Menikmati Kesejukan Leang Lonrong di Panaikang

by Penulis Palontaraq | Jumat, Mar 29, 2019 | 93 views
Penulis di Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Laporan:  Etta Adil

KABUPATEN  Pangkep memiliki banyak situs prasejarah yang berada dibawah bentangan pegunungan karstnya. Bersamaan dengan itu, terdapat pula mata air di sekitarnya yang sangat bagus dimanfaatkan sebagai obyek destinasi wisata permandian alam. Salah satunya adalah  Leang Lonrong yang berada di Desa Panaikang Kecamatan Minasatene.

Lihat juga: Berwisata ke Gua Prasejarah: Leang Kassi

Dari arah Pangkajene, ibukota Kabupaten Pangkep, para traveler dan penikmat wisata alam belok kiri kalau dari arah Pangkajene, ke jalan masuk ke Tonasa 1 (Tonasa Park) – Balocci,  lalu melewati Desa Kabba, dan terus bergerak ke arah Desa Panaikang, yaitu jalan menuju arah bekas Kantor dan Pabrik PT.Semen Tonasa I. Perjalanan dengan kendaraan motor atau mobil hanya 15-20 menit.

Penulis menyarankan kepada para traveler dan penikmat wisata alam untuk bertanya ke warga setempat, posisi jalan masuk ke obyek wisata alam Leang Lonrong. Kawasan wisata ini belum terlalu sepenuhnya dikelola dengan profesional oleh pihak pemerintah desa. Jalanan beraspal mentok di perumahan penduduk dan harus berjalan kaki untuk sampai di lokasi.

Penulis di Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Kondisi jalan Desa Panaikang menuju ke Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Lihat juga: Tracing the Prehistoric Trail in Sumpang Bita Pangkep

Nampaknya kawasan Leang Lonrong sendiri belum diikhlaskan sepenuhnya oleh masyarakat setempat untuk dikunjungi banyak orang, karena air yang berasal dari Leang Lonrong tersebut dimanfaatkan untuk pertanian, air minum, dan kebutuhan warga lainnya. Khawatirnya tercemar dan beberapa bagian dari kawasan Leang Lonrong juga merupakan tanah perkebunan masyarakat setempat.

Secara bahasa daerah, Leang dimaknai sebagai gua, sedangkan Lonrong diartikan sebagai arus air yang keluar dari gua. Ya, Leang Lonrong memang mengeluarkan air deras. Debit airnyapun cenderung stabil dan tidak berubah kendati musim kemarau tiba.

Perjalanan menuju Leang Lonrong nanti benar-benar dikatakan sampai jika sudah menemukan kawasan Gua dan sumber mata air. Jalan yang kecil, sempit, dan menyusup dicelah bebatuan plus menyeberangi sungai kecil adalah tantangan tersendiri untuk sampai ke gua. Makanya, sebagian besar pengunjung  yang mengenakan sepatu, terpaksa melepas dan memilih menjinjingnya. Kawasan wisata ini  memang sangat cocok bagi petualang.

Lihat juga:  Keindahan dan Nilai Sejarah Budaya Kawasan Karst Maros-Pangkep

Jarak dari ujung jalanan beraspal ke Leang Lonrong yang mencapai 1.000 meter, akhirnya bisa kami lalui. Kami tiba di gua Leang Lonrong dengan kondisi alam yang begitu hijau, sejuk dan teduh. Aliran air dari dalam gua yang membentuk sungai menjadi musik alami tersendiri yang membawa pesan ketenteraman.

Penulis di Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Kawasan Leang Lonrong dan pipa PDAM untuk kebutuhan air bersih. (foto: ist/palontaraq)

Kondisi ritmis aliran air plus ornamen bebatuan sampai di bibir gua seolah-olah ingin menjadi jawaban rasa penasaran kami. Sedikit capai yang dirasakan saat perjalanan seketika sirna. Apalagi tepat di depan mulut gua, terdapat kolam renang yang airnya berasal dari dalam gua. Suasana begitu sejuk terasa dan beberapa orang lebih memilih untuk berenang. Yang lainnya hanya mencuci muka dan sebagian lagi langsung memasuki gua.

Lihat juga:  Prehistoric Site of Leang Lompoa in Pangkep

Namun untuk memasuki gua Leang Lonrong, mesti berhati-hati. Aliran air yang ada di dasarnya membuat beberapa sisi bebatuan yang menjadi lantai gua, ada yang licin. Bebatuan berbentuk ornamen laksana hasil pahatan. Juga masih terdapat tetesan air jernih dari atas langit-langit gua berbentuk stalagmit dan stalagtit.

Penulis di Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Lihat juga: Berwisata ke Taman Batu Karst Balocci

Penulis menyarankan agar jangan memasuki gua lebih dalam lagi kalau tidak ditemani penduduk setempat, apalagi tanpa alat penerangan. Semakin masuk ke dalam gua, maka semakin dalam airnya, juga tidak diketahui panjang dan ujung gua, tentu pula kita tidak tahu apa saja yang didalamnya.

Jika ingin berenang, bisa didepan mulut gua. Juga ada gazebo disampingnya sebagai untuk istirahat atau untuk tempat makan-makan. Aliran air yang keluar dari dalam gua dibuatkan bendungan. Belum lagi kolam renang yang begitu menyegarkan setiap orang yang berenang di dalamnya.

Kolam renang di depan mulut gua,  yang airnya menggunakan aliran dari dalam gua  terbilang tidak begitu dalam.  Hanya sebatas  antara paha hingga bahu orang dewasa. Sangat cocok bagi pemula yang ingin berenang atau sekadar mandi-mandi.

Leang Lonrong sangat indah karena dikelilingi oleh gunung berbatuan karst yang tinggi sehingga kawasan Leang Lonrong seolah-olah berada di lembah. Sekilas, tampak seperti berada di alam yang belum terjamah sama sekali. Selain karena memang kurang pengunjung dan warga setempat cenderung protektif terhadap pendatang.

Penulis di Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Aliran air dari Kawasan Leang Lonrong dimanfaatkan warga setempat untuk air minum. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di depan mulut gua, Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Boleh dikata Leang Lonrong adalah obyek wisata terbatas. Biaya masuk ke kawasanpun hanya berbentuk “salaman” kepada warga setempat ala kadarnya. Nanti musim liburan sekolah, baru dibuatkan karcis, senilai Rp. 2.000-5.000,-. Para pengunjung sebaiknya membawa bekal makanan, karena tidak ada penjual beraktivitas di kawasan ini. Hanya sedikit penjual di musim liburan sekolah.

Lihat juga: Barasa’: Kerajaan yang hanya Ada dalam Narasi Tutur

Gazebo dikelilingi oleh tempat duduk plus meja. Selain itu, ada juga gazebo non permanen yang terbuat dari bambu dan kayu. Namun khusus gazebo sederhana ini, biasanya digunakan berjualan oleh pedagang kaki lima, khususnya pada musim padat pengunjung, misalnya hari raya dan akhir pekan.

Penulis di Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Kawasan Leang Lonrong yang sejuk, juga instagramable. Banyak spot berfoto yang bagus. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Kawasan Leang Lonrong. (foto: ist/palontaraq)

Mandi-mandi di Kawasan Leang Lonrong, sejuk dan menyegarkan. (foto: ist/palontaraq)

Dari cerita penduduk setempat, Belum ada seorangpun yang mampu sampai ke ujung gua saat melakukan ekspedisi. Karena itu, hingga saat ini belum ada yang bisa memprediksi panjang gua.

“Dahulu pernah ada peneliti asing melakukan ekspedisi ke dalam Leang Lonrong. Mereka masuk jam 08.00 pagi dan keluar jam 09.00 malam tetapi belum sampai di ujung gua. Padahal Orang asing tersebut membawa peralatan modern, termasuk tabung oksigen, penerangan dan perahu karet. Tapi disebutnya tak sampai juga, atau boleh jadi mengurungkan niatnya karena saking gelapnya. Jadi, sebaiknya tidak usah dicoba,” tutur Daud, salah seorang warga setempat. (*)

 

 

 

Like it? Share it!

Leave A Response