BerandaBeritaDaerahMemotret Pangkep dari Jepang dan Menikmati Sarabba di Paris

Memotret Pangkep dari Jepang dan Menikmati Sarabba di Paris

 

Laporan:  Etta Adil

Related Post:  Ince’: Identitas Keturunan Melayu di Pangkep

PALONTARAQ.ID – Jika ada kabupaten yang dianggap bisa mewakili karakter wilayah, geografi, masyarakat dan potensi alam Sulawesi Selatan (Sulsel), maka kabupaten itu adalah Pangkep.

Kabupaten Pangkep yang sekarang dipimpin oleh Bupati H. Syamsuddin Hamid SE ini juga diuntungkan oleh letaknya yang strategis, dilalui jalur Trans Sulawesi yang berarti juga menjadi jalur ke dan dari destinasi utama wisatawan, Tana Toraja serta penghubung lalu lintas barang jasa ke kabupaten lainnya di sebelah utara Kota Makassar.

Jembatan Pangkajene, penghubung lalu lintas barang dan jasa antar kabupaten. (foto: ist/mfaridwm).
Jembatan Pangkajene, penghubung lalu lintas barang dan jasa antar kabupaten. (foto: ist/mfaridwm).

Bagi wisatawan mancanegara, Pangkep sangat mudah dijangkau, jaraknya sekitar 50 km dari Kota Makassar dan hanya 32 km dari Bandar Udara Internasional Hasanuddin. Tiga karakter wilayahnya (from Seashore to Highland) menyimpan potensi sumber daya alam perikanan, pertanian, perkebunan, kehutanan dan pertambangan yang sangat kaya.

Wilayah kepulauan Kabupaten Pangkep terdiri atas 114 Pulau berbatasan dengan wilayah perairan Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Nusa Tenggara, dan Bali.

* * *

Banyak cara untuk menghibur diri dan menikmati kesenangan, begitulah warga Pangkep mengapresiasi kehadiran Jembatan Pangkajene dan Pangkajene pinggir sungai yang berada tepat di nol kilometer, Pangkajene, ibukota kabupaten Pangkep.

Jembatan Pangkajene yang oleh kalangan anak mudanya disingkat Jepang seringkali menjadi penanda tempat untuk bertemu (makassar: assigappa), baik oleh orang Pangkep sendiri maupun orang luar Pangkep.

Jembatan Pangkajene (pertama) saat malam hari. (foto: ist/disbudpar Pangkep).
Jembatan Pangkajene (pertama) saat malam hari. (foto: ist/disbudpar Pangkep).

Bagi kalangan anak muda dan remaja anak sekolahan, jembatan pangkajene merupakan lokasi pengambilan gambar yang menarik bagi penggemar fotografi. Sekedar narzis atau memang mengabadikan perkembangan kota dan sungai yang mengalir dibawahnya.

Memotret jembatan dari jembatan akan  mengalirkan kenangan sampai di pemandangan karst di ujung hilir timur sungai bersejarah itu. Semuanya bisa terlihat menarik dari atas jembatan pangkajene, baik pada siang hari terlebih di malam hari.

Sungai Pangkajene terlihat dari bagian timur Jembatan Pangkajene. (ist/humaspangkep).
Sungai Pangkajene terlihat dari bagian timur Jembatan Pangkajene. (ist/humaspangkep).
Sisi utara pada bagian barat Jembatan Pangkajene (kedua) disesaki perahu motor orang Pulau yang berbelanja di Pasar Pangkajene. (ist/disbudpar Pangkep).
Sisi utara pada bagian barat Jembatan Pangkajene (kedua) disesaki perahu motor orang Pulau yang berbelanja di Pasar Pangkajene. (ist/disbudpar Pangkep).

Masih pagi sekali, pasar pangkajene telah berdenyut kencang, Orang Pulau mulai berdatangan memenuhi pinggir sungai dengan perahu motornya.

Pasar Pangkajene tidak hanya menjadi tempat membeli segala kebutuhan warga Pangkajene daratan, tetapi juga menjadi tempat orang pulau-pulau terdekat berbelanja dan menjual segala hasil tangkapan lautnya.

Di Pinggir Sungai Pangkajene, cukup ramai, bahkan membentuk suasana layaknya pasar terapung di sisi utara sungai. Biasanya sekitar pukul 10.00 WITA, perahu-perahu motor lambat laun telah berkurang seiring dengan kembalinya mereka ke pulaunya, membawa barang belanjaan sekaligus membawa orang daratan yang akan ke pulau.

memotret pangkep dr jepang5
Potret Jembatan Pangkajene yang kedua disisi barat Jembatan Pangkajene yang pertama (foto: ist/humaspangkep)

Bukan hanya pasar pangkajene yang ramai, Palampang dan sekitarnya juga menggeliat sebagai kawasan ekonomi strategis di sisi utara jembatan Pangkajene. Pertokoan, travel, rumah makan, warung kopi, serta semua kantor cabang bank berada disisi utara sungai Pangkajene yang oleh Pemkab Pangkep akan dibentuk sebagai gerbang kuliner khas Sulawesi Selatan.

Nantinya disisi utara jepang ini, penikmat kuliner akan dengan mudah memilih makanan kesukaannya, mulai dari sop konro, sop kikil, coto makassar, sop saudara, ikan bakar bandeng, udang bakar dan cumi goreng sampai kue tradisional seperti dange dan surabeng akan hadir disini. Sisi selatan jembatan Pangkajene akan dipertahankan sebagai ruang rekreatif di malam hari di sepanjang Paris (Pangkajene pinggir sungai).

Sepanjang siang hari, jembatan pangkajene (jepang) telah menjadi saksi bisu lalu lintas barang dan jasa antar kabupaten. Tak berbilang banyaknya manusia dan kendaraan yang melewati jepang ini dalam sehari semalam.

Bagi facebooker anak sekolahan Pangkep, jepang telah menginspirasi mereka untuk berfoto narzis, diatas jembatan atau di kedua sisi sungai sekaligus menjadikan tempat tersebut sebagai tempat bertemu, curhat, pacaran atau untuk kegiatan bazar sekolahan atau komunitasnya.

Sungai Pangkajene telah melahirkan banyak kenangan bagi warga kota atau siapa saja yang pernah menitipkan rindunya diatas jembatan pangkajene dan pada kedua sisinya yang menarik untuk dipotret.

Tugu Bambu Runcing berada di O kilometer Pangkep, berada di Pinggir Sungai Pangkajene. (foto: ist/mfaridwm)
Tugu Bambu Runcing berada di O kilometer Pangkep, berada di Pinggir Sungai Pangkajene. (foto: ist/mfaridwm)

Dari jepang, banyak hal yang bisa dipotret. Rumah jabatan bupati Pangkep, pusat niaga palampang, jembatan kedua dengan perahu motor orang pulau, anak muda yang nonkrong di pinggir sungai, kendaraan yang lalu lalang, tugu bambu runcing, kawasan karst di ujung timur sungai, dan beberapa view menarik lainnya.

Pemotretan sosok personal dari jarak dekat dengan latar belakang sungai dan jembatan pangkajene jauh lebih disukai anak muda, tak sedikit foto-foto itu menjadi perbincangan menarik bagi warga Pangkep di perantauan dan menjadikannya kenangan akan perubahan wajah kota daerahnya yang terus berlangsung.

Pada petang hari, satu persatu pedagang kuliner di Paris (Pangkajene pinggir sungai) mulai membenahi lapak dan tenda jualannya. Di malam hari, warga kota bisa menikmati kopi dan teh susu, sarabba’, aneka jus, dan aneka gorengan (tahu isi, ubi goreng, pisang goreng).

Tak sedikit pula yang menjadikan sisi selatan jembatan Pangkajene ini sebagai tempat makan malam sekeluarga.

Di pinggir sungai (makassar: wiring salo’) ini, dengan mudah akan kita dapati pula sajian nasi goreng, bakso, sate lontong, ikan dan ayam (bakar, goreng) sampai pisang ijo dan putu cangkiri.

memotret pangkep dar jepang9
Kala malam hari, pinggir Sungai Pangkajene ini menjadi pusat jajanan dan tempat nongkrong yang asyik. (foto: ist/disbudparpangkep)

Satu hal yang khas di Paris ini adalah sarabba, yaitu minuman khas yang terbuat dari gula aren dan jahe, lebih nikmat diminum dengan campuran susu dan telur.

Jika ngumpul bareng dengan kawan karib memang lebih nikmat dengan minum sarabba dengan gorengan, ubi goreng atau pisang goreng. Sarabba selain minuman yang dapat menghangatkan badan di malam hari, juga bermanfaat mengobati filek, demam dan meriang.

Paris menjanjikan sejuta nikmat berkumpul di malam hari seraya memotret kendaraan yang lalu lalang dan denyut ekonomi yang tak pernah berhenti sampai di kejauhan malam. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT