariannya, tentang karakter dan penampilannya, serta tentang pekerjaannya diluar tradisi kebissuannya.

Pada masa keemasan kerajaan di Sulawesi Selatan, tidak satupun upacara atau sidang yang lengkap tanpa keterlibatan Bissu,  sebab komunitas yang dianggap ‘waria sakti’ ini (pria yang berpakaian serta bertingkah laku seperti waria) adalah pemelihara benda-benda kebesaran kerajaan dan keagamaan pada masa itu.

Bissu  juga adalah pelaksana upacara ritual yang beberapa diantaranya mengandung kontroversi hingga saat ini karena masyarakat Bugis Makassar umumnya menganut Agama Islam sementara upacara pemujaan yang dilakukan Bissu masih menganut kepercayaan kepada Dewata dan Leluhur, yang tentu saja diluar ajaran Islam.

Uniknya karena masyarakat yang bermukim sekitar Bissu masih mengapresiasi dengan baik komunitas ini. Upacara ritual yang kini lebih mengarah kepada tradisi dan kebudayaan leluhur ini merupakan kelanjutan dari kepercayaan Bugis Kuno yang masih tersisa.

Dengan kekuatan supranatural yang dimilikinya, Komunitas Bissu Dewatae menjadi penasehat kerajaan yang sangat dihormati dan disegani. Bissu digambarkan sebagai manusia setengah dewa dan dianggap sebagai media untuk berkomunikasi dengan dunia spiritual.

Komunitas Bissu  hidup dalam suatu aturan adat dan disiplin hidup tinggi, yang tampaknya sulit untuk dijalankan oleh mereka yang tidak mampu melihat gaya hidup semacam ini sebagai suatu panggilan suci.

Seorang calon Bissu akan membutuhkan pendidikan serta pelatihan yang tidak mudah selama bertahun-tahun untuk dapat menjadi bagian dari komunitas ini. Selain mempelajari etika kebissuan dan bahasa La Galigo, yang mereka gunakan dalam mantera dan saat berkomunitas dengan Dewata.

Saat melakukan upacara ritual, Bissu  berada dalam keadaan kerasukan dan saat itu tubuh mereka menjadi kebal terhadap segala bentuk benda tajam. Kehebatan mereka dapat disaksikan saat mereka melakukan Tarian Sere’ Maggiri, sebuah tarian ritual dimana mereka menusuk diri mereka dengan senjata tajam tanpa terluka.

Wisatawan dapat menyaksikan atraksi mereka pada saat Upacara Adat Mappalili, yaitu upacara turun sawah yang biasanya dilaksanakan pada bulan Nopember setiap tahunnya.  Upacara ini merupakan upacara yang paling spektakuler di Pangkep yang berlangsung selama tujuh hari tujuh malam.

Jika dulunya Komunitas Bissu Dewatae memiliki kedudukan tinggi sebagai penasehat kerajaan dan hidup mereka sepenuhnya dibiayai oleh kerajaan, kini mereka umumnya bekerja mandiri sebagai  tradisional event organizers. Jasa mereka banyak digunakan oleh masyarakat yang ingin mengadakan pesta pernikahan, khitanan, serta upacara tradisional siklus hidup lainnya.

Banyak juga dari anggota komunitas Bissu ini yang memiliki kemampuan meramal dan ramai dikunjungi oleh masyarakat untuk mengetahui hari baik dalam melaksanakan kegiatan upacara tradisional.

Jika dibanyak Negara pertunjukan yang menampilkan kaum waria biasanya lebih menonjolkan sisi seksualitas dan sensualitas mereka, Bissu Dewatae sama sekali tidak dapat disamakan dengan mereka. Upacara adat serta atraksi seni yang ditampilkan Bissu bersifat ritual dan dianggap suci.

Sisi seksualitas dan sensualitas bukanlah hal yang mereka tonjolkan dalam kewariaan mereka, kalaupun mereka benar-benar waria. Hal ini penting penulis kemukakan karena tidak setiap Bissu adalah waria, apalagi pengertian waria sebagaimana persepsi masyarakat modern sekarang ini.

Penting untuk kita ketahui bahwa Komunitas Bissu bukan hanya terdapat di Pangkep tapi juga ada di beberapa daerah Bugis lainnya, seperti Bone, Wajo dan Luwu. Namun demikian, “Bissu Dewatae”—sebutan bagi komunitas Bissu di Pangkep—merupakan Komunitas Bissu yang paling dihormati oleh Komunitas Bissu yang ada di tanah bugis lainnya.

Saat ini, Komunitas Bissu Dewatae dipimpin oleh Puang Matoa Saidi yang berkedudukan di Istana ’ArajangE’ Segeri, Pangkep – Sulawesi Selatan.

Untuk menghargai keberadaan Bissu ini, kita harus memosisikan diri berpikir dalam kerangka apa: Apakah dalam kerangka agama, budaya, pariwisata, atau dalam kerangka kepentingan lainnya.  Hal ini penting untuk sekedar mengingatkan, jangan sampai Bissu dan komunitas kecil ini “tidak terdzalimi” oleh penilaian kita yang kurang arif sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Gerakan DI/TII dalam operasi tobatnya, ataukah seperti halnya pemerintah yang dalam beberapa kegiatan kepariwisataan, hanya menjadikan Bissu sebagai “Sapi Perah”.

Penulisan buku ini meski awalnya merupakan kumpulan reportase dan wawancara penulisnya saat berstatus sebagai pewarta atau wartawan. Buku ini layak diapresiasi sebagai pengisi kekosongan pengetahuan kita tentang Komunitas Bissu dengan tradisi khasnya di Pangkep, jauh sebelum banyaknya bermunculan video tentang Bissu di youtube ataupun reportase TV nasional dan luar negeri.

Sebagai bagian dari pemilik kebudayaan asli, mari menghargai komunitas ini sebagaimana menghargai diri kita sebagai bagian dari masyarakat yang beradab. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response