Oleh: Etta Adil *)
PALONTARAQ.ID – Sebagai seorang “santri” yang telah mengabdi dan berinteraksi dalam lingkungan pondok pesantren, selama lebih dari 16 tahun terakhir, banyak ilmu, pemahaman dan khazanah keilmuan Islam yang diakrabi. Disisi lain, semakin menyadarkan diri bahwa sedemikian luasnya ilmu Allah, sehingga diri ini semakin termotivasi untuk tidak pernah berhenti belajar, belajar, dan belajar.
Semoga kesemuanya dapat menjadi bekal dan ladang pahala jariyah kelak ketika amal dihisab di yaumil akhir. Ya, masuk surga lewat jalur sebagai “thalabul ilmi”, penuntut ilmu yang semakin malu menjadi guru, jika tak bisa memberikan teladan dan pencerahan bagi lingkungan sekitar.
Pada hari yang berbahagia ini, Hari Santri Nasional – 22 Oktober 2026, penulis menorehkan satu karya puisi akrostik atas nama diri sendiri, “Muhammad Farid Wajdi” sebagai persembahan untuk Guru (نُورُ الْعِلْمِ وَأَخْلَاقُ الْمُعَلِّمِ). Ya, puisi ini buat semua guruku/ustadzuna yang pernah mengajarkanku kebaikan dan khazanah keilmuan Islam. Puisi Akrostik ini terinspirasi dari kaidah bahasa Arab, istilah nahwu-shorof, balaghah, dan khazanah ungkapan masyhur di kalangan santri.
Nurul Ilmi wa Akhlaqul Muallimi – Cahaya Ilmu dan Akhlak, Puisi Persembahan Buat Guruku
M — مُعَلِّمُنَا، يَا مَنْ عَلَّمَنَا حُرُوفَ الْعِلْمِ
Mu‘allimunā, yā man ‘allamanā ḥurūfal-‘ilmi
Wahai guru, engkau ajarkan huruf-huruf ilmu, Dari mubtada’ hingga khabar, dari lafẓ hingga ma‘nā, membimbing akal mengenal makna, Menuntun hati agar tak kehilangan cahaya.
U — أُسْتَاذُنَا، أَنْتَ سِرَاجٌ يُضِيءُ طَرِيقَنَا
Ustāżunā, anta sirājun yuḍī’u ṭarīqanā
Wahai ustadzku, engkaulah pelita perjalanan. Laksana isim fā‘il yang terus melakukan kebaikan, menyinari jalan para pencari pengetahuan, menghidupkan ‘ilm dengan ‘amal dan keteladanan.
H — هُوَ الْعِلْمُ نُورٌ وَالْجَهْلُ ظَلَامٌ
Huwal-‘ilmu nūrun wal-jahlu ẓalāmun
Ilmu adalah cahaya, kebodohan adalah gulita. Demikian hikmah yang masyhur di dunia santri. Engkau ajarkan bukan sekadar naḥwu dan ṣhorof,
A — أَدَبٌ قَبْلَ الْعِلْمِ
Adabun qablal-‘ilmi
Adab sebelum ilmu, itulah pesan yang utama, Sebab i‘rāb dapat berubah karena ‘āmil. Namun kemuliaan akhlak lahir dari jiwa, Yang senantiasa tunduk kepada kebenaran dan hikmah.
M — مَنْ جَدَّ وَجَدَ
Man jadda wajada
Siapa bersungguh-sungguh, niscaya mendapatkan, Engkau tanamkan semangat dalam setiap pelajaran. Bahwa ṭalabul-‘ilmi memerlukan kesabaran, Dan setiap kesulitan menyimpan jalan kemudahan.
M — مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ
Man ṣabara ẓafira
Siapa bersabar, niscaya memperoleh keberhasilan, Engkau ajarkan ketekunan dalam setiap perjuangan. Laksana fi‘il muḍāri‘ yang terus berkelanjutan, menuntut ilmu sepanjang hayat kehidupan.
A — الْعِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَرٍ
Al-‘ilmu bilā ‘amalin kasy-syajari bilā ṡamarin
Ilmu tanpa amal bagai pohon tanpa buah, Kata-kata indah tak cukup bila tak menjadi arah. Maka engkau mendidik dengan keteladanan,
Agar ilmu berbuah manfaat bagi kehidupan.
D — دَوَامُ الْعِلْمِ بِالْمُذَاكَرَةِ
Dawāmul-‘ilmi bil-mużākarati
Ilmu terpelihara dengan mengulang dan berdiskusi, Melalui murāja‘ah, munāẓarah, dan talaqqi. Engkau membuka pintu bagi pikiran yang kritis, Agar santri tumbuh berilmu, santun, dan dinamis.
F — فَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
Fauqa kulli żī ‘ilmin ‘alīm
Di atas setiap orang berilmu, ada Yang Maha Mengetahui, Maka jangan sombong dengan ilmu yang dimiliki. Engkau ajarkan tawāḍu‘ sebagai perhiasan diri, sebab ilmu sejati mendekatkan insan kepada Ilahi.
A — الْأَدَبُ زِينَةُ الْعِلْمِ
Al-adabu zīnatul-‘ilmi
Adab adalah perhiasan ilmu, Menghias tutur kata, perilaku, dan kalbu. Engkau bukan sekadar pengajar di ruang kelas, melainkan pembimbing jiwa agar hidup lebih berkelas.
R — رِضَا الْوَالِدَيْنِ وَاحْتِرَامُ الْمُعَلِّمِ
Riḍal-wālidayni waḥtirāmul-mu‘allimi
Ridha orang tua dan hormat kepada guru, menjadi jalan keberkahan bagi pencari ilmu. Semoga setiap huruf yang engkau ajarkan,
Menjadi amal jariyah yang terus dialirkan.
I — إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Innamal-a‘mālu bin-niyyāti
Sesungguhnya amal bergantung pada niat, Maka luruskan hati dalam setiap khidmat. Mengajar bukan semata menyampaikan kalimat,
Melainkan menanam kebaikan hingga akhir hayat.
D — دُعَاءُ الطَّالِبِ لِمُعَلِّمِهِ
Du‘ā’ut-ṭālibi li-mu‘allimihi
Doa santri untuk gurunya tak pernah usai. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan damai, mengangkat derajatmu dengan ilmu yang bermanfaat, dan membalas pengabdianmu dengan pahala berlipat.
W — وَاجْعَلْ عِلْمَنَا نُورًا يَهْدِينَا
Waj‘al ‘ilmanā nūran yahdīnā
Jadikanlah ilmu kami cahaya yang menerangi jalan. Bukan sekadar lafẓ yang terucap di lisan, tetapi ma‘nā yang hidup dalam pengamalan. Menjadi pelita santri sepanjang perjalanan.
A — أَنْتَ مُعَلِّمٌ وَالْعِلْمُ أَمَانَةٌ
Anta mu‘allimun wal-‘ilmu amānah
Engkau seorang guru, dan ilmu adalah amanah, yang kau emban dengan sabar, ikhlas, dan tabah. Bukan hanya mengajarkan kitāb dan qawā‘id, tetapi menanam akhlak agar hidup lebih maslahat.
J — جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا يَا أُسْتَاذَنَا
Jazākallāhu khairan yā ustāżanā
Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai guru, atas setiap ilmu yang kau tanam di kalbu. Setiap nasihat menjadi ṣadaqah jāriyah, setiap pengabdian berbuah pahala yang melimpah.
D — دُمْتَ مِصْبَاحًا لِطُلَّابِ الْعِلْمِ
Dumta miṣbāḥan li-ṭullābil-‘ilmi
Semoga engkau senantiasa menjadi pelita, bagi para santri yang mencari makna. Membimbing mereka dengan ḥikmah dan adab,
mengantar generasi menuju ilmu yang beradab.
I — إِلَى اللهِ نَرْجِعُ وَبِالْعِلْمِ نَرْتَقِي
Ilallāhi narji‘u wa bil-‘ilmi nartaqī
Kepada Allah kita kembali, dengan ilmu kita meninggi, bukan untuk menyombongkan diri, tetapi memperbaiki. Semoga jejak pengabdianmu tetap abadi, menjadi warisan kebaikan, wahai para guru dan ustadzku.
يَا رَبِّ، بَارِكْ فِي مُعَلِّمِنَا، وَانْفَعْنَا بِعِلْمِهِ، وَاجْزِهِ عَنَّا خَيْرَ الْجَزَاءِ
Yā Rabb, Allahumma bārik fī mu‘alliminā, wanfa‘nā bi‘ilmihi, wajzihi ‘annā khairal-jazā’. Ya Allah, berkahilah guru dan ustadz kami, manfaatkanlah kami dengan ilmunya, dan balaslah pengabdiannya dengan sebaik-baik balasan.
Demikianlah puisi akrostik ini sebagai sebuah puisi persembahan buat guruku/ustadz kami yang selama ini telah mengakrabi kami mengarungi lautan kehidupan, di dalam pondok maupun di luar pondok pesantren. Semoga dapat menjadi bahan renungan dan refleksi bersama. Barakallahu fiikum. (*)
(* Etta Adil, “Santri Abadi” dalam Penjara Suci


