BerandaLiterasiKetika Orang Kampung Masuk Mal: Sebuah Siksaan bernama Modernisme

Ketika Orang Kampung Masuk Mal: Sebuah Siksaan bernama Modernisme

Oleh: Etta Adil

Related Post: Seperti Secangkir Kopi Hitam: Kamu Tidak Harus Menjadi Manis untuk Disukai Semua Orang

PALONTARAQ.ID – Ada tempat-tempat yang membuat saya merasa betah tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain. Pantai adalah salah satunya. Pegunungan adalah yang lain. Di sana saya bisa duduk berjam-jam tanpa merasa perlu melakukan apa-apa. Cukup memandang laut yang terbentang, mendengar desiran angin yang menyapu pepohonan, atau merasakan hawa pegunungan yang perlahan merayap ke kulit. Dari suasana ini, terkadang lahirlah puisi.

Di tempat yang saya akrabi tersebut, tidak ada tuntutan untuk tampil, tidak ada keharusan mengikuti tren, tidak ada kebingungan menentukan apa yang harus dilakukan.

Dunia yang saya akrabi memang sesederhana itu. Saya orang kampung. Saya terbiasa dengan ruang yang lapang, jalan yang tidak terlalu ramai, warung kopi yang cangkirnya sederhana, tetapi kopinya benar-benar kopi.

Sebagai penikmat kopi, saya menikmati kopi yang diseduh, kopi dituangkan ke dalam cangkir, lalu diletakkan di atas tatakan. Sebuah tanda pengagungan dan penghargaan yang hikmat. Kita duduk, berbincang, sesekali menyeruput, dan membiarkan waktu berlalu tanpa merasa harus mengejarnya.

Karena itu, setiap kali kaki saya menginjak sebuah mal, ada sesuatu dalam diri saya yang seperti memberontak. Bukan karena mal itu buruk. Bukan pula karena saya membenci modernitas. Saya hanya merasa bahwa dunia semacam itu bukanlah dunia saya.

Modernisme, dalam banyak hal, terasa seperti bahasa asing yang dipaksakan untuk saya gunakan setiap hari. Dan mal, dengan segala kemilau, hiruk-pikuk, dan kebiasaan-kebiasaan barunya, adalah salah satu ruang yang paling sering membuat saya sadar betapa kampungnya saya.

Memasuki mal saja sudah membuat saya lelah. Orang-orang lalu-lalang dari satu toko ke toko lain. Ada yang berjalan cepat, ada yang bergerombol, ada yang berhenti mendadak, lalu berjalan lagi. Lampu-lampu menyala terang dari segala arah.

Di Mal, musik terdengar entah dari mana. Di kiri-kanan ada etalase dengan benda-benda yang seolah memanggil-manggil untuk dibeli. Semuanya tampak bergerak. Orang kota mungkin menyebutnya “cuci mata”. Katanya menyenangkan. Katanya seru. Katanya itu bagian dari hiburan.

Tetapi bagi saya, melihat semuanya saja sudah cukup membuat mata terasa penuh dan kepala terasa sesak. Apa yang bagi sebagian orang merupakan hiburan, bagi saya justru semacam pekerjaan tambahan. Saya harus berjalan, melihat, memilih, memperhatikan, memahami, menyesuaikan diri. Padahal saya datang bukan untuk bekerja.

Saya hanya ingin duduk dan minum kopi. Namun ternyata, bahkan untuk minum kopi pun di mal ada semacam ujian kecil yang harus dilewati.

Saya berdiri di depan sebuah kedai kopi modern, lalu membaca daftar menu. Saya kira saya hanya perlu mengatakan, “Satu kopi, ya.” Ternyata tidak sesederhana itu.

Ada berbagai macam nama kopi yang bagi telinga saya terasa seperti nama-nama mantra dari negeri yang belum pernah saya datangi. Ada istilah yang harus dibaca dengan cara tertentu. Ada pilihan jenis susu. Ada ukuran. Ada tambahan ini dan itu. Ada tingkat kemanisan. Ada pilihan es. Ada metode penyajian.

Ada pula istilah-istilah asing yang membuat saya bertanya-tanya, “Ini sebenarnya saya sedang memesan kopi atau sedang mengikuti ujian bahasa?”

Nama-nama jenis minuman olahan "kopi". (foto: ist/*)
Nama-nama jenis minuman olahan “kopi”. (foto: ist/*)

Saya hanya ingin kopi. Ya, hanya Kopi! Bukan konferensi tentang kopi. Bukan pula seminar tentang selera kopi. Tetapi ya, mungkin begitulah modernitas bekerja. Sesuatu yang sederhana perlahan dibuat rumit, lalu kerumitan itu dijual sebagai pengalaman baru.

Akhirnya saya memilih dengan cara paling aman: menunjuk salah satu menu. Setelah menunggu beberapa saat, terdengarlah panggilan nomor meja untuk mengambil pesanan.

Saya melihatnya. Saya mencium aromanya. Saya menyesapnya. Lalu saya terdiam. Kopinya mana? Sungguh, ini pertanyaan yang serius. Saya bukan ahli kopi. Saya juga bukan barista.

Tetapi saya mengenal kopi. Saya tumbuh bersama aroma kopi yang baru saja ditumbuk, kopi yang diseduh dalam cangkir, kopi yang mengepul di pagi hari, kopi yang aromanya bisa memenuhi satu ruangan sebelum setetes pun menyentuh lidah.

Sedangkan yang saya dapatkan di sini… Entahlah? Aromanya nyaris tidak seperti kopi. Rasanya pun membuat saya bertanya-tanya. Ini kopi atau minuman yang kebetulan pernah bertemu kopi?

Lebih aneh lagi adalah cara kopi itu disajikan. Tidak ada cangkir. Tidak ada tatakan. Tidak ada sesuatu yang membuat saya merasa sedang duduk menikmati kopi.

Minuman itu ternyata dalam wadah plastik, lengkap dengan pipet plastik. Lalu saya diminta membawanya sendiri. Ambil sendiri. Bawa sendiri. Minum sendiri. Bereskan sendiri. Duh !!

Saya tidak tahu apakah ini bentuk kemajuan, efisiensi, atau justru cara baru untuk menjauhkan manusia dari kenikmatan kecil yang dahulu begitu sederhana. Bagi saya, penyajian seperti itu terasa seperti pelecehan kecil terhadap saya dan cara menikmati kopi.

Maaf, mungkin saya terlalu kampung untuk menerima logika semacam ini. Bagi saya, minum kopi bukan sekadar memasukkan cairan berkafein ke dalam tubuh. Ada penghormatan kecil di dalamnya. Ada cara menuang. Ada cara menghidangkan. Ada cangkir yang disentuh tangan. Ada tatakan. Ada aroma yang naik perlahan. Ada kesempatan untuk duduk. Ada ruang untuk bercakap-cakap.

Kopi bukan cuma minuman. Kopi adalah suasana. Kopi adalah jeda. Kopi adalah alasan untuk berhenti sejenak dari kehidupan yang terburu-buru. Tetapi di mal, bahkan jeda pun terasa tergesa-gesa.

Saya duduk sambil memegang gelas plastik. Di sekitar saya orang-orang tampak menikmati dunia mereka. Ada yang tertawa, berfoto, berbicara, berbelanja, berjalan dari satu gerai ke gerai yang lain. Saya mencoba memahami kesenangan itu.

Mungkin memang saya yang tidak mengerti. Mungkin dunia sudah berubah sedemikian rupa, sementara saya masih tinggal di dunia lama yang bagi orang lain mungkin sudah dianggap kuno.

Namun semakin saya melihat keramaian itu, semakin saya merasa bahwa ternyata saya tidak sedang kehilangan sesuatu. Saya justru sedang mempertahankan sesuatu. Saya mempertahankan kesederhanaan. Saya mempertahankan kemampuan untuk menikmati angin tanpa harus membelinya.

Saya mempertahankan kebiasaan menikmati laut tanpa tiket masuk ke dalam gedung. Saya mempertahankan kebahagiaan duduk di bawah pohon sambil minum kopi dalam cangkir sederhana. Saya mempertahankan percakapan yang tidak dibatasi waktu dan tidak disela bunyi musik dari pengeras suara.

Mungkin itulah sebabnya saya lebih memilih pantai. Di pantai, tidak ada yang bertanya ukuran minuman saya. Tidak ada istilah asing dalam memesan angin. Tidak ada menu untuk memilih apakah deburan ombak harus medium atau large. Tidak ada pipet plastik untuk menikmati hembusan udara.

Di pantai, saya cukup duduk. Laut berbicara sendiri. Angin datang sendiri. Langit berubah warna sendiri. Dan saya tinggal menikmati semuanya.

Begitu pula di pegunungan. Hawa dingin menyentuh kulit tanpa meminta bayaran. Kabut turun perlahan tanpa perlu dijadwalkan. Pepohonan bergoyang diterpa angin tanpa musik latar. Semuanya terasa alami. Tidak ada yang dibuat-buat demi terlihat keren.

Itulah dunia yang saya kenal. Itulah dunia yang membuat saya merasa menjadi diri sendiri. Namun hari ini saya tetap berada di mal. Bukan karena saya ingin.

Saya datang karena anak-anak sekolah yang saya dampingi sedang melakukan refreshing sebagai bagian dari agenda study tour. Sebagai guru, tentu ada tanggung jawab yang tidak bisa saya tinggalkan hanya karena saya lebih menyukai pantai daripada gedung bertingkat.

Jadi saya ikut. Saya mengantar. Saya menemani. Saya berusaha menikmati. Dan saya minum kopi. Meski sejujurnya saya tidak menikmati apa-apa.

Mungkin begitulah hidup. Kita kadang harus memasuki ruang yang tidak kita sukai demi orang-orang yang kita sayangi atau tanggung jawab yang harus kita tunaikan.

Tetapi pengalaman itu kembali mengingatkan saya pada satu hal: modern tidak selalu berarti lebih nyaman, dan mewah tidak selalu berarti lebih nikmat.

Ada kalanya manusia justru menemukan kebahagiaan paling tulus di tempat yang sederhana. Di warung kecil. Di teras rumah. Di pinggir sawah. Di kaki gunung. Di tepi pantai.

Atau di sebuah kedai kopi kampung yang mungkin tidak punya nama kopi dengan ejaan rumit, tetapi ketika cangkir itu diletakkan di hadapan kita, aroma kopinya langsung berkata, “Inilah kopi.” Dan kita tidak perlu bertanya lagi. Karena kita tahu.

Barangkali saya memang orang kampung. Dan semakin sering dunia menjadi modern, saya justru semakin bersyukur pernah dibesarkan oleh kesederhanaan.

Ngopi dan sarapan seraya menikmati semilir angin pantai ujung selatan Pulau Sulawesi (foto: ist/*)
Ngopi dan sarapan seraya menikmati semilir angin pantai ujung selatan Pulau Sulawesi (foto: ist/*)

Sebab ternyata, setelah semua gemerlap itu, yang paling saya rindukan hanyalah suara ombak, udara pegunungan, secangkir kopi yang benar-benar terasa sebagai kopi, dan sebuah tempat untuk duduk tanpa harus merasa bahwa saya sedang berada di tempat yang salah. (*)

 

(* Etta Adil, Blogger & Traveler

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT