Berwisata ke Gua Prasejarah: Leang Kassi

Pemandangan alam menuju kawasan Leang Kassi. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pemandangan alam menuju kawasan Leang Kassi. (foto: mfaridwm/palontaraq)

 

Ada banyak tempat wisata di Kabupaten Pangkep Propinsi Sulawesi Selatan yang sifatnya gratis. Mengapa gratis? Ya, boleh jadi karena tidak dilihat sebagai potensi obyek wisata yang bisa menghasilkan uang. Situs Leang Kassi adalah salah satunya. Leang Kassi merupakan salah satu gua (bahasa makassar: leang) situs prasejarah yang terdapat di Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene.  Situs ini adalah sebuah ceruk, dengan arah hadap barat daya, isi gua berupa tanda kehidupan prasejarah masa lampau. Itulah sebabnya situs ini ditetapkan pemeliharaan dan perlindungannya sebagai cagar budaya.

Untuk mencapai Leang Kassi sangat mudah. Tidak ada tanda pos jaga yang mengharuskan seseorang harus minta izin untuk memasukinya.  Sangat disayangkan tentunya, mengingat kawasan ini adalah kawasan cagar budaya.  Ketika mengunjungi Situs Leang Kassi ini, penulis menemukan banyaknya tanda vandalisme yang kemungkinan berasal dari pengunjung dan masyarakat sekitar.  Kerusakan situs nampak pada bagian dalam leang maupun bagian luarnya, padahal situs prasejarah potensial sekali dimanfaatkan sebagai obyek wisata sejarah maupun sebagai sarana berekreasi di alam pegunungan yang sejuk.

Ketinggian Leang Kassi  dari permukaan tanah sekitarnya hanya sekitar 5 meter (dari jalan di depannya) yang mana pada sebelah kanan bagian bawahnya terdapat mata air yang berasal dari sebuah gua, mengalirkan air sepanjang tahun. Pemkab Pangkep, dalam hal ini Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) memanfaatkannya sebagai salah satu sumber air minum yang didistribusikan ke beberapa wilayah Minasate’ne dan Pangkajene.

Aliran air dibawah Leang Kassi tersebut melewati bagian depan gua prasejarah di sekitarnya, yaitu situs Leang lompoa, Leang Buto dan Leang Bubbuka. Sumber mata air dekat situs Leang Kassi ini seringkali dimanfaatkan sebagai sarana permandian alam yang menyegarkan, bahkan kini tersedia pula sarana terapi ikan yang dibuka oleh masyarakat setempat.

Penulis di depan 'papan cerita' tentang Gua Prasejarah Leang Kassi. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di depan ‘papan cerita’ tentang Gua Prasejarah Leang Kassi. (foto: ist/palontaraq)

Leang Kassi (foto: mfaridwm/palontaraq)

Jalan menuju pintu masuk Leang Kassi (foto: mfaridwm/palontaraq)

Air berlimpah dari mata air leang kassi menjadi sumber air PDAM yang didistribusikan ke wilayah Pangkajene dan Minasatene. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Air berlimpah dari mata air leang kassi menjadi sumber air PDAM yang didistribusikan ke wilayah Pangkajene dan Minasatene. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Situs Leang Kassi merupakan situs gua dengan tinggi pintu masuk sekitar 30 m dan lebar 24 meter, terletak sekitar 15 mdpl dengan luas lantai (yang kemiringannya sekitar 45’) sekitar 44 m2. Lantai bagian dalam hingga tengah ceruk ini tersusun dari bongkahan batu dari reruntuhan langit-langit gua. Pada bagian depan ceruk terdapat pelataran yang lantainya cenderung datar dan melandai pada bagian tepi dengan sudut lantai-dinding sekitar < 90’ dan > 60’. Pelapukan pada dinding ceruk cukup besar sehingga beberapa gambar gua sudah mengelupas dan tidak dapat diidentifikasi lagi.

Papan cerita tentang Leang Kassi (foto: ist/palontaraq)

Papan cerita tentang Leang Kassi (foto: ist/palontaraq)

Bersantai di Kolam air Leang Kassi. (foto: ist/palontaraq)

Bersantai di Kolam air Leang Kassi. (foto: ist/palontaraq)

Pemandangan alam sekitar kawasan Leang Kassi. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pemandangan alam sekitar kawasan Leang Kassi. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Perkiraan okupasi terhadap situs Leang Kassi ini sekitar 80 m2 berdasarkan kelayakan okupasi bagian dalam ditambah luas pelatarannya. Data arkeologis yang diperoleh dari hasil penelitian UNHAS dan Balai Arkeologi Makassar dijumpai pada sudut bagian kiri adalah timbunan sisa makanan yang bercampur dengan artefak batu dan tulang. Sedang yang berasal dari pelataran pada bagian tepi yang cenderung menurun juga terdapat artefak batu, cangkang moluska (klas gastropoda dan klas pelecypoda) dan pada langit-langit ceruk terdapat gambar dinding.

* * *

Bagi warga Minasate’ne, Kabupaten Pangkep tidak ada yang mengenal tempat ini, Leang Kassi. Nama ini sebenarnya merujuk kepada Salah satu leang (gua) prasejarah yang di Kampung Belae’, Kelurahan Biraeng, Minasate’ne. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari ibukota Kabupaten, Pangkajene-Pangkep. Di daerah sekitar Leang Kassi inilah, warga setempat memanfaatkan mata air pegunungan yang mengalir sepanjang tahun tiada henti tersebut untuk memelihara ikan—dalam bahasa local—yang disebut pai-pai (bahasa makassar: juku pai-pai). Ikan pai-pai inilah yang mendatangkan rezeki tersendiri bagi mereka, dibuatkan kolam khusus dimana setiap pengunjung dapat mencelupkan kaki mereka untuk terapi ikan.

Terapi Ikan di Leang Kassi (foto: ist/palontaraq)

Terapi Ikan di Leang Kassi (foto: ist/palontaraq)

Terapi Ikan di Leang Kassi (foto: mfaridwm/palontaraq)

Terapi Ikan di Leang Kassi (foto: mfaridwm/palontaraq)

Terapi ikan (Fish Treat) ini sebenarnya hal baru dalam terapi kesehatan, termasuk bagi warga Minasate’ne-Pangkep. Konon, Terapi ikan semacam ini asalnya dari daerah utara dan pusat Timur Tengah. Dalam prakteknya, seseorang mencelupkan kakinya ke sebuah sungai yang berisi ikan jenis garra rufa dan seketika itu juga puluhan bahkan ikan tersebut mengerubungi kakinya. Rasanya tak sakit, hanya sedikit gelid an itu kemudian dipercaya sebagai terapi kesehatan. Kulit terlihat lebih bersih dan setelah terapi, tubuh khususnya bagian kaki terasa lebih segar dan ringan. Itulah sebabnya tak sedikit orang yang mencelupkan badannya dan membiarkan seluruh tubuhnya digigit ikan pai-pai (garra rufa) ini karena dipercaya pula ikan yang tak memiliki gigi tersebut memiliki daya hisap dan insting untuk menghisap kulit-kulit mati manusia.

Sebagian besar orang pengunjung Leang Kassi, selain untuk menikmati obyek wisata alam pegunungan yang menyegarkan juga menyempatkan singgah untuk melakukan terapi ikan. Meski  tak mengetahui secara jelas apa manfaatnya, menurut mereka, seperti diungkapkan Dra Nurhudayah, seorang guru yang membawa siswa-siswanya mengunjungi obyek wisata prasejarah Leang Kassi tersebut mengatakan bahwa Terapi Ikan di Leang Kassi cukup membersihkan kulit dan mengurangi stress, apalagi air yang dipakai masyarakat setempat memelihara ikan pai-pai adalah air pegunungan yang dingin dan menyegarkan. “Hawa pegunungan disini  sangat sejuk,” tambahnya.

Pemandangan di sekitar kawasan Leang Kassi. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pemandangan di sekitar kawasan Leang Kassi. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Salah satu alasan mengapa pengunjung pada akhirnya banyak menyempatkan singgah untuk terapi ikan di Leang Kassi adalah murah, yaitu hanya Rp 5000 per orang dengan waktu celup kaki selama 30 menit dan berlaku kelipatannya, Rp 10.000 per orang untuk waktu selama 60 menit. Bagi yang berendam, dikenakan tarif sebesar Rp 10.000 per 30 menit. Hal ini dinilai murah oleh warga perkotaan, baik dari dalam kota maupun yang berasal dari luar kota, seperti Makassar yang pada akhirnya mengetahui juga adanya terapi ikan di Leang Kassi. Di Makassar sendiri pada beberapa mall, hadir juga terapi ikan dengan tariff sekitar Rp 80.000 sampai Rp 100.000,- per 60 menitnya.

Hadirnya Terapi ikan di Leang Kassi dengan sendirinya memiliki manfaat ganda yang dirasakan bagi masyarakat dan para pengunjung, yaitu semakin dikenalnya obyek wisata prasejarah Leang Kassi dan leang prasejarah disekitarnya. Hanya saja, membludaknya pengunjung di obyek wisata prasejarah seperti itu biasanya dibarengi dengan maraknya perbuatan vandalisme, mencoret-coreti dinding gua, pohon, sampai membuang sampah dalam lingkungan obyek wisata, termasuk di dalam gua. Semoga saja kebutuhan kita untuk refreshing dan berekreasi tidak berdampak buruk terhadap upaya pelestarian dan rehabilitasi lingkungan dimanapun kita berada. (*).

Like it? Share it!

Leave A Response