Keindahan dan Nilai Sejarah Budaya Kawasan Karst Maros-Pangkep

Kawasan Karst Maros-Pangkep. (foto: ist/palontaraq)

Kawasan Karst Maros-Pangkep. (foto: ist/palontaraq)

 

Terindah Kedua Di Dunia Setelah China

Kawasan karst memang memiliki keunikan tersendiri. Bentukan dan bentang alam yang khas dengan keunikan flora-fauna yang ada didalamnya selalu menarik para ilmuwan, pun para pemerhati dan penikmat alam. Hal serupa pun ditemukan di Kawasan Karst Maros-Pangkep. Tebing-tebing karst yang tinggi menjulang berbentuk menara (spectacular tower karst) merupakan fenomena alam yang menakjubkan. Bentukan alam ini khas di kawasan karst tropika.

Dasar pemikiran ini bukanlah semata karena keunikan bentukan alamnya. Kawasan Karst Maros-Pangkep ternyata memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri, yang tidak dimiliki oleh kawasan karst lainnya, yaitu fakta ilmiah bahwa didalamnya hidup begitu banyak spesies kupu-kupu. Keanekaragaman kupu-kupu dan flora fauna lainnya di kawasan ini telah diteliti dan dipublikasi oleh Wallace (1882), Guillemard (1889), dan Leefmans (1927).

Kawasan Karst Maros-Pangkep terindah kedua setelah Cina. (foto: ist/palontaraq)

Kawasan Karst Maros-Pangkep terindah kedua setelah Cina. (foto: ist/palontaraq)

Kawasan karst seluas 650 km2 dengan inti karst sekitar 300 km2 ini merupakan habitat bagi sekitar 284 species tumbuhan dan 270 jenis kupu-kupu dan hewan langka. Berkaitan dengan kupu-kupu, kawasan Bantimurung, yang merupakan bagian dari kawasan Karst Maros-Pangkep dijuluki sebagai “the kingdom of Butterflies”.

Beberapa jenis hewan langka itu diantaranya ialah Burung Enggang Sulawesi (Penelopides exarhartus, kera tanpa ekor (Macaca Maura), Tersius (Tarsius sp), Kuskus (Phalanger Ursius), Musang Sulawesi (Macrogilidia mussen braecki), Rusa (Carvus timorensis, dan aneka satwa liar lainnnya. Diantara species tumbuhan dalam kawasan ini, 30 jenis diantaranya merupakan jenis pohon ara atau beringin (Fiscus sp) yang digolongkan sebagai “key stone species”. Jenis tumbuhan lain yang ditemukan di dalam kawasan ini adalah jenis kayu hitam (Diospyros celebica) yang merupakan jenis tanaman endemik Sulawesi yang bernilai ekonomi tinggi.

Pantaskah Nama Pangkep diubah menjadi Kabupaten Siang? (foto: mfaridwm/palontaraq)

Keindahan Gugusan Karst yang terbentang dari Pangkep-Maros  (foto: mfaridwm/palontaraq)

Kalabbirang. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Karst Maros-Pangkep  (foto: mfaridwm/palontaraq)

Memperhatikan potensi kekayaan alam dan perkembangan wilayah yang terjadi, dapat dikemukakan adanya beberapa nilai strategis kawasan Karst Maros-Pangkep berupa Pertama, aspek ekonomi, yaitu usaha pertanian, kehutanan, pertambangan, pengelolaan air dan pariwisata. Kedua, aspek ilmiah, berkaitan dengan geologi, speleologi, biologi, arkeologi dan paleontology. Ketiga, aspek kemanusiaan, terkait keindahan, rekreasi, pendidikan, unsur spiritual, agama atau kepercayaan. Keempat, aspek konservasi, berkaitan dengan ekosistem bentukan yang merupakan bagian tak terpisahkan antara hubungan komponen ekosistem berupa keanekaragaman hayati dan lingkungannya.

Memiliki Nilai Sejarah Budaya yang tinggi

Tak hanya itu, Kawasan Karst Maros-Pangkep juga memiliki kekayaan budaya bernilai tinggi. Tercatat ada 29 gua yang memiliki nilai sejarah budaya tinggi. Di Maros terdapat 17 gua diantaranya bernilai budaya setelah ditemukannya artefak prasejarah pada gua-gua tersebut.  Di dinding gua terlihat ornament dan lukisan manusia purba. Beberapa gua di wilayah Leang-leang diindikasikan pernah menjadi tempat hunian manusia pada jaman prasejarah. Di dinding gua terlihat lukisan telapak tangan yang diduga dibuat beratus bahkan ribuan tahun yang lalu.

Penulis di Situs Prasejarah, Leang Kassi. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Situs Prasejarah, Leang Kassi. (foto: ist/palontaraq)

Berdasarkan hasil tim ekspedisi Perancis dan LIPI tahun 1970an ditemukan 237 gua yang tersebar di kawasan itu. Hanya sekitar 36 gua saja yang diamati. Dari jumlah itu ada 18 gua yang berpotensi tinggi sebagai obyek wisata gua karena memiliki ornament stalagmite dan stalagtit, tiang serta sungai dalam  gua.

Penelitian LIPI itu merupakan lanjutan dari penelitian sebelumnya yang dilakukan dua bersaudara ilmuwan Perancis Fritz Sarasin dan Paul Sarasin pada tahun  1902-1903 yang menemukan sekitar sekitar 122 gua di kawasan Karst Maros-Pangkep.  Dari hasil penelitian keduanya menemukan  artefak prasejarah pada gua-gua tersebut, berupa sisa peralatan manusia prasejarah berupa serpih, bilah, mata panah, dan alat yang terbuat dari tulang di Gua Cakondo, Uleleba, dan Balisao, Kabupaten Maros. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response