Oleh: M. Farid W Makkulau
Tulisan Sebelumnya: Dange’ dan Lanteangoro’, Pelengkap Eksistensi Komunitas Bissu
PALONTARAQ.ID – Di Sulawesi Selatan, dikenal dua kota kabupaten yang disebut Pangkajene, yaitu Pangkajene Pangkep dan Pangkajene Sidenreng (Sidrap). Yang akan penulis bahas disini adalah Pangkajene, ibukota kabupaten Pangkep.
Pangkajene terletak sekitar 50 kilometer di utara Kota Makassar atau hanya sekitar 35 kilometer dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin.
Sebelum Pangkajene dimekarkan menjadi dua kecamatan, Pangkajene dan Minasate’ne, maka wilayah kecamatan Pangkajene mulai dari jalan poros Kalibone (perbatasan selatan Pangkep dan Maros) sampai jalan poros Andi Mappe, di depan RM. Palampang atau depan Kantor Cabang Bank Muamalat Pangkep saat ini. Ciri khas Pangkajene adalah Sungai Pangkajene yang membelah wilayahnya.
Di sisi utara, terdapat Kelurahan Mappasaile dan Pabundukang, sedang sisi selatannya terdiri atas wilayah Tekolabbua, Jagong, Tumampua, Anrong Appaka, Paddoang-doangan, dan Barubaru.

Sebagai kota kabupaten, Pangkajene telah menjadi satu kebanggaan tersendiri bagi masyarakatnya. Bukan hanya karena kota kecil ini merupakan pusat perekonomian, sentra pelayanan publik dan pusat pemerintahan Kabupaten Pangkep, tetapi juga karena kota kecil ini menyimpan banyak kenangan dan sejarah yang membanggakan.
PT. Semen Tonasa dan puluhan industri marmer menjadi saksi betapa kabupaten ini adalah daerah yang sangat kaya. Kawasan karst tercantik dan termegah di dunia berada di sebelah timurnya melingkupi ratusan gua prasejarah sementara di sebelah baratnya terbentang dan tersebar ratusan pulau kecil, suatu bentangan alam yang tiada duanya di negara manapun dunia ini.
Pangkajene selayaknya selalu diingat dan menjadikan magnet kota ini untuk selalu orang datang kembali berkunjung (berwisata) ke Pangkep.
Lima tahun terakhir ini Pangkajene tertata dengan baik dari segi kebersihan dan keindahannya, peraih Adipura untuk kategori “kota kecil” ini saat ini memang sudah selayaknya memiliki nilai jual sebagai kota pilihan ‘ city tour’.
Bukan hanya untuk wisatawan, tetapi juga bagi warganya. Selama sepuluh tahun terakhir, banyak perubahan dan tata kota yang berubah di Pangkep, khususnya di Pangkajene, karena itu Orang Pangkep perantau di seluruh Indonesia yang tergabung dalam Kerukunan Organisasi Masyarakat Pangkep (KOMPAK) selalu merasa kehilangan jika tak sesekali menengok Pangkajene dan perubahannya.
Minat untuk “menikmati” Pangkajene ini pulalah yang mendorong saya untuk menggagas ‘Pangkajene City Tour’, sebagai sumbangsih saran dan masukan bagi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) setempat.
‘Pangkajene City Tour’ bukan hanya diperuntukkan bagi wisatawan mancanegara yang setiap tahun semakin meningkat jumlah kunjungannya tapi juga bagi perantau Pangkep yang kembali ke kampung halamannya.
Pemkab setempat dapat memformulasi usulan ini dengan rencana Gerbang (gerakan pengembangan) wisata, satu paket dengan kegiatan wisata sungai dan kuliner di sekitaran Sungai Pangkajene.
* * *
Aktifitas berwisata keliling kota (city tour) merupakan aktifitas wisata yang trend saat ini. Banyak orang kemudian menjadikannya sebagai hiburan yang mendidik dan menyenangkan, melihat perubahan wajah kota, mendalami sejarah daerah dan sosio kultur masyarakatnya.
Sepuluh tahun terakhir, Becak dan Bendi yang dahulunya sangat akrab dengan kota Pangkajene sebagai transportasi rakyat dari dan ke Pasar Pangkajene kini tidak ada lagi.
Beberapa Pabendi (sais) dan Pabecak (pengemudi becak) kemudian alih profesi sebagai Pabentor, pengemudi becak motor yang kini mulai menjamur, bukan hanya di Pangkajene tapi juga di kecamatan lainnya di Pangkep.
Bentor, kendaraan roda tiga modifikasi becak dengan motor ini ternyata kemudian menjadi pilihan masyarakat dalam bertransportasi karena dianggap lebih efesien dan efektif, bisa lebih cepat sampai di tujuan dan mengantar sampai di depan pintu pagar rumah.


Hilangnya bendi (dokar) tidak serta menghilangkan ingatan warga terhadap transportasi murah yang merakyat ini. Banyak orang Pangkajene kemudian mengenang dan merindukan Bendi, meski tidak sedikit juga yang trauma jika mengingat kotoran kuda yang berceceran di jalan dan menebarkan bau tidak sedap.
Sukar tentunya untuk mengembalikan bendi seperti semula mengingat semakin langkanya kuda, dan sudah beralih profesinya pabendi menjadi pabentor. Namun bukan hal yang mustahil untuk mengembalikannya, bukan sebagai sarana transportasi rakyat tapi sebagai moda transportasi wisata yang unik dan menarik.
Dengan sedikit modifikasi tampilan serta menyiapkan penahan kotoran kuda pada bagian depannya, bendi rakyat bisa menjadi “bendi wisata”, khususnya bagi wisatawan mancanegara.
Kalau dahulunya masyarakat menggunakan transportasi bendi hanya membayar Rp 1000 – Rp. 2000 untuk sampai di Pasar Pangkajene, maka dengan bendi wisata, wisatawan dapat membayar Rp 100.000 atau lebih (khusus untuk biaya transportasinya per wisatawan) dalam satu kali trip yang telah ditetapkan rutenya. Hal ini tentu akan menarik kembalinya bendi karena menjanjikan kesejahteraan bagi pabendi (rakyat).

Beberapa alternatif destinasi ‘Pangkajene City Tour’ adalah Pasar Pangkajene, Kawasan Niaga Palampang, Pinggir Sungai Pangkajene, Tugu Bambu Runcing, Monumen Ewako, Rumah Sakit (RSUD Pangkep), SMU Negeri 1 Pangkajene, SMU Negeri 2 Pangkajene, Kantor Bupati, Kantor DPRD Pangkep, Perpustakaan Daerah, Islamic Center, Stadion Andi Mappe, Masjid Agung, Rumah Adat Karaeng Pangkajene, Taman Musafir dan Perkantoran dekat Lapangan Citramas, Kawasan Tambak di Paccelang dan Barubaru.
Pada saat turun di pinggir sungai Pangkajene, wisatawan dapat berjalan kaki ke jembatan Pangkajene dan mengambil obyek fotografi yang menarik dari atas sana.
Memotret perahu motor orang pulau yang lewat di sungai atau yang ditambatkan di pinggir sungai. Di bagian timur jembatan Pangkajene, terlihat dengan jelas kawasan karst (pegunungan batu kapur) yang sangat indah. Dari atas jembatan ini, banyak hal bisa dilihat dengan view menarik, baik pada sisi utara sungai maupun pada sisi selatannya.
Puas dengan obyek pemandangan yang tiada duanya, wisatawan dapat dimanjakan lidahnya dengan aneka kuliner tradisional, mulai dari sop saudara, sop konro, sop kikil, ikan bakar bandeng dan udang di Palampang, yang direncanakan sebagai gerbang wisata kuliner.
Alternatif lainnya, wisatawan dapat menikmati ikan bakar bandeng dan udang di kawasan tambak dan persawahan di Paccelang (Anrong Appaka) dan Barubaru yang dilalui, setelah dipuaskan dengan mengelilingi obyek wisata perkantoran, ruang terbuka, stadion dan Masjid/Islamic Center dalam kota Pangkajene.

Idealnya bendi hanya dinaiki 3-4 wisatawan ditambah pabendi di bagian depan dan tourist guide (pemandu wisata) disampingnya. Pada tempat yang dilalui bendi dapat diberhentikan atas permintaan wisatawan jika melihat suatu obyek yang menarik dan ini tentunya dapat menjadi pemicu bangkitnya ekonomi rakyat di wilayah pedesaan dan dalam kota Pangkajene.
Untuk ‘Pangkajene City Tour’ ini, Pemkab Pangkep dapat menetapkan tarif Rp 1 juta atau lebih untuk satu kali tour, termasuk untuk membayar tourist guide yang telah dilatih khusus untuk menjadi pemandu wisatawan dalam kota.

Aktifitas wisata ‘Pangkajene City Tour’ untuk waktu tertentu dapat dipaketkan dengan event tahunan atau event musiman seperti “Mappalili” (upacara turun sawah) dan “Mappadendang” (pesta panen padi) di tingkat Kecamatan Pangkajene, “Appanai Bolu” (panen bandeng), “Appanai Doang” (panen udang), “A’maudhu” (Maulid) di Masjid Agung, lomba gerak jalan dan lomba perahu di Sungai Pangkajene pada saat perayaan 17 Agustusan dan perayaan kota lainnya.
Karena pulau terdekat yang dapat dijangkau lewat Sungai Pangkajene, ‘Pangkajene City Tour’ dapat pula dilanjutkan dengan wisata bahari ke pulau eksotik Spermonde Islands Liukang Tupabbiring.
Jadi, ‘Pangkajene City Tour’ dengan Bendi Wisata dapat pula dipaketkan dengan Wisata Bahari ke pulau terdekat seperti Pulau Cangke, Badi, Pajenekang, Pala, Saugi, Saranti dan Pulau Kapoposan.
Dengan demikian wisata bahari, “Expedition Under Water Wonder in 114 islands” (Sensasi Keunikan Bawah Laut 114 Pulau) yang telah digagas sebelumnya dengan pusat Gerbang Pulau Camba-Cambang menjadi semakin menarik dan mudah dijangkau.
Demikian gagasan penulis ini, semoga ‘Pangkajene City Tour’ dapat menjadi paket wisata menarik dan menguntungkan bagi Pemkab dan Masyarakat Pangkep.
Tulisan ini dimaksudkan sebagai sumbang saran dan masukan bagi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) dalam mendukung program gerbang wisata Pangkep, melengkapi usulan dan masukan saya sebelumnya tentang perlunya pendirian “Museum Pangkajene” yang merekam jejak sejarah dan perkembangan Pangkajene (*)


