Mengapa harus mondok di Pesantren?

by Penjaga Putri IMMIM | Minggu, Mar 17, 2019 | 144 views
Para santri di Ponpes Modern Putra IMMIM, Moncongloe, Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Para santri di Ponpes Modern Putra IMMIM, Moncongloe, Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Oleh:  Dra Nurhudayah

SUATU  Pagi di Kampus Universitas Hasanuddin (UNHAS):

Q: “Pak, anaknya masuk UNHAS?”
A: “Iya pak, Alhamdulillah. Anak bapak juga?

”Q: “Iya pak, anak saya sekolah di SMA Favorit di  ********, masuk UNHAS tanpa test, saya sangat bangga dengan sekolah anak saya itu. Kalau  anak bapak dari SMA Favorit mana?”
A: “Anak saya dari Pondok Pesantren.  Dia 6 tahun belajar dan mondok di Pesantren dan Alhamdulillah sekarang diterima di UNHAS tanpa test juga”

Q: “Lah, memangnya ada anak  pesantren bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN)??? Bukannya orang pesantren hanya bisa kuliah jurusan Tarbiyah atau Syariah di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) atau di Mesir???”
A: “Itulah bedanya anak pesantren dengan yang tidak pesantren, anak kami bisa masuk jurusan umum apa saja di PTN, sementara anak bapak hanya masuk jurusan umum dan tidak bisa masuk jurusan syariah, kalaupun bisa ditanggung anak bapak stress sebelum kuliah hehehe…”

Para santriwati di Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep. (foto: ist/palontaraq)

Para santriwati di Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep. (foto: ist/palontaraq)

Para santriwati Putri IMMIM usai mengikuti Diklatsar PMR. (foto: ist/palontaraq)

Para santriwati Putri IMMIM usai mengikuti Diklatsar PMR. (foto: ist/palontaraq)

Q: “Saya pikir Pondok Pesantren hanya untuk menjadikan anak jadi guru agama saja”
A: “Anak lulusan pesantren, bisa jadi apa saja, pak. Bisa jadi guru, pengusaha, ilmuwan, dan profesional lainnya. Jadi seyogyanya tidak akan ada anak pesantren yang akan nganggur. Karena paling tidak dia bisa jadi imam di masjid dan guru ngaji di kampungnya. Kelak ia akan jadi imam buat keluarganya dan bisa jadi wasilah pahala surga buat kedua orangtuanya karena kesalehan, adab dan amalnya. Anak bapak bisa ngaji?

”Q: “Anak saya belum bisa ngaji dan shalat. Waktunya habis buat les di sekolahnya… (sedih)”
A: “Anak bapak mengusai berapa bahasa asing?”

Q: “Hanya bisa bahasa Indonesia. Kalo anak bapak?”
A: “Alhamdulillah anak saya fasih 2 bahasa asing mainstream, yaitu Inggris dan Arab”.

Q: “Oh… ternyata Pondok Pesantren itu tidak kuno ya, pak, bahkan lebih baik dari sekolah favorit anak saya”.
A: “Alhamdulillah bapak sudah paham!”

Q: “Oya, bapak darimana dan kerja dimana?”
A: “Saya dari Pangkep. Alhamdulillah pernah bekerja di perusahaan pertambangan lebih dari 12 tahun”.

Q: “Wah mantep sekali, dulu sekolah di SMA mana?”
A: “Saya alumni Pesantren…”

Q: “Oh… di Perusahaan Migas bagian Kerohanian Islam ya pak?, soalnya bapak, kan dari Pondok Pesantren
A: “Alhamdulillah posisi akhir saya sebelum mundur jadi orang gajian adalah sebagai Deputy Area Manager Perusahaan Migas Asing yang pegawainya asing juga”

Q: “Oh lulusan Pondok Pesantren bisa kerja di Perusahaan Migas juga, yah?”
A: “Nah itulah lagi-lagi keunikan Alumni Pesantren…”
Q: “Owhhh….. (Diem tertunduk)”

***

Perbincangan dua orangtua siswa diatas adalah percakapan umum yang masih sering terjadi karena ketidak-tahuan tentang Pondok Pesantren.  Di satu sisi ada orangtua yang mengeluarkan begitu banyak uang untuk menyekolahkan anaknya di sekolah unggulan, disisi lain tetap ada orangtua yang tetap membanggakan anaknya dapat betah belajar dan menuntut ilmu di pesantren.

“Kalau mau punya anak bermental kuat, orangtua-nya harus lebih kuat. Punya anak itu jangan hanya sekedar sholeh tapi juga bermanfaat untuk umat, orangtua harus berjuang lebih ikhlas.. ikhlas.. ikhlas”, demikianlah pesan KH Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Pesantren  Modern Gontor.

Pak Kiai Sahal mengingatkan para orang tua agar mendorong anaknya masuk pesantren.  Menyekolahkan anak di Pesantren merupakan modal yang sangat baik bagi orangtua, baik untuk kehidupan dunianya, maupun untuk kebaikan hidupnya di akherat.

Prof DR. Nasaruddin Umar di acara Milad IMMIM. (foto: ist/palontaraq)

Prof DR. Nasaruddin Umar di acara Milad IMMIM. (foto: ist/palontaraq)

“Anak-anakmu di pondok pesantren tidak akan mati karena kelaparan, tidak akan bodoh karena tidak ikut les ini dan itu, tidak akan terbelakang karena tidak pegang “gadget”. Insya Allah anakmu akan dijaga langsung oleh Allah karena sebagaimana janji Allah yang akan menjaga Alqur’an.. yakin.. yakin, dan harus yakin,” ujar Kiai Sahal.

Ada yang banyak alasan mengapa harus memotivasi anak untuk mondok di Pesantren.  Selain mendapatkan pengetahuan umum, sebagaimana halnya didapatkannya bagi siswa (i) yang bersekolah di sekolah umum, juga mendapatkan pengetahuan keagamaan lebih banyak dan lebih baik.

Di Pondok Pesantren, juga tumbuh mentalitas anak dengan tangguh dan tahan banting. Di Pesantren, juga lebih banyak mendapatkan kegiatan ekstrakokurikuler dan kemampuan berbahasa asing lebih baik.

Bagi para orang tua, lebih baik bagi kita  menangis karena berpisah sementara  dengan anak karena menuntut ilmu agama, daripada kamu nanti menangis karena anak-anak lalai dari urusan akhirat.  Jadi wali santri itu harus punya 5 sifat dan sikap, yaitu TITIP, yaitu:

Pertama,  Tega. Harus tega, harus tega, harus tega, harus percaya kalau di Pondok Pesantren anakmu itu dididik bukan dibuang. Harus tega, karena pesantren adalah medan pendidikan dan perjuangan.

Guru dan santri di Pesantren. (foto: ist/palontaraq)

Guru dan santri di Pesantren. (foto: ist/palontaraq)

Selain harus memiliki kecakapan berbahasa asing dan piawai dalam berbagai kesenian, para santriwati juga bisa mahir memasak (praktek prakarya). (foto: ist/palontaraq)

Selain harus memiliki kecakapan berbahasa asing, cakap di laboratorium dan piawai dalam berbagai kegiatan kesenian, para santriwati juga bisa mahir memasak (praktek prakarya). (foto: ist/palontaraq)

Kedua,  Ikhlas. Harus ikhlas, harus sadar kalau anakmu itu tidak akan dibiarkan terlantar. Harus ikhlas anakmu dididik, dilatih, ditempa, diurus, ditugaskan, disuruh hafalan, dan sebagainya. Kalau merasa anakmu dibuat tidak senyaman hidup dirumah, ambil anakmu sekarang juga!

Ketiga,  Tawakkal. Setelah itu serahkan sama Allah. Berdo’alah! Karena pesantren bukan tukang sulap, yang bisa merubah begitu saja santri-santrinya, maka berdo’alah.

Keempat,  Ikhtiar. Dana dan do’a. Ini adalah kewajiban. Amanat.

Kelima,  Percaya. Percayalah bahwa anak kalian ini dibina, betul-betul DIBINA. Apa yang mereka dapatkan disini adalah bentuk pembinaan. Jadi kalau melihat anak-anakmu diperlakukan bagaimanapun, percayalah itu adalah bentuk pembinaan. Itu adalah pendidikan.

Jadi, jangan SALAH PAHAM!  Jangan SALAH SIKAP! Jangan SALAH PERSEPSI!

Mari membiasakan anak beribadah dengan menuntut ilmu.  Ikhlaskan anak-anak kita  selalu diajarkan untuk mendo’akan ibu-bapaknya. Mereka pergi untuk kembali. Bertemulah jarang-jarang agar CINTA makin berkembang. (*)

 

Penulis:  Dra Nurhudayah, Pengasuh pada Ponpes Putri IMMIM Pangkep.

 

Like it? Share it!

Leave A Response