Adab-adab Penuntut Ilmu dan Kalam Para Ulama

by Penulis Palontaraq | Minggu, Des 23, 2018 | 249 views
Muslimah Penuntut Ilmu - santriwati Pesantren Modern Putri IMMIM (foto: mfaridwm/palontaraq)

Muslimah Penuntut Ilmu – santriwati Pesantren Modern Putri IMMIM (foto: mfaridwm/palontaraq)

Oleh:  Ummu ‘Adil

PALONTARAQ.ID – SEGALA puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah SAW, Amma ba’du. Ikhwah dan akhwat sekalian, Menuntut ilmu (Agama) adalah tugas yang sangat mulia. Rasulullah SAW menegaskan, “Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka Allah akan pahamkan dia dalam hal agamanya.” (HR. Bukhari).

Oleh karenanya sudah seharusnya seorang muslim melakukan yang terbaik dalam menimba ilmu (agama). Untuk bisa meraih keberkahan ilmu dan kebaikan agama yang kita pelajari, sangat penting untuk setiap muslim memperhatikan Adab-adab ilmu dan perkataan ulama tentang adab-adab menuntut ilmu agar ilmu yang kita pelajari membuahkan barakah dan rahmah dari Allah SWT.

Ilustrasi. Foto: duniatulismenulis.

Ilustrasi. Foto: duniatulismenulis.

Berikut ini beberapa adab menuntut ilmu yang disadur dari Kitab Thiibul Kalim al-Muntaqa Min Kitaab al-‘Ilm Li Ibni Utsaimin karya Abu Juwairiyah.

Lihat juga: Perintah dan Keutamaan Menuntut Ilmu Agama

Adab Pertama, Mengikhlaskan Niat hanya untuk Allah SWT

“Maka ketahuilah, sesungguhnya tidak ada sesembahan yang hak selain Allah dan minta ampunlah atas dosa-dosamu.” (QS. Muhammad: 19).

Pujian terhadap ahlul ilmu (para ulama) di dalam al-Qur’an sangat ma’ruf. Apabila Allah memuji atau memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu bernilai ibadah. Karena itu seorang penuntut ilmu harus mengikhlaskan diri segala aktifitas belajarnya ilmu hanya untuk mencapai keridhaan Allah SWT.

Apabila dalam menuntut ilmu seseorang mengharapkan untuk memperoleh persaksian/gelar demi mencari kedudukan dunia atau jabatan maka Rasulullah SAW telah bersabda, “Barang siapa yang menuntut ilmu yang seharusnya hanya ditujukan untuk mencari wajah Allah ‘azza wa jalla tetapi dia justru berniat untuk meraih bagian kehidupan dunia maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.”

Demikian sabda Rasulullah SAW kepada para penuntut ilmu agar senantiasa meluruskan dan memperbaiki niatnya. Jika mencari keridhaan manusia dari ilmunya, maka ancamannya  tidak bisa mencium aromanya dan ini adalah ancaman yang sangat keras.

Akan tetapi apabila seseorang yang menuntut ilmu memiliki niat memperoleh persaksian/ijazah/gelar sebagai sarana agar bisa memberikan manfaat kepada Orang-orang dengan mengajarkan ilmu, pengajian dan sebagainya, maka niatnya bagus dan tidak bermasalah, karena ini adalah niat yang benar.

Lihat juga:  UAS: Sombong kepada Orang Sombong, itu Sedekah!

Adab Kedua, Bertujuan untuk Mengangkat Kebodohan Diri Sendiri dan Orang Lain

Dia berniat dalam menuntut ilmu demi mengangkat kebodohan dirinya sendiri dan orang lain. Sebab dasarnya manusia itu bodoh. Firman Allah SWT, “Allah-lah yang telah mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan kemudian Allah ciptakan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati supaya kalian bersyukur.” (QS. An Nahl: 78).

Demikian pula niatkanlah untuk mengangkat kebodohan dari umat, hal itu bisa dilakukan dengan pengajaran melalui berbagai macam sarana, supaya orang-orang bisa memetik manfaat dari ilmu yang telah dipelajari.

Adab Ketiga, Bermaksud Membela Syariat

Dalam menuntut ilmu itu harus berniat untuk membela syariat, sebab tidak ada yang bisa membela syariat kecuali si pembawa syariat. Jika seorang ahlul bid’ah datang ke perpustakaan yang penuh berisi kitab-kitab syariat yang jumlahnya sulit untuk dihitung lantas dia berbicara melontarkan kebid’ahannya dan menyatakannya dengan lantang, maka tidak ada sebuah kitabpun yang bisa membantahnya.

Akan tetapi apabila dia berbicara dengan kebid’ahannya di sisi orang yang berilmu demi menyatakannya maka si penuntut ilmu itu akan bisa membantahnya dan menolak perkataannya dengan dalil Al-Qur’an dan as-Sunnah.

Oleh sebab itu penulis katakan bahwa salah satu hal yang harus senantiasa dipelihara di dalam hati oleh penuntut ilmu adalah niat untuk membela syariat dan justru disitulah peran ulama dinantikan.

Lihat juga:  Ciri Orang Sombong dan Tak Mau Dinasehati

Adab Keempat, Berlapang Dada dalam Masalah Khilaf

Seorang penuntut ilmu (agama) harus berlapang dada dan ikhlas terhadap masalah-masalah khilafiyah dari hasil ijtihad. Perselisihan diantara para ulama itu bisa jadi terjadi dalam perkara yang tidak boleh untuk berijtihad, maka kalau seperti ini maka perkaranya jelas. Yang demikian itu tidak ada seorangpun yang menyelisihinya diberikan uzur.

Perselisihan juga bisa terjadi dalam permasalahan yang boleh berijtihad di dalamnya, karena itu orang yang menyelisihi kebenaran diberikan uzur. Perkataan tidak bisa menjadi argumen untuk menjatuhkan orang yang berbeda pendapat dalam masalah itu, seandainya berpendapat demikian maka niscaya perkataannya adalah argumen yang bisa menjatuhkan.

Perselisihan yang dimaksud disini adalah pada perkara-perkara yang diperbolehkan bagi akal untuk berijtihad di dalamnya dan manusia boleh berbeda pendapat tentangnya. Tentang orang yang menyelisihi jalan salaf seperti dalam permasalahan akidah maka tidak seorangpun diperbolehkan, akan tetapi hanya pada permasalahan lain yang termasuk medan pikiran.

Menjadi kewajiban para penuntut ilmu untuk tetap memelihara persaudaraan meskipun mereka berselisih dalam sebagian permasalahan furu’iyyah (cabang), tapi hendaknya mengajak saudaranya untuk berdiskusi dengan baik dari sisi ilmu dan mencari keridhaan Allah SWT.

“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berselisih yang akan menceraiberaikan dan membuat kekuatan kalian melemah. Dan bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. al-Anfaal: 46)

Lihat juga:  Kondisi Manusia di Alam Kubur

Adab Kelima, Beramal Dengan Ilmu

Seorang penuntut ilmu wajib mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya, baik itu akidah, ibadah, akhlaq, adab, maupun muamalah. Seorang yang mengemban ilmu adalah ibarat orang yang membawa senjatanya, bisa jadi senjatanya itu dipakai untuk membela dirinya atau justru untuk membinasakannya.

Rasulullah SAW bersabda, “al-Qur’an adalah hujjah untukmu atau untuk menjatuhkanmu.”

Adab Keenam, Berdakwah di Jalan Allah

Seorang penuntut ilmu adalah penyeru kepada agama Allah SWT, berdakwah pada setiap kesempatan dan dimana saja.

Adab Ketujuh, Bersikap Bijaksana (Hikmah)

Seorang penuntut ilmu adalah yang menghiasi dirinya dengan kebijaksanaan. Allah SWT berfirman, “Hikmah itu diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan barang siapa yang diberi hikmah sungguh telah diberi kebaikan yang sangat banyak.” (QS. al-Baqarah: 269).

Yang dimaksud hikmah ialah seorang penuntut ilmu menjadi pembimbing bagi orang lain dengan akhlak dan dakwahnya mengajak jamaah mengikuti ajaran agama Allah SWT, serta berbicara dengan setiap orang sesuai dengan keadaannya.

Firman Allah SWT, “Dan barang siapa yang diberikan hikmah sungguh telah diberi kebaikan yang amat banyak.” Seorang yang bijak (Hakiim) adalah yang dapat menempatkan segala sesuatu sesuai kedudukannya masing-masing.

Allah SWT menyebutkan tingkatan dakwah di dalam firman-Nya yang artinya, “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. an-Nahl: 125).

“Dan janganlah kamu mendebat ahlu kitab kecuali dengan cara yang lebih baik kecuali kepada orang-orang zhalim diantara mereka.” (QS. al-‘Ankabuut: 46).

Maka hendaknya penuntut ilmu memilih cara dakwah yang lebih mudah diterima oleh pemahaman orang.

Lihat juga: Hukum Menyimpan Uang di Bank

Adab Kedelapan, Bersabar Dalam Menuntut Ilmu

Seorang penuntut ilmu harus sabar dalam belajar, tidak terputus di tengah jalan dan merasa bosan, tetapi hendaknya konsisten (istiqamah) sesuai kemampuannya dan bersabar dalam meraih ilmu, tidak cepat jemu dan putus asa hingga pada akhirnya meninggalkan belajar.

Adab Kesembilan, Menghormati Ulama dan Memosisikan sesuai Kedudukannya

Sudah menjadi kewajiban para penuntut ilmu untuk menghormati para ulama dan memosisikan mereka sesuai kedudukannya, melapangkan dada mereka dalam menghadapi perselisihan yang ada di antara para ulama dan selain mereka.

Adab Kesepuluh, Berpegang Teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah

Wajib bagi penuntut ilmu untuk memiliki semangat penuh guna meraih ilmu dan mempelajarinya dari pokok-pokoknya, yaitu perkara-perkara yang tidak akan tercapai kebahagiaan kecuali dengannya, yaitu Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah yang shahihah.

Lihat juga: Hukum Berqurban dalam Islam

Adab Kesebelas, Meneliti Kebenaran Berita dan Bersikap Sabar

Salah satu adab terpenting yang harus dimiliki oleh penuntut ilmu adalah tatsabbut (meneliti kebenaran berita), dia harus meneliti kebenaran berita yang disampaikan kepadanya serta mengecek efek hukum yang muncul karena berita tersebut.

Di sana ada perbedaan antara tsabaat dan tatsabbut, keduanya adalah dua hal yang berlainan walaupun memiliki lafazh yang mirip tapi maknanya berbeda. Ats tsabaat artinya bersabar, tabah dan tidak merasa bosan dan putus asa. Sehingga tidak semestinya dia mengambil sebagian pembahasan dari sebuah kitab atau suatu bagian dari cabang ilmu lantas ditinggalkannya begitu saja.

Tindakan semacam ini dapat membahayakan bagi penuntut ilmu serta membuang-buang waktunya tanpa faedah. Cara seperti ini tidak akan membuahkan ilmu, dan walaupun mendapatkan ilmu, maka yang diperolehnya adalah kumpulan permasalahan saja dan bukan pokok dan landasan pemahaman.

Kalam Para Ulama

Selain Adab-adab yang perlu diperhatikan seorang penuntut ilmu, maka perhatikanlah pula apa saja perkataan/kalam para ulama tentang Adab dan Ilmu dibawah ini:

Ibnu Mubarak mengatakan, “Apa yang kami catat dari Adab Imam Malik lebih dari apa yang kami pelajari dan ilmunya”.

قال ابن المبارك رحمه الله: “تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً،وتعلمنا العلم عشرين

Artinya:  “Kami mempelajari Adab selama 30 tahun dan kami mempelajari Ilmu selama 20 tahun.”

Ibnu Sirin mengatakan, “Dulu kami mempelajari Bimbingan Adab sebagaimana mempelajari Ilmu”.

 

وقال ابن سرين: “كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم

 

Ulama lainnya, Ibnu Mubarok meriwayatkan dari Ibnul Hasan, Beliau mengatakan, “Kami lebih membutuhkan banyak Adab daripada banyaknya Hadits”.

 

وروى ابن المبارك عن ابن الحسن قال: “نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من حديث

 

Dalam Kitab Siyar A’lam an-Nubala, karya Ad-Dzahabi dari Abdullah bin Wahab, Beliau mengatakan, “Apa yang kami catat dari Adab Imam Malik lebih dari apa yang kami pelajari dari Ilmunya”.

 

وجاء في السير للذهبي عن عبد الله بن وهب قال: ما نقلنا من أدب مالك أكثر مما تعلمنا من علمه

 

Dan sungguh Ulama Salaf mengarahkan Muridnya untuk mempelajari Adab sebelum memasuki Ilmu tingkat lanjut dan Khilafiyah.

 

ولقد كان أئمة السلف يوجهون طلابهم إلى تعلم الأدب قبل الخوض في غوالي العلم والخلاف، فهذا إمام دار

 

Dan ini dilakukan oleh Imam Darul Hijrah (Imam Malik) ketika mengatakan kepada pemuda Quraiys, “Wahai anak saudaraku, pelajarilah Adab sebelum mempelajari Ilmu.

Demikianlah beberapa kalam ulama tentang Pentingnya Belajar Adab bagi seorang penuntut ilmu. Hal ini tentu dimaksudkan sebagai upaya menanam kebaikan, salah satunya terhadap guru/ulama(ahlul ilmu) sekaligus pengingat untuk selalu menjaga Hak Allah, Menuai Penjagaan Allah SWT.

Rasulullah SAW pernah mengajarkan pada Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– sebuah kalimat, “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Tirmidzi no. 2516 dan Ahmad 1/303) serta berlaku Jujur dalam mempelajari ilmu.

Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607)

Begitu pentingnya Adab ini untuk dilakukan, karena sudah tergesernya zaman karena tidak diperhatikannya Adab dalam belajar dan menuntut ilmu (agama), dan yang terjadi tidak Barokahnya Ilmu-Ilmu yang telah dipelajarinya.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response