Arti menjadi Relawan (Bagian Kedua)

Salah satu kegiatan relawan MRI-ACT, memberikan layanan kesehatan dan dukungan psikososial. Kegiatan ARPS-MRI di SMP-MA Sambelia, Lombok Timur pasca Gempa Bumi yang meluluh-lantakkan Lombok, NTB.. (foto: ist/palontaraq)

Salah satu kegiatan relawan ARPS-MRI-ACT, memberikan layanan kesehatan dan dukungan psikososial. Kegiatan ARPS-MRI-ACT di SMP-MA Sambelia, Lombok Timur pasca Gempa Bumi yang meluluh-lantakkan Lombok, NTB.. (foto: ist/palontaraq)

Pengantar

Indonesia adalah negara yang dianugerahi kesuburan tanah yang luar biasa. Gemah ripah loh jinawi. Sepotong surga yang tiada duanya di belahan bumi manapun. Sumber penghidupan dan kehidupan yang menyediakan segalanya, sawah, sungai, laut, pegunungan, danau, hutan, aneka tambang dan mineral yang kaya dikandung bawah buminya, iklim tropis yang sejuk, flora dan fauna berjuta jenis, dan berjuta kekayaan alam lainnya. Kesemuanya itu ada di alam Indonesia yang indah dan mempesona.

Apakah dengan kesemua anugerah luar biasa itu otomatis membuat rakyat Indonesia sejahtera? Sangat bergantung kepada kebijakan pemerintah dan kebajikan masyarakatnya. Jika dikelola dengan baik, amanah, berkeadilan, tak mustahil menciptakan kesejahteraan. Allah SWT telah menyatakan dalam kalamNya, “Jikalau penduduk suatu negeri beriman, maka akan Aku berikan nikmat dari dalam perut bumi dan dari atas langit”. Pun ayat yang menyatakan, “Jika kamu beriman dan bersyukur, niscaya akan aku tambahkan nikmatKu”.

Jadi, banyaknya musibah atau bencana yang melanda negeri ini tidak semata harus dilihat dari kacamata geologi, karena adanya pergeseran lempeng bumi, atau karena argumen bahwa Indonesia memang adalah negara yang dikelilingi bentangan pegunungan berapi, “ring of fire” (cincin api), tapi harus dilihat juga dengan kacamata lebar agama dan kepemimpinan yang ada di negara itu. Adakah agama menjadi landasan kehidupan, dan adakah negara tidak dzalim terhadap rakyatnya? Disinilah tugas kerelawanan sebenarnya perlu dipahami dan diperankan dengan baik, disatu sisi datang memberikan pertolongan dan bantuan, namun disisi lain, harus juga memberikan pencerahan dan penyadaran agar manusia kembali ke Tuhan, kembali kepada Agama.

Baca Sebelumnya: Arti menjadi Relawan (Bagian Pertama)

Komentar Relawan

Apa arti menjadi relawan buatmu, berikut ini lanjutan komentar beberapa relawan yang sempat dihimpun Palontaraq, semoga memotivasi dan menginspirasi.

6. Nur Adha dan Ahmad Fouzi (Relawan KerLip, ARPS)

“Kami pernah jadi relawan di beberapa kegiatan bakti sosial. Yang paling berkesan adalah saat menjadi relawan di Palu. Menjadi relawan bagi kami adalah kewajiban. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan peduli pada saudara yang memang butuh perhatian, kepedulian  dan  uluran tangan kita. Menemui saudara-saudara yang sedang dirundung duka di Palu, butuh hati ikhlas dan tekad kuat. Karena menjadi relawan itu ada hal yang pastinya dinomor-duakan juga.  Contohlah kami ini, meninggalkan buah hati disaat anak kami juga masih  membutuhkan asupan nustri dan ASI. Bagi kami, relawan adalah panggilan jiwa. Suka duka relawan memang seperti  itu dimana kita harus belajar peduli, menyisihkan waktu, dan berbagi kepada orang lain.  Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi yang lainnya. Dalam diri relawan Allah titipkan kekuatan untuk hamba yang lain kembali bangkit dari keterpurukan dari musibah yang telah menimpanya, meski begitu relawan juga berproses, mendidik diri menjadi lebih baik lagi. Karena itu, seorang relawan harus terus muhasabah diri dan mengambil hikmah dari setiap musibah di daerah bencana.”

Ahmad Fauzi dan Nur Adha. (foto: dok.humairah/palontaraq)

Ahmad Fauzi dan Nur Adha (niqab hitam). (foto: dok.humairah/palontaraq)

7. Riska Y Norvianti (@Aisyahkuriska, Relawan ARPS, KPAJ, KPAY)

“Saya pernah menjadi relawan pendidikan dan mengabdi di pelosok SDN 45 Sinjai Selatan, juga relawan di KPAJ dan KPAY  Makassar.  Menurut saya, Relawan adalah Pahlawan kehidupan tanpa mengenal lelah berkepanjangan, namun hanya berharap kebaikan Tuhan untuk terus kuat dalam mengabdikan diri untuk selalu berbuat kebaikan, dunia dan akhirat. Relawan adalah wujud kemanusiaan yang takkan pernah mati meski nyawa tidak lagi bersamanya.”

sebagai relawan di Kegiatan Fun Camping. (foto: dok. /palontaraq)

Aisyahkuriska sebagai relawan di Kegiatan Fun Camping 2018. (foto: dok. /palontaraq)

8. Nur Inda Rusli (Relawan ARPS/MRI)

“Saya pernah menjadi Relawan di Aliansi Relawan Pendidikan SulSel (ARPS), Masyarakat Relawan Indonesia (MRI), Komunitas Peduli Anak Jalanan Makassar (KPAJ), Rumah Qur’an Pinrang, dan lain-lain. Menurut saya, Relawan adalah makhluk terindah yang Allah ciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, indah dalam akhlak, indah dalam tutur kata, nan indah dalam perilaku. Relawan, ia langka dan terpilih, Teruslah berbagi, karena kehidupan ini tak pernah berhenti memberikan kita kebahagiaan.”

Nur Inda Rusli memberikan bantuan kepada korban gempa. (foto: dok.MRI)

Nur Inda Rusli memberikan bantuan kepada korban gempa. (foto: dok.MRI-ACT)

Nur Inda Rusli bersama relawan ARPS-MRI lainnya seusai menyelesaikan pengabdiannya di Lombok, NTB. Foto bersama di Dusun Sade, Lombok Tengah. (foto: ist/palontaraq)

Nur Inda Rusli (paling kanan) bersama relawan ARPS-MRI lainnya seusai menyelesaikan pengabdiannya di Lombok, NTB. Foto bersama di Dusun Sade, Lombok Tengah. (foto: ist/palontaraq)

9. Nawir (Mahasiwa Universitas Sawerigading)

“Saya Relawan di Aliansi Relawan Pendidikan SulSel (ARPS) dan Komunitas Peduli Anak Jalanan Makassar (KPAJ). Tugas sebagai  relawan itu sangat menginspirasi dalam hidupku.  Hal ini dikarenakan awalnya saya typikal orang tertutup, tidak bisa bergaul, dan lebih banyak memilih diam dalam keramaian, namun sejak aktif sebagai relawan, saya baru dapat memahami betul makna seenarnya dari pertemanan dan persaudaraan. Saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat naik Pesawat dan menginjakkan kaki di Lombok demi tugas sebagai relawan.  Saya berkenalan dengan Kak Ahmad Yani dan Kak Indah, dari keduanya saya belajar banyak hal sebagai relawan di ARPS yang berfokus untuk mendidik dan mengajar. Saya juga kemudian terlatih bekerja keras mengumpulkan donasi  untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena bencana di Lombok, NTB. Sebagai relawan, saya merasa tidak dituntut untuk menjadi orang yang  berhasil tapi berusahalah menjadi manusia yang berguna.”

M. Nawir saat berada di Lombok, NTB. (foto: ist/palontaraq)

M. Nawir (depan) saat berada di Lombok, NTB. (foto: ist/palontaraq)

10. Nur Pratiwi Alimuddin (Aktivis BSMI, ARPS, KPAJ, KPAY-FM/Sarjana Farmasi UIM)

Nur Pratiwi Alimuddin (Tiwiccu), Sekretaris BSMI dan ARPS. (foto: ist/palontaraq)

Nur Pratiwi Alimuddin (Tiwi), Wakil Sekretaris BSMI Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)

“Menjadi relawan itu banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan, teman baru, saudara baru, keluarga baru, serta menguatkan pemahaman tentang diri sendiri.  Sukar bagi saya mendeskripsikan semuanya tentang relawan, karena begitu banyak pelajaran dan kebahagiaan yang bisa kita dapatkan dengan menjadi relawan, meski secara pengalaman, saya sebenarnya lebih banyak berada di balik layar mengatur segala kebutuhan relawan, dibanding terjun langsung ke daerah bencana atau musibah.”

Nur Pratiwi Alimuddin (paling kanan) bersama relawan lainnya saat menjenguk salah seorang korban gempa Palu, Sulawesi Tengah yang dirawat di RSWS Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Nur Pratiwi Alimuddin (paling kanan) bersama relawan lainnya saat menjenguk Kayla, salah seorang korban gempa Palu, Sulawesi Tengah yang dirawat di RSWS Makassar. (foto: ist/palontaraq)

11. Ahmad Yani (Koordinator ARPS)

“Relawan (Volunteer) Sejati ialah seseorang yang bekerja dengan ikhlas hati tanpa digaji. Tujuannya hanya mencari ridho Ilahi. Relawan adalah mereka yang bekerja dengan hati, dipuji tak lupa diri, dilupakan tak kecil hati, dimaki tak emosi, dan ikhlas tanpa pamrih.”

Ahmad Yani di Palu, Sulawesi Tengah. (foto: ist/palontaraq)

Ahmad Yani di Palu, Sulawesi Tengah. (foto: ist/palontaraq)

12. Maryam Syafitra (Aktivis KIP)

“Saya pernah menjadi relawan Kelas Inspirasi (KI) di salah satu pulau di Kabupaten Pangkep, juga relawan Dompet Dhuafa (DD) chapter Pangkep. Buat saya menjadi relawan itu anugrah yang luar biasa. Menjadi relawan membuat kita lebih bisa menghargai waktu, dan mensyukuri kondisi kehidupan kita,  mengajarkan bagaimana agar kita lebih bermanfaat untuk orang lain. Ketika menjadi relawan ada kebahagiaan yang kita rasakan yang tidak bisa dirasakan oleh mereka yang belum pernah menjadi relawan. Karena itu mari wakafkan sedikit tenaga dan waktu kita untuk menjadi relawan.”

Maryam Syafitra dalam kegiatan KIP 5 di Pangkep. (foto: ist/palontaraq)

Maryam Syafitra dalam kegiatan KIP 5 di Pangkep. (foto: ist/palontaraq)

13. Izal Dante (Relawan ARPS)

“Saya pernah merasakan menjadi relawan gempa di Lombok, NTB.  Meskipun ini awal dari pengalaman hidupku menjadi relawan, tapi ini adalah sebuah pengalaman yang tidak bisa terlupakan. Bagiku menjadi relawan adalah sebuah pekerjaan yang sangat aneh. Karena relawan mendatangi tempat yang terkena bencana, dengan tujuan membantu dengan ikhlas, dengan kondisi tempat yang masih rawan bencana yang bisa saja mereka ikut menjadi korban. Menjadi relawan adalah panggilan jiwa, hadir  untuk membantu tanpa pamrih.  Mengapa saya menjadi relawan? Karena saya pahami bahwa kita bukanlah benalu yang hanya menempati sebuah kehidupan dan ahirnya kehidupan itu mati tanpa berbuat apa-apa,  dan kita bukanlah seonggok daging yang tak mempuanyai arti.”

Izal Dante (ketiga dari kiri) bersama relawan ARPS-MRI lainnya saat di Lombok Timur pasca gempa. (foto: ist/palontaraq)

Izal Dante (ketiga dari kiri) bersama relawan ARPS-MRI-ACT  lainnya saat di Lombok Timur pasca gempa. (foto: ist/palontaraq)

14. Syarifah Kamelia Assagaf (Aktivis KIP)

“Saya pernah menjadi relawan di Kelas Inspirasi Barru (KIB) dan Kelas Inspirasi Pangkep (KIP). Selain rela menjadi apa saja demi hal-hal yang bermanfaat,  seorang relawan juga harus siap menahan perihnya kecewa dan sulitnya bertahan dalam suasana apa saja. Menjadi relawan tidak semata membaktikan diri untuk sebuah gerak kemanusiaan, tetapi juga harus bisa melawan ego sendiri. Tidak bisa dipungkiri, akan ada hal-hal yang membuat kita memgernyitkan kening, nah di sinilah sebenarnya jati diri kerelawanan kita. Jadi, Relawan itu selain siap menahan Lapar, juga siaga membentengi Baper.”

Syarifah Kamelia Assagaf dalam kegiatan Kelas Inspirasi Pangkep. (foto: ist/palontaraq)

Syarifah Kamelia Assagaf (berkacamata) dalam kegiatan Kelas Inspirasi Pangkep. (foto: ist/palontaraq)

 

Kamu juga relawan? Silakan tinggalkan komentar, bagaimana arti menjadi relawan menurutmu? (*)

Bersambung ….. 

Like it? Share it!

Leave A Response