Edukasi Prakarya Kuliner Latih Kemandirian Santriwati

Prakarya Kuliner Latih Kemandirian Santriwati

-

- Advertisment -

Kegiatan Prakarya Kuliner Santriwati Putri IMMIM. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Kegiatan Prakarya Kuliner Santriwati Putri IMMIM. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Laporan:  Ummu Adil

PANGKEP,PALONTARAQ.ID–Pondok Pesantren memang berbeda dengan sekolah umum. Selain karena para santrinya lebih banyak menerima mata pelajaran, khususnya ilmu-ilmu keislaman atau kepesantrenan, juga karena memiliki banyak kreasi dan praktek di lapangan untuk membuat santri lebih mandiri.

Santri di Pondok Pesantren dituntut untuk mengasah talenta, karakter dan pengetahuannya sebagai bekal kemandirian dan kewirausahaan. Salah satu upaya membentuk santri lebih mandiri tersebut adalah membebaskannya berkreasi dalam Prakarya Kuliner.

Hal ini diungkapkan Guru Prakarya di Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep, Desy Reskiani, Senin (26/11), bahwa pihaknya sebagai guru memberikan kebebasan kepada santriwati untuk merencanakan apa saja yang mau ditampilkan dengan memanfaatkan bahan olahan yang ada, yang disiapkan sendiri oleh santri, kemudian para guru lainnya diundang untuk mencicipi sekaligus memberikan penilaian.

Kuliner hasil kreasi santri putri immim praktek prakarya. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Kuliner hasil kreasi santri putri immim praktek prakarya. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Para santri kelas XII ini lagi berkreasi membuat bahan Es Pisang Ijo. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Para santri kelas XII ini lagi berkreasi membuat bahan Es Pisang Ijo. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Para santri kelas XII ini lagi berkreasi membuat bahan Saggara' Peppe. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Para santri kelas XII ini lagi berkreasi membuat bahan Saggara’ Peppe. (foto: mfaridwm/palontaraq)

“Silakan berkreasi. Kami hanya melakukan panduan terkait kuliner yang baik ditampilkan, para santri merencanakan, menyiapkan bahan serta mengolahnya sendiri. Dan kita lihat sendiri hasilnya cukup memuaskan, ada yang buat pisang ijo, gethuk, sanggara peppe, sanggara balanda’, dan kolak ubi. Tempat untuk berkreasi memasak dan mengolah kuliner inipun dipilih sendiri oleh santriwati, yaitu di ruang terbuka antara Mesjid dengan Ruang Tata Usaha Sekolah”, ujarnya.

Sementara itu, Dra Nurhudayah, Kepala Kepesantrenan, mengapresiasi kegiatan prakarya santriwati ini sebagai salah satu wujud kegiatan yang melatih kewirausahaan santri.

“Kalau saya lihat cara memasaknya mereka dan hasilnya, sangat baik dan memuaskan, baik dalam hal rasa, penyajian, maupun tampilan kulinernya. Saya rasa mereka punya bakat dan talenta berada di dapur, dan malahan bisa memunculkannya sebagai suatu wirausaha mandiri”, ungkapnya.

Para guru disajikan kuliner hasil kreasi santri dan diminta memberikan penilaian. (foto: mfaridwm)
Para guru disajikan kuliner hasil kreasi santri dan diminta memberikan penilaian. (foto: mfaridwm)

Kepala Kepesantrenan, Dra Nurhudayah dan Humas Pesantren, M. Farid mencoba hasil kreasi kuliner santriwati. (foto: azimah)
Kepala Kepesantrenan, Nurhudayah dan Humas Pesantren, M. Farid mencoba hasil kreasi kuliner santriwati. (foto: azimah)

Kegiatan Prakarya ini cukup seru kelihatannya. Salah seorang santri, Gadis Muthamainnah Helmi, bersemangat memberikan penjelasan kepada para guru tentang masakan dan kreasi kuliner dari teman-temannya, sementara santriwati yang lainnya, Ghefira, Islamiyah dan Ulfa Eman Rosi sibuk menyodorkan kertas kepada para gurunya agar memberikan penilaian mengenai hasil kreasi kuliner mereka.

Kegiatan Prakarya ini cukup memeriahkan suasana di lingkungan pesantren, hal yang sangat biasa terjadi sebagai dinamika pembelajaran dan bagian dari pendidikan karakter.

“Semoga para santriwati ini dapat mengambil pelajaran, kecakapan dan keterampilan dari kegiatan prakarya ini, apalagi sebagai seorang remaja putri yang nantinya bakal menjadi istri dan ibu rumah tangga, haruslah memang pandai memasak dan beraksi di dapur, namun disisi lain pengetahuannya memadai dalam membina keluarga sakinah nantinya”, ujar M. Farid, Humas Ponpes Putri IMMIM Pangkep. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Sekolah buka lagi?

Oleh: Ahmad Hadiwijaya, Dokter Anak/Korlap Relawan Covid-19 ALPUKAT PALONTARAQ.ID - Satu persatu fasilitas umum dibuka dan diaktifkan. Diawali dengan pembukaan...

Dua Perupa asal Pangkep Komentari Patung Sultan Hasanuddin

  Laporan: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Patung Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin yang sosok dan karakter wajahnya berbeda-beda bertebaran di beberapa titik...

Khutbah Idul Fitri 1441 H: Pemimpin yang Menyengsarakan Rakyat

Oleh: Ustadz Miftahul Ihsan, Lc إِنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ...

Berpisah dengan Ramadan

  Oleh: Habib Quraisy Baharun Related Post: Doa Rasulullah SAW ketika Berpisah dengan Ramadan PALONTARAQ.ID - Akhirnya sampailah kita dipenghujung Ramadhan 1441...

Fatwa MUI tentang Panduan Kaifiat Shalat Idul Fitri saat Pandemi Covid-19

  Laporan: Etta Adil  Related Post: Khutbah Idul Fitri 1440 H: Madrasah Ramadan, Membentuk Pribadi yang Tunduk Syariat Allah PALONTARAQ.ID - Ditengah...

Do’a Puasa Ramadan Hari Ke-30

  Oleh: Muhammad Farid Wajdi Tulisan sebelumnya: Do'a Puasa Ramadan Hari Ke-29 PALONTARAQ.ID - Entah harus bersyukur, antara bahagia dan sedih. Kita...

Must read

Dua Perupa asal Pangkep Komentari Patung Sultan Hasanuddin

  Laporan: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Patung Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin...

Sekolah buka lagi?

Oleh: Ahmad Hadiwijaya, Dokter Anak/Korlap Relawan Covid-19 ALPUKAT PALONTARAQ.ID -...
- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you