Mitos Nyi Roro Kidul dan Tradisi Labuhan di Pantai Parangtritis

Lukisan Nyi Roro Kidul. (foto: ist/palontaraq)

Lukisan Nyi Roro Kidul. (foto: ist/palontaraq)

Laporan:  Etta Adil

Tulisan Sebelumnya: Tips Berwisata ke Pulau Bunaken, Menado

PALONTARAQ.ID – Pantai Parangtritis merupakan salah satu destinasi wisata pantai yang menarik dan banyak pengunjungnya di Bantul, Yogyakarta.  Pantai ini terletak sekitar 27 km selatan Kota Jogjakarta dan mudah dicapai dengan transportasi umum yang beroperasi hingga Pukul 17.00 WIB maupun dengan kendaraan pribadi.

Sore menjelang matahari terbenam adalah saat terbaik untuk mengunjungi pantai Parangtritis dan bila tiba lebih cepat, tak ada salahnya untuk naik ke Tebing Gembirawati di belakang pantai ini.  Dari sana dapat terlihat seluruh area Pantai Parangtritis, laut selatan, hingga ke batas cakrawala.

Lihat juga:  Mengenal Kampung Turis Sosrowijayan di Simpang Malioboro

Meski seringkali menimbulkan korban, karena deburan ombaknya yang deras menghempas pantai, pengunjung seperti tak jera untuk menikmati keindahan dan misterinya.  Di sekitar pantai Parangtritis terdapat 2 palung, Pertama, letaknya di sebelan selatan posko tim SAR. Kedua,  berada di depan area terminal baru. Palung tersebut menjorok masuk ke arah daratan di bagian bawah.

Menurut penelitian para ahli, penyebab utama hilangnya para wisatawan di pantai Parangtritis adalah karena adanya rip current, yaitu arus balik ombak akibat gelombang pasang dan kemudian membentur pantai dan kembali lagi ke laut.

Arus itu bisa menjadi amat kuat karena merupakan akumulasi dari pertemuan dua atau lebih gelombang datang. Dengan kecepatan mencapai 80 km perjam, arus balik sangat mematikan. Korban akan mudah terseret arus balik jika berada terlalu jauh dari pantai.

Jika pada saat terseret arus ini korban kemudian melawan, maka dia akan semakin jauh terseret arus bawah laut dan selanjutnya bisa tersangkut karang atau masuk ke dalam patahan dalam laut. Di sini korban akan diendapkan dan baru bisa kembali terangkat ke permukaan jika ada arus lain yang mengangkat sedimen dari dasar laut. Dan hal ini butuh waktu beberapa hari.

Lihat juga: Berwisata ke Pantai Parangtritis Yogyakarta

Pantai Parangtritis Yogyakarta, oleh warga Yogyakarta seringkali disingkat Pantai Paris.  Pantai ini terkenal dengan mitos Nyi Roro Kidul yang menyimpan sejuta misteri yang dipercaya masyarakat setempat.   Untuk kesan adventure, para pengunjung bisa naik motor ATV atau  wisata paralayang parangtritis. Untuk yang satu ini sobat harus terlebih dahulu naik ke bukit paralayang di dekat pantai parangtritis.

Penulis di Pantai Parangtritis, Yogyakarta. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Pantai Parangtritis, Yogyakarta. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Pantai Parangtritis, Yogyakarta. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Pantai Parangtritis, Yogyakarta. (foto: ist/palontaraq)

Dari Pantai parangtritis, sobat bisa juga berkendara ke pantai sekitar dengan keindahan “gumuk” (bukit pasir) yang akan membuat seolah berada di padang pasir.  Belum banyak orang tahu bahwa di sebelah timur tebing ini tersembunyi sebuah reruntuhan candi. Berbeda dengan candi lainnya yang terletak di daerah pegunungan, Candi Gembirawati, nama candi itu, hanya beberapa ratus meter dari  Pantai Parangtritis.

Lihat juga: Memotret Pangkep dari Jepang dan Menikmati Sarabba di Paris

Untuk menuju candi ini, kita bisa melewati jalan menanjak dekat Hotel Queen of the South lalu masuk ke jalan setapak ke arah barat sekitar 100 meter. Sayup-sayup gemuruh ombak laut selatan yang ganas bisa terdengar dari candi ini. Hotel Queen of the South adalah sebuah resort yang diberi nama sesuai legenda ini. Sayangnya resort ini sekarang sudah jarang buka padahal dulu memiliki pemandangan yang sanggup membuat kita menahan nafas. (*)

Tidak Boleh Memakai Baju Hijau

Banyak orang percaya bahwa Pantai Parangtritis adalah gerbang kerajaan gaib Ratu Kidul yang menguasai laut selatan.  Konon, Ratu Pantai Selatan sangat menyukai warna hijau. Dalam beberapa lukisan yang dibuat, sang ratu digambarkan mengenakan pakaian warna hijau juga. Jadi, jika ada orang memakai baju hijau (utamanya pria), maka Kanjeng Ratu akan suka, dan kemungkinan besar akan “direkrut” untuk menjadi pegawainya.

Itulah sebabnya pengunjung Parangtritis sebisa mungkin dilarang memakai baju warna hijau. Takutnya jika memakai baju warna hijau, Nyi Roro kidul akan meyukainya dan menjadikan pengunjung tersebut abdi di kerajaan pantai selatan. Warna hijau dipercaya sebagai warna kesukaan penguasa laut selatan, juga warna pakaian bala tentaranya. Tempat “perekrutan” favorit adalah di pantai Parangtritis ini. Berani melamar?

Lihat juga:  Menggagas ‘Pangkajene City Tour’ dengan Bendi Wisata

Istilah lainnya pengunjung dengan baju warna hijau tersebut akan tenggelam diambil oleh Nyi Roro Kidul. Ternyata menurut juru kunci disana larangan memakai baju hijau itu berkaitan dengan warna air laut di pantai Parangtritis yang agak kehijauan.

Jika pengunjung memakai baju hijau, dan tenggelam maka tim SAR akan mengalami kesulitan pencarian. Penyebabnya karena warna bajunya tersamar dengan warna air laut yang juga hijau. Jadi larangan baju hijau akibat disukai Nyi Roro Kidul tersebut hanya mitos.

Parangtritis gerbang  Kerajaan Nyi Roro Kidul

Menurut sejarahnya awal mula penamaan pantai parangtritis ini adalah saat seorang pelarian dari kerajaan Majapahit yang sampai di di daerah laut berombak besar. Dia bersemedi di tempat itu. Banyak air yang “tumaritis” atau menetes dari “parang” atau celah-celah batu karang. Ia pun lalu menamainya sebagai parangtritis, atau berarti air yang menetes dari celah batu karang.

Mitos kemudian berlanjut saat era Kerajaan Mataram. Raja-raja jawa dipercaya memiliki hubungan khusus dengan Nyi Roro Kidul, sang penguasa laut selatan. Hubungan itu dipercaya berlangsung hingga sekarang. Bila sobat membaca artikel mengenai Wisata Keraton Yogyakarta, juga ditemukan hubungan pembangunan keraton diselaraskan dengan pantai selatan.

Lukisan Nyi Roro Kidul, Penguasa Laut Selatan. (foto: ist/palontaraq)

Lukisan Nyi Roro Kidul, Penguasa Laut Selatan. (foto: ist/palontaraq)

Menurut salah satu cerita, hubungan keraton serta raja-raja Jawa dengan Nyi Roro Kidul berawal dari semedi Panembahan Senopati, Sang pendiri Kerajaan Mataram Islam yang saat bersemedi di laut selatan bertemu dengan Nyi Roro Kidul. Terjalin hubungan cinta diantara keduanya dan Nyi Roro Kidul pun kemudian berjanji akan membantu dan terus berhubungan dengan keturunan Panembahan Senopati.

Tradisi Labuhan

Menurut tradisi Kraton Kesultanan Yogyakarta, upacara labuhan dilakukan secara resmi dalam acara penobatan Sultan, peringatan hari Ulang Tahun “Tingalan Panjenengan”, “Tingalan Dalem Panjenengan”, “Tingalan Jumenengan” atau peringatan hari “windo” hari ulang tahun penobatan Sultan. “Windon” berarti setiap delapan tahun. Jadi, tradisi Labuhan diselenggarakan oleh pihak kraton.

Tradisi Labuhan juga dilakukan ketika Raja Yogyakarta memiliki hajad atau mau menyelenggarakan acara tertentu seperti menikahkan putra putrinya. Biasanya merujuk pelaksanaannya pada Hari jumat kliwon.  Tradisi Labuhan ini sendiri sudah mulai sejak jaman Sultan Hamengkubuwono I dan masih berlangsung hingga saat ini.

Lihat juga:  Bercermin dari Kearifan Lokal Ammatoa Kajang

Tradisi Labuhan. (foto: ist/palontaraq)

Tradisi Labuhan. (foto: ist/palontaraq)

Tradisi Labuhan. (foto: ist/palontaraq)

Tradisi Labuhan. (foto: ist/palontaraq)

Tradisi Labuhan diadakan di area cepuri parangkusumo karena di wilayah inilah konon gerbang menuju kerajaan Nyi Roro Kidul berada.  Dalam pelaksanaanya, dilakukan upacara pemberian sesaji (labuhan).

Beberapa barang yang disebut ubo rampe akan dihanyutkan ke laut dalam acara labuhan ini. Ubo rampe yang dimaksud tersebut terdiri atas pakaian, kembang setaman, rambut, kuku dan banyak barang lainnya yang disiapkan oleh keraton.

Dengan tradisi ini, diharapkan agar kesejahteraan Sultan dan masyarakatnya tetap terjamin. Karena itu para Sultan harus tetap menjalin komunikasi dengan Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan dan meminta restu  dalam setiap pelaksanaan kegiatan keraton, agar semua berjalan dengan aman dan tenteram.

Semua mitos dan tradisi, apapun itu, pasti akan menimbulkan pro-kontra. Sobat traveler tidak perlu mempersoalkan itu, silakan menyikapi sendiri dengan bijak. Warga Yogyakarta sendiri cukup antusias mengikuti ritual tersebut karena dipercaya bisa membawa kesejahteraan. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response