Hijau 40 Tahun Taman Nasional pertama di Indonesia

40 Tahun Taman Nasional pertama di Indonesia

-

- Advertisment -

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. (foto: ist/palontaraq)
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. (foto: ist/palontaraq)

Laporan: Etta Adil 

Related Post: Pesona Karst dan Wisata Sungai Rammang-rammang

PALONTARAQ.ID –  Hari ini, 6 Maret 2020, tepat 40 Tahun keberadaan Nasional pertama di Indonesia. Artinya Taman Nasional atau dikenal dengan sebutan National Park di dunia, nanti ada di Indonesia pada Tahun 1980. Apa sih sebenarnya yang dimaksud Taman Nasional ini?

Taman Nasional (TN), sebagaimana dikutip dari Wikipedia, adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.

TN juga merupakan salah satu jenis kawasan konservasi karena dilindungi, biasanya oleh pemerintah pusat, dari perkembangan manusia dan polusi, ia merupakan kawasan yang dilindungi (protected area) oleh World Conservation Union Kategori II.

Taman nasional terbesar adalah Taman Nasional Greenland Timur Laut, yang didirikan sejak tahun 1974.  Gagasan dari sebuah Taman Nasional pertama kali muncul pada awal abad ke-19, yaitu dalam Tahun 1810 ketika Puitris Inggris William Wordsworth menggambarkan Danau District sebagai “sebuah bagian dari hak milik nasional di mana setiap orang memiliki hak bagi yang memiliki mata untuk menerima dan sebuah hati untuk menikmati”.

Pelukis George Catlin,  dalam perjalanannya ke Amerika Barat, menjadi khawatir akan masa depan penduduk asli Amerika yang dia temui dan keajaiban alami yang dia lihat.

Pada 1832, George Catlin menulis bahwa mereka dapat dilindungi oleh kebijakan pemerintah, dalam sebuah taman yang luar biasa, sebuah taman nasional, berisikan manusia dan hewan, di keliaran dan kesegearan dari keindahan alami mereka!

Usaha pertama oleh Pemerintah untuk menetapkan tanah terlindungi tersebut dilakukan oleh Amerika Serikat, ketika Presiden Abraham Lincoln menandatangani “Act of Congress” pada 30 Juni 1864, menetapakan Lembah Yosemite dan Mariposa Grove di Giant Sequoia (pusatnya akan menjadi terkenal ke seluruh dunia Taman Nasional Yosemite) kepada negara bagian California

Namun, visi Taman Nasional belum lengkap di Yosemite, dan membutuhkan usaha dari John Muir untuk memberikan hasil. Yosemite tidak menjadi “National Park” secara legal sampai 1 Oktober 1890.

Pada 1872, Taman Nasional Yellowstone diresmikan sebagai “National Park” pertama di dunia. Tidak seperti Yosemite, tidak ada pemerintah negara bagian yang melindunginya, jadi Pemerintah Federal mengambil tanggung jawab secara langsung mengenai pemeliharaan dan perlindungan taman tersebut.

Mengikuti diresmikannya Yellowstone negara lain juga meresmikan taman nasional mereka. Di Australia, Taman Nasional Royal diresmikan di sebelah selatan Sydney pada Tahun 1879.

Taman Nasional Banff (waktu itu dikenal sebagai  “Rocky National Park”) menjadi Taman Nasional pertama Kanada pada Tahun 1887, sedang Selandia Baru memiliki Taman Nasional pertamanya pada Tahun 1887.

Di Eropa, Taman Nasional pertama diresmikan pada Tahun 1910 di Swedia. Terutama setelah Perang Dunia (PD) II, banyak taman nasional diresmikan di seluruh dunia.

Related Post: Keindahan dan Nilai Sejarah Budaya Kawasan Karst Maros-Pangkep

Taman Nasional di Indonesia

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Taman Nasional didefinisikan sebagai kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.

Saat ini terdapat 50 Taman Nasional di Indonesia, yang pengelolaannya di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Enam di antaranya ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Sites), dan dua dalam Situs Ramsar.

Taman-taman nasional yang telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, di antaranya adalah, Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur, Taman Nasional Lorentz di Papua dan Taman Nasional Ujung Kulon di Banten.

Taman Nasional Gunung Leuser di Sumatra Utara dan Aceh, Taman Nasional Kerinci Seblat di Jambi dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, dan Sumatra Selatan, juga di termasuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO, yang tergabung sebagai Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatra.

Sumber: Kementerian LHK.
Sumber: Kementerian LHK.

Benih taman nasional tersemai lewat Kongres Taman Nasional Sedunia Pertama 1962, di San Diego, Amerika Serikat, yang lantas disusul Kongres Kedua di Taman Nasional Yellowstone, Amerika Serikat pada Tahun 1972.

Meskipun taman nasional pertama di dunia telah berdiri sejak 1887, perkembangan di tingkat global baru dimulai pada Tahun 1962.
International Union for Conservation of Nature and Natural Resources atau IUCN membidangi kedua Kongres itu.

Indonesia baru mengikuti Kongres yang kedua, dengan mengirim Prof. Dr. Otto Soemarwoto, Walman Sinaga dan Prof. Dr. Ir. Rudi Tarumingkeng M.Sc. (Sumber: IG Kementerian LHK)

Indonesia kemudian menjadi tuan rumah Kongres Taman Nasional Ketiga yang diselenggarakan di Bali pada Tanggal 11-22 Oktober 1982. Inilah Kongres Taman Nasional Sedunia yang pertama kali diselenggarakan di negara sedang berkembang.

Dua kongres sebelumnya diselenggarakan di Amerika, yang konsepnya sama sekali berbeda dengan keadaan di Indonesia. Dalam Kongres di Bali, pada intinya lebih menekankan pada masyarakat sesuai dengan tema Kongres Kehutanan Sedunia Kedelapan yaitu “Forest for People”.

Wakil Presiden Adam Malik waktu itu membuka Kongres yang dihadiri oleh para pengelola, perencana taman nasional, serta pakar dari 68 negara.

Dalam acara pembukaan beliau berujar “Kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah kongres ini, menunjukan komitmen pemerintah terhadap lingkungan dan bisa dipandang sebagai bentuk tanggung jawab dalam melestarikan kekayaan alam Indonesia”.

Di sela-sela Kongres, tanggal 14 Oktober 1982, Menteri Pertanian Republik Indonesia, Prof. Ir. Soedarsono Hadisapoetro, memanfaatkan momentum internasional itu untuk mendeklarasikan 11 kawasan suaka alam sebagai calon taman nasional atau kawasan pelestarian alam.

Peresmian lima taman nasional itu didukung empat menteri: Menteri Pertanian, Prof. Ir. Soedarsono Hadisapoetro; Menteri Riset dan Teknologi, Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie; Menteri Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Emil Salim; dan Menteri Penerangan, Ali Moertopo. Deklarasi berlangsung di Departemen Penerangan.

 

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Jangan alihkan Kesalahan Polri pada Surat jalan Djoko Tjandra

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Sengaja atau tidak, pimpinan Polri berusaha mengalihkan fokus kesalahan Polri secara institusional menjadi kesalahan Brigjen...

Rakyat dibayangi Pertanyaan: Mungkinkah Komunisme-PKI bangkit kembali?

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Kalau pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD (31/5/2020) dijadikan pegangan, tampaknya tidak mungkin PKI bisa hidup...

Ayasofya Camii!

  Oleh: Ustadz Felix Siauw PALONTARAQ.ID - Salah satu keinginan terbesar saya ketika menulis buku "Muhammad Al-Fatih 1453", adalah sujud di...

Presiden Jokowi Memang Harus Ngeri!

  Oleh: Hersubeno Arief PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi kembali menyatakan betapa berbahayanya situasi dunia, khususnya Indonesia. Jokowi bahkan menggunakan kosa kata yang...

Jokowi merasa Ngeri!

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi mengatakan dia ngeri dengan situasi yang akan dihadapi. Pertumbuhan ekonomi bisa minus 8%. Pak...

Denny Siregar tak perlu Minta Maaf!

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Pegiat medsos pro-penguasa, Denny Siregar (DS), didesak untuk meminta maaf kepada seluruh santri dan kiyai. Dia...

Must read

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you